Sebenarnya aku pernah membahas soal ini di blog2ku yang sebelumnya. Tentunya di blog yang url nya nggak akan pernah kalian temukan selamanya!!! HAHAHAHAHAHAHAHA!!!

 

…ehem,

Oke, mari kita waras kembali.

 

Pessimist

Apa itu Pesimis? Pesimis adalah paham yang menganggap segala sesuatu buruk atau jahat. Orang-orang pesimis umumnya mudah terlihat dari cara mereka berbicara, mengemukakan pendapat, dan bertindak. Orang pesimis cenderung lebih mengeliminasi segala harapan.

Aku.. benci banget sama orang pesimis. Jujur, aku paling nggak suka denger orang ngasih statement yang isinya negatif atau pesimis seolah-olah segalanya bakal berakhir. Orang yang pesimis menurutku lebih panikan dan kurang kreatif. Mereka cenderung membosankan, bagiku. Dan aku bisa emosi kalau ngomong sama mereka. Apalagi orang pesimis yang ngotot sama idealisme pesimisnya. Rasa pingin kukasih tepukan di punggung pake pisau.

Orang pesimis juga lebih banyak mengkritik dibandingkan ngasih masukan. Ini yang bikin aku benci sama orang pesimis. Orang pesimis kadang ngasih kritik yang sebenarnya nggak rasional atau kurang masuk di akal sehat. Isi kritiknya sebenarnya nggak ber-impact besar pada pendapat kita, tapi mereka menggebu-gebu seolah pingin pesimismenya didengar. *high five-in orang2 pesimis pake ujung meja di mukanya*

Bukannya salah jadi pesimis. … …wait, jadi pesimis itu emang salah. At least, begitu ada orang yang bilang “pesimis amat, lo”, harusnya kita tergerak buat memperbaiki kepesimisan kita.

 

Oke, let’s move on.

 

Optimist

Optimis adalah kebalikannya pesimis. Orang-orang optimis punya pandangan yang jauh lebih cerah dibandingkan orang pesimis. Dunia bagai cahaya yang memendarkan cahaya.. konon, cahayanya bisa bikin buta. Orang-orang optimis dibutakan oleh cahaya harapan sehingga mereka nggak bisa melihat sisi buruk dari dunia.

Bagus sih. But not, if you be too optimist. Kenapa? Karena orang-orang optimis bagiku tampak kayak orang bodoh dan orang yang membohongi dirinya sendiri. Maybe they need to be like that. But, it’s just too painful to see them like that.

Sometimes, orang optimis bisa bikin kesel. Apalagi yang kelewat optimis sampai memaksakan idealisme optimisnya. Optimis harusnya memang dikaitkan dengan kepercayaan diri (kebalikannya pesimis). Tapi, percaya diri bukan berarti menjadi superior dan memandang orang-orang nggak tau apa-apa dan nggak mau berusaha. <I really want to LITERALLY kill people like this. *pengalaman pahit*

 

Realist

Realist bagiku adalah gabungan antara pesimis dan optimis. Dengan kadar pesimis yang sangat rendah, tentunya. Dan aku bisa mengatakan kalau aku orang yang realistis pro ke optimis.

Realist (diriku) cenderung berpikir positif dan memandang segala kesempatan dalam hidup. Sisi optimisku cenderung membuatku bersemangat hidup dengan memandang cahaya-cahaya yang menyinari dunia (ceilah!). Aku merasa percaya diri, merasa segalanya itu possible, dan kesempatan akan selalu ada bagi mereka yang bisa melihatnya. Nah, sisi optimisku ini disponsori oleh pemikiranku yang logis. Jelas, segala pilihan butuh perhitungan jangka panjang. Salah ambil langkah, maka semua berantakan. Dan kata ‘penyesalan’ hanya akan membuatku menjadi pussy atau coward.

Tapi sebagai realist, aku sebisa mungkin nggak memaksakan pemikiran kelewat logisku ini ke setiap orang. Ada sih, kadang-kadang aku kelewat batas dan malah maksain pandangan realistku ke orang lain. Tapi itu cuma pas lagi marah, kok.. pas lagi ketemu orang pesimis aja. #alibi

 

Jadi realis juga nggak boleh kelewat realist. Maksudnya, kita nggak boleh juga mengandalkan segalanya pada logika. Kadang kita harus melepas logika agar lebih merasa hidup. Berharap pada sesuatu yang nggak mungkin kayak orang-orang optimis. Memberi warna dan gairah agar hidup lebih bernada (ceilah, Kyle!)

Mungkin emang yang paling aman itu emang jadi gabungan keduanya walau lebih pro ke optimis. Karena kadang kita butuh menjadi pesimis untuk memperhitungkan dampak jangka panjang. Kita butuh jadi optimis untuk melihat kesempatan dan merasa percaya diri, serta bersenang-senang karena dalam hidup akan selalu ada pilihan dan kesempatan. Aku senang jadi begini. Aku bisa memperhatikan langkahku dalam mengambil keputusan, tapi juga bisa jadi harap-harap cemas buat memenangkan undian yang probabilitasnya cuma 1/1000.

.

Udah, segitu dulu. Maaf kalau nggak jelas gini isinya.. hahaha

Ciao!

2 thoughts on “Pessimist vs Optimist vs Realist

  1. Are you Fucking kidding me?…optimis itu ada dampak negatifnya…
    Contoh: suatu hari si A jalan” ama si B

    B:Nih pake dulu helmnya,ntar kalo terjadi apa”

    A:udah tenang aja gx usah pke helm…dijalan gx akan terjadi apa” koq…

    Bayangkan terjadi sesuatu yg buruk,kepala si A terhempas ke Trotoar dan mengalami Kematian,si B Fine” aja krn kplnya juga kena trotoar tapi dia pake help

    Optimis
    Trus ada si tentara yg optimis menyerang maju padahal didepan banyak musuh bersenjata lengkap,kemudian mengalami kematian

    Realist
    Realist realis menyerang dari balik musuh dgn mengendap”.musuhpun kalah

    Pessimist
    Tentaranya takut langsung kabur

    So don’t be a fucking optimistic man…sometimes when you say that you’re a fucking hypocrite.soalnya meskipun optimis,lu pasti pernah gx yakin juga bukan,atau menyesal bukan?…so be a realist mate,and don’t you ever think pessimistic isn’t good,they got a positive side too

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s