Oke, seperti yang udah kuucapkan di twitter tadi siang, aku mau membahas soal organisasi. Sebenarnya, blog ini disponsori oleh pengalaman berorganisasiku dan temenku, Bernadeth. Dan aku pun pingin berbagi hal-hal seputar berorganisasi serta suka dukanya.

Aku dan Beber sama-sama mengalami yang namanya berorganisasi di bawah penanggung jawab yang BOSSY. Aku dulu berada di bawah pengawasan Penanggung Jawab 1 (PJ1). PJ-nya ini ada dua. Tapi yang kusebelin cuma PJ1. Kalau aku ceritain secara rinci, blog ini bakal jadi panjaaaaaaannngggggg banget. Jadi aku bakal menceritakan intinya aja.

PJ1 ini adalah anak seangkatanku. Di awal terbentuknya organisasi singkat ini (lebih pada kepanitiaan, sih), dia memilihku sebagai Koorbid Pudok (publikasi dan dokumentasi). Awalnya, aku masih biasa aja. Karena waktu itu udah akhir semester dan sebentar lagi mau UAS. Jadi, pekerjaan panitia masih belum begitu banyak. Yang jadi masalah adalah begitu mendekati hari H. Aku jadi sadar kalau sebenarnya yang perlu diperbaiki adalah si PJ1, bukan PJ2 (sebelumnya, aku agak nggak suka dengan cara memimpin PJ2 karena terlalu lembek).

Waktu itu, Kai angkat bicara di grup dan menasihati. Sayangnya, kedua PJ sok tau ini nggak berpikiran terbuka dan malah nyuruh Kai (sebagai aku) buat tutup mulut dan nggak usah mendikte. Selain itu, aku buka diskusi 4 orang antara PJ dan Koorbid Acara. Aku menjelaskan kemungkinan terburuk yang bakal terjadi kalau acara diadakan di hari Jumat.

Jadi, acara kami adalah acara internal UKM. Peserta kami tentunya harus para senior, sesepuh (alumni), dan juga peserta makrab yang nggak ditunjuk sebagai panitia. Karena acara jatuh pada hari Jumat, mengumpulkan 100 peserta itu cukup susah. Senior sih, bukan masalah. Tapi yang masalah adalah sesepuh dan peserta non-panitia. Sesepuh umumnya udah kerja. Jelas, pergi di hari Jumat adalah hal yang susah karena bentrok sama kerjaan. Sedangkan peserta non-panitia nggak akan mau pergi kalau nggak dapat satuan kredit. Secara logika, ngapain mereka bayar sampai Rp 100ribu cuma buat acara yang nggak jelas tanpa dapat kredit (berupa sertifikat)? Mending duitnya dipakai buat yang lain.

Tapi, apa yang dibilang PJ1? “Kalo lo dan staff lo getol nyari, pasti kekumpul lah, 100 orang“. Jujur, waktu itu aku kesel dan langsung ngatain dia ‘bego’ di balik layar hp. Gimana nggak kukatain bego? Penjelasanku yang udah penuh dengan logika ditolak dan dijawab dengan jawaban kayak gitu. Gimana nggak marah? Kalau si PJ2, dia angin-anginan. Tapi setelah kubilang, “Yaah, itu kemungkinan terburuk. Gue cuma menyarankan Plan B aja“. Kemudian dijawab, “Oh iya, Plan B.. Bener, bener..

I said, “What? Jadi selama ini kalian nggak punya Plan B?“. Sebagai orang yang perfeksionis, ini bikin aku makin kesel.

.

Jadi, yang kukeselin adalah kepanitiaanku yang nggak punya sistem. Ditambah lagi, PJ-nya nggak punya plan B. Ditambah lagi, si PJ1 orangnya bossy. Orang yang suka nyuruh-nyuruh dan nggak memikirkan segalanya dengan matang. Kalau mau contoh satu lagi adalah keputusannya dalam menyuruh Koorbid Acara untuk menandatangani kontrak dengan pihak penyedia tempat yang menjanjikan untuk membawa 100 peserta. Sementara panitia yang terdaftar ada 48 orang dan pengurus ukm sebanyak belasan orang. 48 itu belum dipotong anak-anak yang vacum dan males-malesan buat jadi panitia. Dan itu jumlahnya ada banyak (termasuk staff-ku).

Nahh, dalam kepanitiaan atau organisasi, kita nggak boleh jadi bossy. Karena ini adalah panitia, artinya semua harus kerja. Nggak ada yang namanya nyuruh-nyuruh seenak jidat meskipun kita adalah atasan. Ditambah lagi, yang namanya berorganisasi, kita harus memikirkan segalanya dalam skala makro. Maksudnya, kita harus memikirkan orang lain, memikirkan dampak jangka panjang, serta menyediakan plan B dan plan-plan lainnya.

Aku, sebagai atasan, waktu itu sengaja nggak mengajukan rapat temu muka kalau nggak diajak staff. Kenapa? Karena waktu itu lagi semester pendek dan nggak semua masuk semester pendek. Kalau mau rapat, aku pikir-pikir dulu. Pikir waktunya, serta memikirkan staffku yang tinggalnya nggak dekat kampus. Aku memikirkan waktu mereka yang terbuang, memikirkan segalanya. Dan kuhitung-hitung, temu muka bukanlah rapat yang efisien. Jadi aku nggak pernah ngajak. Cuma sekali, diajak staff, jadi kujabanin.

Sebagai atasan, kita juga nggak boleh nyuruh-nyuruh staff seenaknya. Kita harus mempertimbangkan beberapa hal tentang staff kita. Kalau misalnya mereka nggak ngerti, beri penjelasan, beri guide. Kalau mereka bener-bener nggak bisa, terpaksa minta tolong staff lain atau kita yang mengerjakan. Bukannya kita seenak jidat dan tetap memaksakan. Kalau alasannya logis, aku pasti nggak akan memaksa staff-ku.

Tapi, sebagai atasan, kita juga nggak boleh terlalu lembek. Kalau staff udah kelihatan ogah-ogahan setelah 3 kali diberi tugas, orang itu langsung ku-black list dari daftar panitia. Aku cuma butuh orang yang mau kerja, bukan orang yang mau sok sibuk atau cuma mau dapet sertifikat kepanitaan.

Aku juga sebisa mungkin memberi tugas yang sama rata, sama banyak. Kalau staff bilang nggak bisa mengerjakan sendirian, aku bakal mengutus staff kedua buat mengerjakan. Kalau nggak masih ngeluh juga, baru kumarahin.

.

Dalam organisasi, kita juga harus cerdas. Karena dalam berorganisasi (di kampus), kita nggak cuma belajar bagaimana cara memanage orang, tapi juga menjadi cerdik. Kita harus belajar bagaimana caranya dengan kerja minimal, bisa mendapatkan hasil maksimal. Jelas caranya kita harus efisien waktu, tenaga, dan biaya. Dan hal ini sangat membutuhkan perhitungan, sistem, serta plan cadangan supaya kalau rencana awal gagal, kita masih memiliki plan cadangan.

Plan cadangan juga dibuat bukan cuma sekedar ide. Tetapi juga sudah membentuk sebuah sistem baru yang terpisah dari plan sebelumnya. Semua harus dipikirkan matang-matang agar anak buah juga bisa kerja dan nggak bingung. Mereka pun bisa meluangkan waktu lebih untuk organisasi karena sistem dan tujuannya jelas.

Karena organisasi di kampus masih berupa pelajaran, jelas sebagai atasan, kita harus berpikiran terbuka terhadap saran dan masukan dari bawahan. Bukannya mencerca bawahan dengan tuduhan ‘mendikte’. Karena dalam organisasi, bawahan bukan budak dan atasan bukan bos. Semua bekerja, semua teman, dan siapapun bebas mengajukan pendapat dan masukan.

.

Kalau tadi aku menjelaskan sebagai atasan, sekarang aku menjelaskan sebagai bawahan.

Sebagai bawahan, kita jangan mau diinjak-injak oleh atasan. Kenapa? Karena yang seperti udah kubilang, bawahan bukan budak dan atasan bukan bos. Dalam organisasi, semua bekerja. Jabatan hanya memisahkan tanggung jawab, bukan menciptakan kasta. Jadi, jelas, sebagai bawahan, kalau kita nggak terima atau merasakan keganjilan atau ingin menyampaikan pendapat, kalian bebas mengajukannya. Nggak usah takut kalau nantinya bermusuhan karena pendapat kita dianggap tidak valid sebagai bawahan. Kalian bebas keluar kalau organisasi nggak membuat kalian nyaman. Mempertahankan harga diri itu penting.

Sebagai bawahan, kita memang harus melaksanakan tugas semaksimal mungkin sebagai wujud tanggung jawab. Kita nggak boleh menggantungkan diri pada atasan karena atasan kerjanya mengawasi dan memanage kalian. Apa yang mereka suruh, harus ditaati. Tapi kalau kalian memang nggak bisa, kalian bilang dengan jujur alasannya (dan sebisa mungkin bukan karena malas). Kalau kalian nggak bisa, kalian juga berhak meminta petunjuk dari atasan.

Sebagai bawahan, kita juga jangan terima dimarahi atau dibentak-bentak kalau kita memang nggak salah. Kalau kalian nggak merasa salah, kalian harus menjelaskannya. Dan jelas, alasan harus logis dan jujur, bukannya untuk melarikan diri dari masalah. Kalau kalian memang salah, kalian minta maaf dan perbaiki kesalahan kalian. Bertanggung jawab gitu.

.

Oke, sekian aja tentang organisasi. Sebenarnya masih banyak yang mau diomongin, cuma nggak tau gimana kata-katanya. Jadi, ya sudah lah..

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s