Hemm, setelah tadi ngetik soal Diana, sekarang aku mau ngomongin soal pacaran. Kalau tadi ngomongin spesifik ke Diana, sekarang aku cuma mau ngomongin yang soal pacarannya aja. Dan sebenarnya, aku udah pernah ngepost hal serupa di sini. Tapi, nggak tau deh, beneran di blog ini atau di yang satu lagi. Hahahaha..

.

Nah, pertama-tama, mari kita mendalami makna pacaran. Apa pacaran bagi kalian? Kalau pacaran bagiku nggak lebih dari hubungan persahabatan yang lebih erat. Bedanya kali ini, ada perasaan cinta terhadap pasangan dan cuma melibatkan antara 2 pihak aja. Nggak kayak sahabat yang bisa sampai lebih dari 2 pihak.

Sejujurnya, aku dulu nggak begitu suka sama yang namanya pacaran. I think it’s stupid. Dan aku dulu nggak suka dikekang dengan hubungan bernama ‘pacaran’ ini. Aku orangnya bebas. Aku pingin bebas jalan sama siapapun yang kumau tanpa dicemburuin, tanpa harus minta izin dan segalanya.

Tapi walau nggak suka, kadang aku nekat aja pacaran. Kalau ada yang nembak, kalau kurasa kami udah sangat dekat, bakal kuterima. Kami jalan bareng, ngedate, berantem, putus, dan ujung-ujungnya, aku nyesel. Kenapa nyesel? Karena aku berprinsip kalau pacaran itu adalah sesuatu yang bodoh dan membuka lebar privasi serta menyegel kebebasanku.

.

Sekarang, aku lagi membangun relationship terlama-ku. Ini rekor baru bagiku setelah sebelumnya kami putus-nyambung, ketemu orang baru, terus putus-nyambung lagi. Meski hubungan kami diselingi aku yang ketemu orang lama (yang kemudian berakhir dengan sangat tidak enak), alhamdulillah, kami masih bisa melanjutkan hubungan kami lagi.

Kalau ditanya, aku kenal Diana udah setahun lebih. Dan kami pacaran sekitar 1-2 bulan kemudian. Jadi, yaah, pacarannya juga mungkin udah setahunan, kali ya. Walau kepotong sama 3 bulan relationship gagal-ku. Hiks..

Kayak yang udah kubilang, aku sama Diana bermula dari sahabatan. Waktu itu, dia baru kehilangan cowoknya yang tau-tau pergi entah kemana. Waktu itu.. aku juga lupa gimana ceritanya kami bisa ketemu muka. Ujung-ujungnya, aku ngajak dia pergi makan keluar sambil minum-minum.

Malam itu, kami jadi dekat. Kami duduk di bar & resto, ditemani sepiring french fries hangat, sebotol bir ringan dan segelas vodka dingin, cerita-cerita sambil ditemani musik yang dimainkan di sana. Aku baru kenal dia, dia baru kenal aku. Dia cerita soal cowok dan dirinya, aku cuma dengerin (karena aku lebih suka mendengar daripada cerita masalah pribadi). Dia nanya, aku ngasih saran. Dari sana, kami deket.

Malam-malam berikutnya, aku sama dia jadi sering hengot bareng di luar. Entah itu cuma ke sevel atau bener-bener hedon ke bar. Dari yang ceritanya mellow, lama-lama berubah jadi penuh canda tawa. Dan kurasa, dalam beberapa malam, dia udah bisa lupain cowoknya yang pergi entah kemana itu. Tanpa sadar, aku pun jadi deket sama dia sampai menganggapnya sahabat.

Di malam berikutnya lagi, kami mulai hengot bertiga. Diana mengenalkanku dengan temannya yang suster pirang. Iya, kami deket karena sama-sama kaukasia. Kami bertiga jadi sering pergi ke bar bareng, main bareng, ngobrol bareng. Kadang aku diajak ketemuan berdua aja buat mereka curhat secara pribadi. Kadang curhat terang-terangan di depan kami bertiga.

Sampai suatu saat, Diana bilang kalau dia suka padaku. Dan jelas aja aku tolak karena aku nggak mau pacaran. Aku waktu itu lebih suka HTS dibanding bener-bener jadi pacar. Kalau nggak mau HTS, aku maunya sahabatan. Temenan. Nggak ada rasa, nggak ada dusta (ceilah). Pokoknya, aku menolak habis-habisan tiap Diana nembak. Jelasin apa yang sudah kujelaskan ke dia.. berkali-kali.

Sampai suatu saat,

Aku berpikir buat mencoba untuk menjalin hubungan bernama ‘pacaran’ ini.

Aku pun menerima ajakan Diana secara nggak langsung dan kami (entah sejak kapan) resmi pacaran. (belakangan aku baru tau kalau Joanna dulu juga naksir aku :p)

 

Awalnya, aku masih jaga jarak sama dia. Aku nggak cerita banyak, cuma beberapa yang kuanggap nggak penting buat diketahui aja. Aku juga masih jaga sikap, jaga kata-kata. Sebisa mungkin, aku nggak terperangkap perasaan. Tapi rupanya, semakin aku membohongi diri sendiri, semakin aku terjerumus ke dalam lubang yang nggak ingin kumasuki. Seberapa keraspun usahaku untuk keluar, aku akan terus terhisap ke dalamnya.. udah kayak pasir hisap.

Selama berbulan-bulan aku mati-matian berusaha keluar dari pasir hisap ini. Menolak kenyataan bahwa aku nyaman sama Diana. Menolak kenyataan kalau aku ternyata suka pacaran sama dia. Menolak satu kata yang nggak ingin kuucapkan ke siapa-siapa kecuali Kai.. ‘cinta‘.

Setelah itu, untuk pertama kalinya, aku menulis blog yang sangat amat jujur. Aku mengungkapkan perasaanku dan bagaimana pandanganku terhadap dia. Bener-bener jujur kacang ijo. Aku berasa telanjang. Aku menelanjangi pikiran dan hatiku sendiri. Aku tulis pesan yang paling tulus dari lubuk hati paling dalam. Sampai (katanya) Diana nangis baca blogku.

 

Sekali jujur, artinya aku melepaskan pegangan. Aku pun terhisap ke dalam pasir and I dont care about it anymore. Justru, aku senang terhisap ke dalamnya. Aku udah nyaman sama Diana dan aku nggak mau ada yang berubah.

.

Layaknya hubungan pacaran normal, kami pun punya masa-masa berantem. Dan percaya deh, nggak akan ada orang yang tahan berantem denganku. Bukan apa-apa.. aku kalau berantem dan udah marah, ngomong bisa kasar banget. Bagus kalau berantem lewat chat, kalau udah ketemu muka, aku bisa main tangan. Makanya, sebisa mungkin aku menjaga amarah biar nggak kelepasan. Sukur-sukur aku bisa menyelamatkan diri dan orang lain dengan bersembunyi di kamar sampai marahku reda. Wheew..

Biasanya habis berantem, aku bakal menyesali pilihanku untuk pacaran. Aku bakal diem-dieman sama Diana selama seharian penuh. Dan kalau masih kesel, bisa berlanjut ke keesokan harinya. Pokoknya, sampai amarahku reda.

Habis berantem, kami baikan lagi seolah-olah nggak ada apa-apa. Biasanya aku minta maaf duluan buat memulai convo. Habis itu, kami ngobrol kayak nggak ada apa-apa. Seneng lagi, bercandaan lagi. Sampai nanti ketemu satu titik dimana kami bakal bertengkar lagi.

 

Alasan kami berantem juga nggak pernah penting. Umumnya emang karena akunya aja yang sensian karena capek. Kadang dia juga mancing. Tapi.. ya udah. Sampai sekarang kurasa, yang namanya berantem di dalam pacaran itu adalah hal biasa. Justru, dengan adanya pacaran, hubungan kami lebih berwarna. Terlebih lagi, bertengkar adalah masa penyesuaian antar dua individu. Jadi, dengan adanya pertengkaran, kurasa kami akan semakin akrab dan makin tau seluk beluk masing-masing.

Kurasa, pacaran jadi terasa indah karena hanya melibatkan dua orang yang sedang berusaha menciptakan dunianya. Mereka hanya fokus pada satu orang, yaitu pasangannya, berusaha mengembangkan diri, berusaha memperbaiki diri, berusaha memahami pasangannya demi menjaga hubungan mereka.

Pacaran lebih dari sekedar bergandengan tangan, ciuman, dan sex. Pacaran itu layaknya bersahabat. Bedanya, kita nggak bisa pacaran dengan lebih dari satu orang. Kenapa begitu? Karena kurasa, dalam pacaran, kita diajari (atau harus belajar) untuk berkomitmen. Kita harus belajar bagaimana caranya untuk menjaga hubungan yang harmonis. Dan pacaran juga artinya menentukan tipe pasangan hidup yang kita inginkan.

Kalau diibaratkan dengan kuliah, pacaran itu semacam kuliah psikologi. Kita mempelajari manusia. Bedanya, kita harus beradaptasi dan berinteraksi dengan individu tersebut.. bukannya menjadikan individu itu sebagai objek belajar.

.

Yang kutau, pacaran itu ada banyak jenisnya. Salah satu yang kutau adalah LDR. Hubungan jarak jauh. Hubungan yang katanya nggak awet. Well, aku LDR, aku sering berantem. Tapi kurasa, aku cukup berani buat bilang kalau hubunganku ini langgeng.

Yaah, aku tau sih, kenapa LDR bisa nggak berjalan lancar. Salah satunya adalah kurangnya rasa percaya terhadap pasangan dan rasa posesif yang menghantui. Percaya deh, posesif itu adalah sifat yang harus dihilangkan di dalam pacaran. Karena dalam pacaran, kita jusrtu harus belajar untuk berbagi orang yang kita sayangi dengan orang lain (contohnya, teman-temannya dia, kesibukannya, hidupnya, keluarganya, dll).

Dan kurasa, hal itu bukan cuma berlaku di LDR aja.. tapi juga di semua jenis hubungan pacaran.

 

Inti dari pacaran itu cuma: kepercayaan, berbagi, dan keikhlasan. Kita harus percaya pada pasangan dan apa yang sudah diucapkannya. Kita juga harus berbagi dengan pasangan kita.. berbagi pengalaman, berbagi rasa suka dan duka, berbagi segalanya. Kita juga harus ikhlas.. ikhlas menerima pasangan kita apa adanya, ikhlas dinomorduakan jika ada keluarganya, dan ikhlas berbagi dirinya dengan ruang dan waktu.

Pacaran itu emang susah. Nggak ada yang gampang. Tapi, kalau semuanya gampang, mana daya juang hidup kita? Nggak semua sesuai dengan keinginan kita. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin. Mau pasangan kita nggak berusaha atau gimana, yang penting kita usaha sebisa kita untuk berkomitmen dengan pilihan dan keputusan kita. Di sanalah letak kedewasaan kita.. yaitu dengan bertanggung jawab pada diri sendiri dan pilihan.

Kalaupun suatu saat hubungan kalian hancur berkeping-keping, itulah saatnya bagimu untuk berhenti berusaha dan mencari yang lain. At least kita sudah berusaha.. ibarat ujian, yang penting udah belajar. Toh, kalau pun hancur, kita nggak rugi-rugi amat. Kita dapat pelajaran berharga dari hubungan yang retak itu: jangan cari pacar kayak Si Mantan. #dor

.

Yaah, itu aja sih, intinya..

Dah dah, jangan galau lagi. Pacaran itu dibawa seneng, bukannya dibawa menderita. Pacaran itu dinikmati, bukannya merasa tersiksa.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s