a lot of people’ve been asking me about my religion.

“Kyle, agama lo apa, sih?” “kyle, kamu percaya tuhan?” “kyle, sering solat nggak?”

well, entah pertanyaan kayak gitu etis apa nggak. tapi tiap denger ada orang nanya gitu, suka bingung mau jawab apa. yaah, pertanyaan soal agama itu bukan pertanyaan yang gampang buat dijawab. aku susah tiap mau jawab pertanyaan2 ini.. karena aku sendiri juga bingung, kalo aku bilang aku Islam, apa aku udah bersikap kayak orang Islam?

aku orangnya kelewat logis, menurutku. entah kenapa lama2 aku jadi mikir, Tuhan ada cuma pas orang2 lagi di dalam kesulitan. maksudnya, ketika ada suatu bencana, ada suatu peristiwa yang mengancam jiwa, atau mengancam reputasi kayak tersangka2 koruptor, kulihat, tau2 mereka menyebut2 Tuhan, agama, dosa, dan segala macam. jadi.. Tuhan cuma ada di saat orang2 kesulitan gitu.. secara universal sih.

BAGIKU, sekarang agama itu nggak lebih dari tempat bersemayamnya orang2 yang nggak punya daya juang untuk hidup. bukannya aku menyalahkan orang2 yang religius.. cuma, aku sering liat ada orang yang over religius. mengabdikan dirinya di rumah ibadah2, ibadah ngaji segala macem.. padahal masih muda. kalo ditanya soal nasibnya, bilangnya, serahkan semua pada Tuhan.

well, kalo lo kayak gitu, i dont think Tuhan bakal membantu lo. kenapa? lo aja nggak usaha apa2. pikir dia seneng kalo kerjaan lo 100% buat ibadah aja? ibadah juga bukan cuma ngaji, ke gereja, dll. kerja, cari nafkah, sedekah, menghidupi keluarga juga ibadah. dapet pahala, kok.

kenapa kok kayaknya, orang2 kayak gitu takut banget ya? i mean, wajar sih, takut. cuma, cara menghadapi ketakutannya itu yang nggak masuk akal.

dan, balik lagi ke pendapatku, agama cuma jadi tempat pelarian orang2 yang nggak punya daya juang. jadi pasrah2 aja. padahal belum usaha apa2. kalo bahasa kasarku.. kayak hewan. bahkan, hewan pun masih ada usaha.

 

oke, balik lagi ke topik utama.

karena pikiranku soal agama jadi begitu, aku pun jadi mikir.. kenapa aku harus beragama? maksudnya, kenapa aku harus menentukan islam, kristen, katolik, dll? haruskah aku menamai kepercayaanku? kalo dinamain, buat apa? buat KTP? atau buat di-judge? so, when people asked me about it, aku lebih prefer buat jawab ‘nggak beragama’. atau buat orang2 yang baru kenal, cuma asal jawab ‘Islam’.

di KTP-ku Islam. tapi aku nggak yakin aku bener2 Islam. dulu waktu aku kecil, aku dapet campuran ajaran agama dari ibu dan ayahku. ibuku Katolik Roma. ayahku Shinto (…yah, lebih tepat disebut nggak ada agama). aku ikut natalan, kadang ikut ke gereja, di tahun baru aku ke kuil buat sembahyang. aku minum2, ngerokok, punya tattoo. dan aku masih melakukannya sampai sekarang.. (minum2nya, maksudku).

walau di KTP ku Islam, aku masih minum2, masih ngerokok, bahkan masih suka ke tattoo shop buat bikin tattoo baru. tapi, jauh di lubuk hati, aku percaya semua ajaran Islam. aku tau siapa Tuhanku, tau siapa Nabiku, tau ajaran2Nya, apa yang nggak boleh, apa yang boleh. kayak makan babi, dijilat anjing, dll. but, apart from that? i do whatever the fuck i wanna do.

satu hal juga yang bikin aku canggung buat menyebut nama agamaku: di-judge. doesnt matter, entah aku Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, Shinto, kalo aku melakukan hal2 di luar norma, nama agama yang kusebutkanlah yang bakal jadi jelek. pasti pikiran orang2 jadi: “ih, orang Islam/Kristen/Katolik, tapi kelakuan kayak gitu.”

 

you see my point here?

dan menurutku, society yang membuat kita jadi galau identitas, you know? lingkungan tingkat stressnya udah akut. dan kurasa, mereka butuh pelampiasan supaya mereka merasa hebat. mereka bertanya, memaksa kita buat menjawabnya, habis itu kita di-judge. sama halnya kayak mereka bilang ‘jadilah dirimu sendiri’, habis itu kita tetep juga dimaki2. sampai mati pun, kita nggak akan bisa memuaskan orang. dan selamanya orang2 akan bersikap begitu.

dan cuma satu jawabanku terhadap society: “suck my dick, bitch!”

yaa, karena aku hidup bukan untuk kalian. aku sebisa mungkin mengikuti norma2 pergaulan dan etika2 dasar dalam bersosialisasi. lebih dari itu, mereka nggak punya hak buat mengaturku untuk menjadi apa yang mereka mau. jadi, pas mereka tanya, dan kujawab ‘nggak punya agama’, aku nggak peduli image ku jelek di mata mereka apa nggak. toh, mereka yang tersiksa sama persepsi sendiri, kan?

jadi, aku lebih bebas ngerokok, minum, dan bertato. dan alangkah lebih sopan lagi kalo orang2 nggak nanya, ‘agamamu apa?’. karena.. maksudnya apa? mau nge-judge, kah? karena aku bertato? karena aku minum? karena aku ngerokok?

kurasa orang2 indonesia harus lebih punya sopan santun dalam menanyakan keyakinan orang. you know, with less judgy eyes.

 

ciao!

2 thoughts on “Agama

  1. Ah Kyle! Society emang nyebelin. Dari jaman SD kek penting banget nanyain agama orang. Buat apa gitu kan? Terus abis tau agama kita mau apa ye kan? Makanya sekarang kalo ada yang nanya apa agama gue, selalu gue jawab, “better not say” atau “agama gue QUEEN karena Tuhan gue musik”.

    Eh, how can you be a Moslem while none of your parents are Moslem? Just curious. It’s ok if you don’t want to answer it. 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s