Hmm, jadi semalam kan aku ketemu sama Sherly di sevel Sency. Habis itu, kami jalan ke taman PS karena kayaknya di sevel mau ada live music atau nobar bola gitu. Karena nggak suka keramaian (karena mau ngobrol juga kan), akhirnya kami pindah lokasi ke tempat yang menurutku lebih nyaman.. yaitu taman PS.

Pas di taman PS, aku sama Sherly mulai membahas soal MIKA, yang kemudian nyambung ke masalah label. Label yang kami maksud, bukan label dalam industri musik. Tapi lebih ke stereotype atau penamaan berdasarkan stereotype. Semacam ‘lesbian’, ‘gay’, dan sebagainya.

Nah, si Sherly bilang ke aku kalau dia itu (intinya sih) nggak suka dengan sistem pe-labelan. Yaa, kenapa juga ada label? Pentingnya pelabelan itu apa? Dan semacamnya. Sebagai orang yang cukup anti-label, aku cuma bisa nanggepin menurut logika aja. Kalau mau menanggapi orang-orang yang suka banget memberi orang lain label, cukup ‘iya iya’-kan aja. Karena, mengcounter pun, cuma bikin percakapan makin panjang dan kita nggak nyaman. Jadi, setujuin aja. Daripada berdebat atau harus menjelaskan ‘apa itu label-less’?

 

Tapi menurutku, orang-orang yang suka melabel orang adalah orang yang pikirannya sempit. Mau mereka bilang pikiran mereka terbuka, selama mereka suka melabel orang, tetep aja menurutku mereka itu berpikiran sempit. (melabel dalam artian: tiap liat orang sesuai stereotype, langsung memberi cap pada orang tersebut. Misalnya, ada cowok yang ‘melambai’ langsung dicap gay)

Kenapa aku bilang berpikiran sempit?

Karena eh karena, melabel itu kan artinya memberi nama atau menyempitkan artian luas pada suatu makhluk atau benda. Pikiran manusia harusnya tak terbatas. Sedangkan Label dan Stereotype dibuat untuk menyempitkan arti luas agar manusia satu sama lain mengerti. Jadi, ibaratnya, kalo ngomong nyambung karena satu sama lain membayangkan hal yang sama.

Well, dalam konteks yang begini sih, nggak disalahkan. Kan tujuannya supaya nggak salah paham. Tapi, kalau tujuannya adalah untuk membatasi.. dalam artian, biar kita seolah tau isi seorang manusia luar-dalam supaya bisa milih teman, itu yang disalahkan. Karena manusia kan nggak bisa di-judge berdasarkan penampilan luarnya. Dan dengan adanya label dan stereotype, pasti bakal ada sekelompok manusia yang dikucilkan. Ini yang nggak kusuka.

 

Jadi, kenapa aku bilang orang yang suka melabel orang lain adalah orang yang berpikiran sempit, karena isi otak mereka udah dikotak-kotakin dengan yang namanya stereotype dan label. Mereka nggak mau keluar dari kotak dengan bilang orang yang bersangkutan dengan sebutan ‘menyimpang‘. Mereka justru (kayaknya) nggak berani keluar dari kotak itu karena nggak mampu memikirkan sesuatu yang abstrak. Akhirnya, pikiran mereka terbatas karena ketika mendapati ‘sesuatu’ yang definisinya di luar stereotype, mereka jadi bingung dan malah nggak ngerti.

Kalau anda begini, silakan anda perbanyak baca buku, gaul di dunia yang bukan dunia anda, dan gunakan gadget anda untuk suatu kegiatan yang bernama ‘mencari ilmu‘.

 

Aku termasuk orang yang berpikiran terbuka dan kebukanya sampe kelewatan. Aku mencari teman bukan karena label.. tapi karena kalo kami cocok dan nyaman, ya lanjut ngobrol. Dan kurasa, orang-orang jaman sekarang udah banyak yang berpikiran liberal kayak gini (umumnya orang kota besar). Jadi menurutku, udah nggak begitu masalah.

Saranku, sih.. kalau kalian masih bisa melabel orang, itu artinya pikiran kalian sempit. Kalau kalian bilang aku men-judge, aku punya bukti argumenku dalam bentuk teori logika. Dan sekali lagi kubilang, label itu semacam pagar dan stereotype itu isinya/halamannya. Dengan adanya label dan stereotype, kalian cuma bisa mengkhayal dan berpikir di area yang itu-itu aja. Ketika ketemu sesuatu yang definisinya di luar stereotype yang anda tau, anda jadi bingung dan cenderung menjauhinya karena kalian anggap aneh.

Pikiran manusia harusnya tak terbatas. Ketika bertemu sesuatu yang aneh, nggak seharusnya kita bersikap kayak hewan. Hewan itu kan, begitu ketemu makhluk yang bukan dari kelompoknya (a.k.a beda dari yang lain), mereka cenderung menjauhi bahkan bersikap binal. Kita itu manusia. Punya akal dan bisa berpikir. Jangan dibiasakan menjadi orang yang berpikiran sempit. Cobalah untuk terbuka, cobalah untuk menerima orang-orang yang berbeda atau aneh (…beda kalau orangnya aneh karena sakit jiwa kayak skitzo, ya. Tapi, orang kena skitzo pun, jangan dijauhin. Tapi coba dibawa ke RSJ untuk disembuhkan atau dirawat). Dunia itu luas. Dan tugas manusia adalah untuk meng-explore-nya.

.

Udah, segitu aja.. semoga bermanfaat :3

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s