…bukan. kalo dilihat dari judulnya, kesannya kayak aku bakal ceramah soal kesehatan di sini. bukan.. aku nggak sesehat itu. aku bahkan masih ngerokok 7 batang dalam 12 jam.

jadi.. aku udah cukup lama kenal sama cowok bernama Willy, dan maksud dari ADEK itu adalah– adik (iya, tau.. nggak jelas banget). entah kenapa, baru akhir2 ini aku sadar kalau willy itu lebih kelihatan kayak kai. sama manisnya, sama lembutnya, sama penakutnya. walau dia kelihatan kayak kai, jelas aku nggak akan berani meluk2 dia.. bisa2 aku digebuk sama kai pake roti prancis.

beberapa hari yang lalu, hari jumat, aku ngobrol sama dia di starbucks. dia curhat cukup banyak padaku.. mungkin karena cuma berdua, dia jadi lebih leluasa ngomong. salah satu hal yang dia curhatin adalah ‘dia pingin jadi berwibawa’. aku nggak tau dia kesambet apa sampe2 bilang aku berwibawa.

dari yang aku lihat dari anak ini, dia jelas penakut. bukan penakut dalam artian dia takut hantu atau apa. tapi dia selalu melangkah dengan kehati2an super. dia orangnya juga sangat religius. jadi segala sesuatunya dia jalankan sesuai perintah Tuhan nya. nggak salah, sih. dia berhati2, baik, religius, dan mendedikasikan seluruh hidupnya pada Tuhannya. nggak ada yang salah dari itu.

tapi, berbeda kalau dia menginginkan sesuatu yang lain.. berwibawa. apa sih, berwibawa itu? berwibawa adalah berpikiran terbuka meskipun memiliki opini sendiri (menurutku).

nggak semua orang bisa berwibawa tanpa pengalaman pahit (yang tanpa pengalaman pahit, biasanya yang bisa melihat dari berbagai perspektif atau pada dasarnya memang punya pikiran terbuka). mungkin, menurutku, termasuk kayak willy. dia anaknya terlalu polos, sampai2 dia nggak tau gimana cara berwibawa (karena perspektifnya masih sempit dan naif). dan aku bikin blog ini bukan cuma buat willy, tapi buat orang2 yang punya tujuan sama, tapi nggak tau caranya.

 

kalau bertanya padaku, jawabanku pasti sangat ekstrim. aku nggak memaksa kalian melakukannya. dan kurasa, kalau kalian ingin melakukan saranku, sebelumnya, kalian harus cari teman sejati kalian untuk menarik kalian kalau2 kalian terjebak dan nggak bisa keluar. intinya, bikin persiapan sebelum kalian melakukan saranku. (aku juga biasanya memberikan saran kayak gini ke orang2 yang berada di dekatku/dalam jangkauanku aja)

saranku adalah:

kalau kalian memang ingin berwibawa, bagiku, ada satu jalan ekstrim.. yaitu dengan menjatuhkan diri kalian sendiri ke lubang hitam. banyak motivator2 memberikan masukan dan pandangan positif secara naif. motivator juga biasanya ngasih penyelesaian langsung pada jawabannya, bukan konsepnya. segala sesuatu, khususnya dalam belajar, konsep itu sangat dibutuhkan. konsep itu guidelines seseorang dalam mencapai hal2 tertentu.

konsep yang kuberikan di sini adalah: orang bisa berwibawa bila orang itu pernah merasakannya/punya pengalaman. orang berwibawa datang dari bawah, nggak bisa tau2 dia ada di atas dan disebut berwibawa. dan buat orang2 kayak willy, yang selalu menjaga langkahnya, jelas dia nggak pernah jatuh. dia selalu pegangan sama ‘tangan Tuhan’ sehingga nggak pernah terjerumus. sebenarnya, ini adalah hal yang bagus buat orang2 yang pingin menjadi berwibawa. mungkin step pertama adalah menjadi religius dan punya hubungan baik dengan Tuhan kalian masing2. intinya, kalian harus punya iman yang kuat (bukan fanatik).

setiap orang punya caranya sendiri untuk bangkit kembali dari ‘jatuh’nya. kebanyakan motivator cuma memberikan jawaban mereka aja. padahal, belum tentu jawabannya cocok sama orang lain. karena itu, maksud dari menjatuhkan diri adalah, kalian harus keluar dari comfort-zone kalian masing2, menjadi liar, jadi nakal, jadi bandel. lalu, dengan kereligiusan kalian, cobalah kalian cari jalan keluar kalian sendiri.

jalan yang kuberikan barusan sangat ekstrim dan aku juga nggak begitu yakin kalau jalan ini juga bekerja untuk sebagian besar orang. aku juga takut salah ngasih penjelasan sehingga ada salah paham.

oke, mari kuperjelas lagi maksudku.

 

ada berapa banyak orang di antara pembacaku yang sangat berhati2 dalam melangkah? berpegang teguh pada Tuhan, dan semacamnya? kurasa nggak banyak (karena aku di sini juga bahasnya bukan sesuatu yang religius :p).

kayak yang udah kubilang, orang berwibawa itu kebanyakan orang yang datang dari bawah. artinya, umunya, orang berwibawa menjadi berwibawa karena pernah berada di dasar lubang kehidupan, tapi suatu ketika, mereka bisa keluar dari sana dan tidak lagi menjadi sampah masyarakat. mereka punya berbagai pengalaman ‘terjerumus’. kayak pemakai narkoba, orang2 yang terjerumus ke seks bebas, dan semacamnya. orang2 yang berhasil keluar dengan caranya sendiri (punya keinginan keluar) atau ‘ditarik’ oleh Tuhan ke jalan yang benar, biasanya akan terlihat sangat berwibawa ketika bicara atau memberikan tanggapan. kenapa mereka bisa begitu? karena pengalaman mereka itu. karena mereka tau rasanya ketika berada di sisi lain kehidupan, makanya dia bisa memberi tanggapan tanpa mencerca sisi kehidupan tersebut.

jadi, maksudku menjatuhkan diri adalah mencari pengalaman. kalau kujelaskan lewat pengalamanku: aku lahir di keluarga yang nggak hangat. ayah tiriku preman, ibuku.. well, nggak bisa dibilang ibu. karena ayah tiriku preman, aku punya banyak pengalaman dengan kehidupan ‘terpuruk’ ini. aku minum, merokok, dan berjudi sejak kecil. aku pernah lihat orang bunuh diri, aku pernah lihat orang membunuh orang lain, aku pernah melihat ayahku menyiksa orang lain, dan lain semacamnya. aku juga pernah mencicipi narkoba. aku juga sering main ke tempat2 prostitusi. mungkin, hampir semua kehidupan malam udah pernah kucicipi. dulu, aku suka kehidupan itu karena kuanggap segalanya gampang. laper, nggak punya duit, tinggal malak. mau minum2, tinggal ancam orang pake pisau. lagi stress, tinggal minum2, ngerokok, dan nyicip narkoba. di sana, segala sesuatu bisa selesai dengan singkat. nggak perlu usaha keras, tanpa kompromi. dan dulu, aku benci orang2 kalangan atas karena menuruku, mereka memandang kami dengan pandangan merendahkan. padahal, kalo diancem dikit, mereka kicep. istilahnya, mereka lemah tapi sombong. setiap aku menemukan ada orang memandangku yang lagi asik minum bir dengan sudut mata mereka, langsung kuganggu.

dulu aku juga beranggapan, orang atas sombong karena punya banyak duit. mereka enak, duit dateng begitu aja, punya rumah tinggal yang nyaman, tentram. kami kerja sekeras apa pun, kayaknya nggak bisa beli rumah sebesar rumah mereka. lalu, kayak yang udah kubilang, aku nggak suka mereka memandangku dengan sudut mata. kami juga manusia, kenapa kami dipandang kayak sampah? memangnya, salah kami kalau kami punya kehidupan begini? di lubuk hati paling dalam, jelas kami nggak mau punya hidup kayak gini. kami pingin juga hidup kayak kalian, dan aku pingin juga merasakan sekolah yang tenang tanpa harus kerja. aku juga bilang kehidupan itu menyenangkan demi menghibur diri. (…malah curhat)

tapi suatu ketika, aku harus kabur dari ayah tiriku bersama adik kembarku. kabur, menghidupi diri sendiri, lalu sampai di indonesia dan diasuh oleh keluarga dari kalangan menengah. setidaknya, pada stage ini, aku nggak perlu kerja sambil sekolah. aku bisa belajar tekun, bisa bergaul sama teman2 baru. awalnya, aku punya kesulitan dalam bergaul karena aku jelas2 berbeda. aku dianggap ‘nakal’, padahal kalau dulu, aku dianggap hebat kalau bisa melakukan sesuatu yang illegal. sekarang, aku harus dihukum karena melakukannya. di sini, aku mulai belajar tentang kehidupan orang2 kelas menengah. tata krama mereka berbeda, gaya hidup berbeda, bahasa mereka berbeda. di satu sisi, kuanggap mereka memang lebih baik daripada kehidupanku sebelumnya. tapi di sisi lain, aku menganggap solidaritas mereka kurang.

dalam beberapa tahun, keluargaku berpindah dari kalangan menengah, jadi menengah-atas. di sini, walau masih dalam satu bagian, kelas mereka jauh berbeda dari yang sebelumnya. teman2ku rata2 orang berpunya. mobil minimal 2 biji, rumah nyaman, rata2 punya laptop, dll. dan karena beda kelas, tata krama dan gaya hidup mereka cukup berbeda. dan lagi2, aku agak kesulitan dalam bergaul karena sifat dasarku memang preman dan kasar. banyak temanku yang bilang kalau itu kasar. tapi, di umur segitu, aku udah mulai punya pikiran sendiri. aku bersikap sesuai apa yang kuanggap benar.

setelahnya, aku pindah ke kalangan yang lebih tinggi lagi. kalangan atas. pergaulan mereka udah jauh berbeda dari kehidupanku dulu. solidaritas mereka hampir nggak ada, dan mereka lebih individual. tata krama dan gaya kehidupan mereka juga sangat berbeda. walau begitu, aku mencoba untuk menyesuaikan diri dan mencoba kehidupan kalangan atas yang selalu kudambakan.

dan dari semua kehidupan yang udah pernah kucicipi, nggak ada kalangan yang sempurna. dan semakin aku merangkak ke atas, nilai2 yang diterapkan semakin berbanding terbalik. kalau di kalangan preman, solidaritas itu penting, di kalangan bangsawan, solidaritas itu dianggap sebagai gold-digging. artinya aja udah beda. dan karena berbagai perspektif ini lah, aku mulai membentuk opiniku sendiri.

aku nggak bisa disebut sebagai orang berwibawa. aku masih bisa mencerca sisi kehidupan lain ketika aku nggak suka. aku juga lebih sering memandang opiniku yang paling benar di banding junior2ku. mungkin efek karena aku lebih tua dan aku pernah mencicipi segala jenis kehidupan.

 

oke, back to topic.

nah, karena aku udah pernah berada di segala macam bentuk kehidupan, aku pun punya tanggapan pribadi soal kehidupan2 itu. dan aku nggak bisa mencerca sisi2 kehidupan itu.. karena aku pernah menjadi salah satu bagiannya. mencercanya = mencerca diriku sendiri.

aku juga punya cara berdiri sendiri. dan aku yakin, sulit buat ditiru. kalau kata temanku, kalau ingin menjadi original, belajarlah mencontek orang. setelah kita berhasil meniru orang, sesuaikan ‘contekan’ itu dengan identitas diri kita. maka, jadilah suatu yang original. << sama halnya dengan belajar berdiri. kita boleh meniru cara berdiri orang. tapi, jangan jadikan cara berdiri itu sebagai patokan, sampai2 kita merubah diri kita agar sesuai dengan cara berdiri orang lain. sesuaikanlah cara berdiri itu dengan identitas dirimu.

sama halnya dengan belajar pelajaran sekolah. masing2 orang punya metode masing2. ada yang melalui audio, visual, audio-visual, bacaan, dsb. berwibawa itu kan sama kayak orang yang baru selesai ujian dan dapat nilai tinggi tanpa mencontek. berwibawa bukan cuma sekedar bisa ngasih tau orang jalan yang benar, bukan cuma sekedar bisa melihat berbagai event dengan positif thinking dan caranya sendiri, bukan cuma mencontek dari motivator2 terkenal, tapi dia bisa men-share dan juga menunjukkan keoriginalan dirinya sehingga terlihat jelas kalau dia bicara bukan karena mencontek, tapi karena sudah berpengalaman.

intinya sih, cobalah buat keluar dari comfort-zone, coba lihat2 dan masuki dunia2 yang belum pernah kau masuki sebelumnya. nggak perlu takut, percaya pada diri sendiri kalau kalian bisa keluar kapan pun kalian mau. dan buat yang religius, percaya lah bahwa Tuhanmu akan menarikmu dari dunia itu. kalau tujuannya buat belajar, aku yakin Tuhan nggak akan marah 😀

 

 

udah ya, ciao! mau gerokok dulu, mulut udah asem.. :B

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s