Hemm, judulnya terdengar berat ya. Yaah, sekali-kali aku mau keliatan pinter gituh. Jadi judulnya dikeren-kerenin lah.

.

Jadi, tadi di kelas pagi, ada kelompok yang presentasi soal demokrasi. Terus, dosenku tau-tau nyambung ke jaman otoriter Soeharto. Habis itu baru nyambung ke keagamaan. Nah, masalah agama di Indonesia itu termasuk hal yang menarik buat dibahas sekaligus sakral.

Sesuai kata dosenku, yang salah dari Indonesia adalah menjadikan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ menjadi landasan nomor satu negara (dalam pancasila). Dan aku setuju sama dosenku. Kenapa? Karena kita nggak bisa menjadikan agama sebagai pemersatu negara. Kenapa? Karena sejak awal, kepercayaan orang udah berbeda-beda.

Menjadikan agama sebagai landasan negara adalah ide terburuk di sepanjang sejarah. Nggak seharusnya agama dibawa-bawa ke politik bernegara begini. Kenapa? Karena politik bernegara itu adalah sesuatu yang seharusnya dimutlakkan demi orang banyak. Maksudnya, dalam membuat landasan negara, keyakinan nggak seharusnya dijadikan landasan nomor satu. Karena kepercayaan tiap orang berbeda-beda. Negara berasas keagamaan hanya akan menciptakan perpecahan karena adanya perbedaan pandangan.

Agama itu adalah urusan Tuhan dengan seorang individu. Nggak seharusnya orang lain untuk ikut campur, apalagi sampai diatur sama negara gini. Yang ada cuma percekcokan, perang, karena menganggap keyakinan mereka masing-masing benar. Karena ini urusannya adalah bernegara, jadi segala sesuatunya harus dipukul rata. Agama dan keyakinan itu NGGAK BISA dipukul rata. Jadi, selamanya mereka akan berdebat tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Padahal, it ain’t matter. Mau situ salah, mau situ bener, agama itu urusan vertikal antara manusia dan Tuhan.

Aku sendiri paling nggak suka keyakinanku diatur-atur. Aku cukup diberitahu aturan-aturan dan norma-norma agama. Sisanya, aku bisa cari sendiri keyakinanku. Dan aku paling nggak suka ada orang yang ikut campur dalam urusanku beragama. Apalagi sama negara. Terserah aku dong, mau atheist kek, mau Islam kek, mau Katolik kek, mau Kristen, mau Buddha, Hindu, Shinto.. ini urusanku dengan Tuhan, kok. Orang lain itu cuma boleh sebatas memberitauku, bukannya mengatakan aku salah atau benar.

Kalau di Al-Qur’an ada satu surat yang artinya, “agamamu, agamamu. agamaku, agamaku”. Artinya, kalau situ percaya sama keyakinan situ, ya udah. Itu urusan situ. Saya percaya sama keyakinan saya. Jadi ini urusan saya. Situ nggak boleh ikut campur urusan kepercayaan saya, dan saya juga nggak boleh ikut campur urusan kepercayaan anda. Beres, kan?

Indonesia nggak akan maju-maju karena masalah yang sebenarnya nggak ada ujungnya ini diperdebatkan terus. Emang kenapa kalau misalnya kita nggak se-keyakinan? Kita nggak bisa berteman? Nggak boleh berinteraksi? Plis, jangan primitif, deh. Cuma masalah agama aja diperdebatkan. Kayak situ yakin aja kepercayaannya lebih bener dari saya. Kalau ternyata saya yang bener, gimana?

 

Nah, ini pula yang jadi masalah.. kita nggak bisa mengukut kebenaran sebuah keyakinan. Pada dasarnya, agama itu mengajarkan hal yang sama. Yang beda itu cuma definisi dan filosofi Tuhannya masing-masing. Kenapa harus repot-repot berdebat siapa yang benar siapa yang salah? Yang penting, jangan melanggar ajaran Tuhan. Patuhi aturannya. Masalah Tuhan kayak apa, ada berapa, namanya siapa, itu urusan nanti pas kita udah selesai hidup.

.

Bukan apa-apa, sih.. kesel aja denger agama ini berantem sama agama itu. Ada pemboman gereja, terorisme diidentikkan dengan Islam, apa lah. Kalau aja tiap manusia DONT GIVE A FUCK tentang kepercayaan orang lain, mungkin hal-hal ini nggak akan terjadi. Ibarat area, kepercayaan itu adalah area pribadi kita. Kayaknya cuma di Indonesia aja yang di kartu ID-nya ada tulisan ‘agama:’.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika seorang anak lahir, dia udah ditentukan apa agamanya. Padahal, anaknya belum apa-apa, tapi udah ditentukan keyakinannya. Takdirnya udah diatur sama orang tuanya, gitu? Ujung-ujungnya, di ID mereka tertulislah agama orang tua mereka. Sementara, mereka sendiri nggak se-keyakinan sama orang tuanya. Dan kadang, ada yang menyimpang dari label agama tersebut sehingga dia disebut-sebut sebagai ‘agama KTP’ (kayak ‘Islam KTP’).

Yaah, yang naro nama agamanya di sana kan bukan dia.. kenapa jadi dia yang dicerca ‘Islam KTP’? Emang bener-bener nggak ngerti sama jalan pikiran orang Indonesia.

Kalau emang mau anaknya beragama Islam atau Katolik atau Kristen, etc, masukin anak kalian ke sekolah-sekolah beragama sehingga mereka nggak jadi ‘Islam KTP’ atau ‘Katolik KTP’ atau ‘Kristen KTP’. Kalau udah ditentuin agamanya, tapi anaknya dibiarkan berbaur dengan agama-agama lain atau lingkungan yang nggak mendukung, ya jangan kaget ngeliat agama anaknya cuma sekedar print-an di KTP. At least, di rumah, ajarkan anak apa yang anda yakini. Tapi jangan marah juga kalau anaknya berubah keyakinan, karena keyakinan orang bisa aja berubah.

Orang bisa berubah jadi semacam mualaf dan murtad. Kalau emang kepercayaan barunya yang ia yakini, ya udah.. nggak usah dicacimaki. Itu biar jadi urusan dia sama Tuhan. Toh, kita juga nggak akan masuk neraka, kan? Wong itu bukan urusan kita.. dan sebenarnya juga di luar kendali kita.

.

…udah deh. Kayaknya ceramahku di sini isinya itu-itu aja. Cuma kuulang-ulang dan kuputer-puter. Hehehe..

Oke lah.

 

Ciao!

4 thoughts on “Agama Dan Politik Bernegara

  1. Kyle, yang lo tulis adalah yang terjadi pada gue. Di ktp gue kolom agamanya ditulis Islam. Padahal sedari kecil gue gag pernah dididik secara Islam. Nyokap Islam ktp, bokap Budha, pas tk gue sekolah di tk Kristen, 6 taun pendidikan dasar gue di sekolah Katolik. Baru mulae belajar Islam pas mau masup smp. Itu juga karna smp negri dan agama yang harus dipelajari adalah agama ‘pemberian’ ortu, lebih tepatnya nyokap, gue. Sempet religius sampe kelas 10, selebihnya agnostic sampe akhirnya pas libur lulus sma, gue dapet semacam hidayah kalo gue harus menjadi seorang Katolik. Nah, ini yang susye. Pas gue ngutarain keinginan gue buat jadi Katolik, bokap sih terserah asal dijalanin dengan baik. Tapi pas nyokap tau gue mau jadi Katolik, gue gag diaku anak selama sebulan dong. Zzz… Makanya sampe sekarang gue masih ‘ngambang’. Dibilang gag beragama, gue percaya pada ajaran Katolik. Dibilang beragama Katolik, gue belom dibaptis pun. Jadi gue melabeli diri sebagai Self-identified Catholic deh sekarang.

    Yah, Kyle, gue jadi curhat kan tuh. He he

    Mo cerita banyak eh. Enak di Skype kali yak. Tapinya ekeh masih belom sempet.

    Like

    1. okay, this is the second longest comment after besty’s. hahaha..

      yaah, kita curhat2 di gancy aja sabtu ini bisa nggak? lagi mau cari gelang di sana. heheheh.. sambil nyekotak lah kita.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s