Hmm, barusan aku baca blog temenku, dan yaah, aku sependapat sama dia. Isi blognya itu seputar stereotype jurusan IPA dan IPS. Dan emang, ini selalu jadi kendala buat anak-anak SMA.

Di Indonesia itu emang lebih memandang pendidikan akademis dibandingkan non-akademis. Kenapa? Kata dosenku, emang bawaan dari Belanda. Di Belanda, pendidikan akademis lebih ditonjolkan dibandingkan non-akademis. Kampusku sampai sekarang masih memegang teguh prinsip ini. Makanya, kampusku jarang kedengeran namanya karena mereka fokus sama pendidikannya dibandingkan ‘promosi’ di bidang non-akademis.

Benar apa yang dibilang Dani, semua orang itu pinter. Pinter itu nggak mesti bisa hitung-hitungan atau semacamnya. Logis itu cuma masalah sistematika berpikir aja. Orang dibilang logis kalau dia berpikir secara sistematis. Dan setiap orang berpendidikan WAJIB berpikir logis.. nggak cuma orang-orang IPA aja, tapi juga yang berpegang di IPS dan bidang-bidang lain. Kenapa sekolah dibutuhkan? Sebenarnya ya tujuannya agar manusia terlatih buat berpikir sistematis. Dan banyak orang salah kaprah.

Kecerdasan manusia itu berbeda-beda. Di dunia psikologi pendidikan pun, hal ini udah sering dibahas. Sayangnya, ilmu ini belum dipublikasikan. Sehingga nggak semua orang tau soal ini. Menurutku sih, harusnya hal beginian diiklankan, ditulis di koran, atau diapakan lah, supaya semua orang bisa baca dan mengerti.

It’s okay if you cant do math or something. But at least, you have to know the basic of math. Cerdas di bidang lain bukan berarti bener-bener nggak tau soal ilmu-ilmu lain. Kita juga wajib mengetahui dasar-dasar ilmu lain biar nggak dikibulin. Apa gunanya kalian cerdas di bidang kalian tapi kalian masih bisa dikibulin dalam bidang lain?

Semua orang bebas memilih apa yang dia mau. Kita jadi nggak bebas karena kita meminta buat ditunjukkan atau masih bergantung sama orang lain tentang sesuatu yang seharusnya cuma kita yang mengerti. Dan ini adalah dasar kenapa banyak anak yang dipaksa ini-itu sama orang tuanya. Walau tujuannya mulia (biar anaknya nggak susah di masa depan), tapi kita harus sadar kalau dunia udah berubah, jaman udah berubah, dan pemikiran kuno udah nggak berlaku lagi.

Mungkin jaman sekarang, uang adalah segalanya. Dan itu benar, nggak bisa dipungkiri. Kita butuh duit. Segala kegiatan kita selalu membutuhkan cost. Dan orang tua takut anaknya jadi gelandangan karena nggak punya duit.. makanya mereka selalu menunjukkan jalan kita. Salahnya adalah ketika orang tua nggak menanyakan pendapat anaknya terlebih dahulu karena menganggap anaknya masih belum tau apa-apa. Orang tua tanpa sadar membodohi anaknya sendiri. Sehingga, kebanyakan anak juga nggak punya pendapat sendiri dan ujung-ujungnya banyak yang jadi korban salah jurusan atau jadi korban stereotype.

.

Stereotype dibuat oleh masyarakat sehingga lama-lama menjadi sugesti. Anak yang kebiasaan ‘dimanja’ oleh pilihan orang tua bisa aja terjerumus ke dalam kabar burung bernama stereotype ini. Mereka akhirnya nggak sadar akan kemampuan dan bakatnya sendiri. Dan kalau pun sadar, argumen mereka nggak akan valid kalau bakat mereka bukan yang berhubungan dengan ekonomi, kedokteran, atau teknik, bagi orang tua mereka.

Orang tua kebanyakan baru memberi anak kebebasan berpendapat ketika anaknya duduk di bangku SMP. Itu pun, argumennya masih dibatasi dengan kekhawatiran berlebih. Orang tua modern biasanya akan membiarkan anaknya berpendapat sejak mereka bisa berbicara. Walau pun mereka masih anak-anak, masih belum mengerti, penting bagi mereka untuk mengemukakan pikiran dan keinginannya didengar. Dengan begini, lama-lama anak bisa mempelajari dirinya sendiri karena kebiasaan ditanya ‘menurut kamu gimana?’.

Hal ini membuat anak menyadari kecerdasannya sendiri. Jadi, nggak ada kasusnya mereka salah jurusan atau semacamnya. Dan anak nggak perlu membohongi dirinya sendiri agar diakui masyarakat luas (korban stereotype). Dan nggak ada juga anak yang tertindas akibat stereotype.

.

Karena di sekolah-sekolah Indonesia hanya ada 2 jurusan, IPA dan IPS (mungkin juga Bahasa), maka mereka yang sebenarnya nggak punya bakat di ketiga bidang itu terpaksa harus terjun ke salah satunya. Mungkin jurusan nggak perlu ditambah. Tapi seenggaknya, sediakan mata pelajaran pilihan agar mereka bisa mengembangkan bakat minatnya. Jadi bukan cuma sekedar ekskul, tetapi udah berupa kelas yang lengkap dengan guru yang bisa mengajari teknik pembelajarannya.

Orang-orang jaman sekarang harus sadar akan banyaknya jenis kecerdasan. Kecerdasan bukan cuma sebatas pintar matematika, fisika, ekonomi, sejarah, dan sebagainya. Cerdas dalam non-akademis seperti di bidang musik dan seni murni juga termasuk kecerdasan dan harus diakui.

Kalau kalian memang nggak berprestasi di bidang akademis, cobalah buat merambah ke bidang non-akademis. Kalau memang kalian lebih cocok di bidang non-akademis, cobalah untuk berprestasi dan inovatif di bidang tersebut. Kalau kalian memang mencintai bidang itu, seharusnya berprestasi adalah hal yang mudah. Kalian tinggal kerja keras dan memperbanyak pengalaman. Tapi, sebisa mungkin kalian jangan mengabaikan sekolah yang udah dibayar mahal-mahal sama orang tua kalian. Kalau memang harus meninggalkan sekolah, it better comes with a very good reason.

.

Di sini, aku bukan menyarankan kalian untuk membantah orang tua, meninggalkan sekolah, atau bahkan menjadikan topik ini sebagai alasan kalian untuk berhenti sekolah. Aku menyarankan untuk mendalami diri kalian dan berprestasilah di bidang yang kalian yakini.

Bakat itu nomor dua. Bakat cuma anugerah dari Tuhan yang harus dikembangkan. Kalau kalian suka pada satu hal (katakanlah, menyanyi), kalian jangan langsung patah semangat begitu mendengar celotehan orang yang berisi ‘ah, nggak bakat lo!’. Kalau kalian memang suka, kalian harus mempelajari bidang itu lebih dalam lagi. Cari guru, pelajari tekniknya, aplikasikan. Asal kalian rajin, tekun, dan sungguh-sungguh, kalian bisa dengan mudah melompati orang-orang berbakat di bidang itu.

 

Satu saran lagi, agar kalian lebih yakin dengan kemampuan kalian, cobalah buat ikut kontes-kontes atau lomba-lomba. Di sana adalah lapangan terindah bagi seorang pelajar. Selain kalian bisa mengetes kemampuan kalian, kalian bisa menambah koneksi dengan orang-orang yang memang bekerja di bidang yang kalian sukai itu. Kalian bisa minta saran dari mereka, bisa mencontek teknik-teknik mereka, dan bisa merasa ‘homy’ karena kalian dikelilingi orang-orang yang sejenis dengan kalian.

Dan menurut pengalamanku, dengan ikut kontes-kontes di bidang yang kusukai, aku jadi lebih percaya diri dan makin mencintai bidang yang kusuka. Aku memang nggak berbakat, aku nggak punya kemampuan khusus.. tapi aku suka mempelajari banyak hal. Kalau aku suka pada satu hal, aku akan meyakinkan diriku untuk mendalaminya agar aku juga bisa. Dan aku nggak pernah puas dengan kemampuanku sebelum aku bisa mengaplikasikannya dengan baik di dunia nyata.

Aku suka berorganisasi. Jadi, aku mengaplikasikan kemampuanku dengan menjabat di bidang-bidang tersebut (kayak jadi chief editor majalah kampus). Berorganisasi bisa menambah pengetahuanku tentang pekerjaan editor, tentang susahnya memanage anak buah, tentang asiknya berorganisasi, dan melihat seberapa hebat kemampuanku dalam menjadi editor majalah. Setelah masa organisasiku selesai, aku jadi punya banyak bekal.. terutama soal gambaran pekerjaan editor majalah.

.

Oke deh, segitu dulu.. semoga bermanfaat. 😀

Dadah, babai..

Ciao!

2 thoughts on “Kecerdasan

  1. Kebayang susahnya masuk jurusan bahasa. And I do prove to everybody especially my parents that I deserve in Language class. And it’s not easy

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s