Jadi, ketika malam minggu kemarin, aku dan Sherly kembali ketemuan. Seiring habisnya rokok, obrolan kami jadi semakin berat. Salah satu topik obrolan kami adalah ‘apa yang salah dengan Indonesia‘. Padahal, kita punya sumber daya alam, sumber daya manusia nya juga nggak sedikit yang professor dan bekerja di industri kreatif. Tapi, kenapa rasanya bangsa ini terpuruk?

Di malam itu, aku cerita ke Sherly kalau aku sempat khawatir dengan masa depan bangsa ini. Walau aku cuma pendatang, tapi aku udah menghabiskan (mungkin) setengah dari hidupku di sini. Jadi, Indonesia juga sudah jadi negaraku.. sudah terasa kayak rumahku. Dan sebagai penghuninya, aku berwajib untuk merawatnya.

.

Setelah kupikir-pikir, akar dari permasalahan di Indonesia itu adalah moral dan kemampuan berpikir. Pertama, aku mau membahas soal kemampuan berpikir dulu.

 

Kalau kulihat, dari jenjang SD sampai SMA, semua ujian selalu berdasarkan hafalan. Nggak usah jauh-jauh, ujian di kampusku juga isinya hafalan doang. Bahkan, fisika pun dibikin ujian hafalan ketimbang analisis. Mungkin kalau sejarah, biologi, dan hukum, nggak apa-apa kalau isinya hafalan karena isinya mutlak. Kalau pelajaran lain selain itu, kurasa kita nggak perlu hafalan. Kita butuh analisa. Bahasa sederhananya, mengarang bebas.

Coba, siapa yang dulu pas di pelajaran fisika, kimia, matematika-nya bakal disalahin kalau caranya nggak mirip dengan apa yang dijelasin guru?

Aku udah denger beberapa kasus kayak gini. Dan sebagai pecinta ilmu fisika dan matematika, aku cuma bilang, kasihan gurunya.. nggak bisa cara lain selain apa yang udah dia ajarin. Ckckckck..

Begini, ya. Fisika, matematika, dan sebagian dari kimia adalah pelajaran yang sangat amat melatih kemampuan analisis. Kenapa pelajaran di atas dimasukkan ke dalam bidang IPA? Karena IPA membahas segala pelajaran yang membentuk logika. Dan cara membentuk logika adalah dengan menganalisis. Dengan anda menyuruh murid anda menghafal cara yang anda berikan, itu sama aja menyuruh mereka yang ingin melatih logika untuk masuk ke kelas IPS yang lebih mengarah pada hafalan.

Di dalam IPS pun terdapat banyak hal yang berhubungan dengan analisis. Di sana ada ekonomi dan sosiologi yang menurut saya, sangat amat membutuhkan kemampuan menganalisis. Karena background saya adalah ekonomi dan IPA, jadi saya tau betul seluk beluk kedua kubu IPS dan IPA.

Oke, let’s push IPA and IPS aside..

Inti yang mau saya bicarakan adalah, kebanyakan ujian di sekolah memberikan ujian hafalan. Terlebih lagi, ada guru yang nggak menerima jawaban murid yang tidak sesuai dengan titik-koma-nya. Sehingga, mereka mati-matian berpaku pada ingatan, sementara otak mereka tidak pernah diasah untuk menganalisis. Karena mereka berpaku pada ingatan yang kadang tidak bertahan lama, dan karena mereka diberatkan dengan kewajiban mereka untuk mendapatkan nilai bagus, mereka pun pada akhirnya menyontek.

Jadi, kalau ingin mengajarkan anak untuk tidak mencontek, berikan ujian analisa dibanding ujian hafalan. Kalau memang dengan ujian analisa anak masih berusaha mencontek, berarti mereka sudah nggak bisa berpikir lagi.

 .

Menurut saya, apa yang salah dengan rakyat Indonesia adalah moral. Tetapi kemarin (sebelum ketemu Sherly), saya kembali berpikir ‘bagaimana cara menumbuhkan moral masyarakat?‘. Dan saya butuh waktu berbulan-bulan untuk memikirkannya sampai saya bertemu Sherly dan mengemukakan pendapat saya. Hal yang saya sadari adalah bahwa moral selalu didasari dengan harga diri. Dan harga diri selalu didasari dengan berpikir.

Ya, selanjutnya, aku mengerti apa yang sedang terjadi dengan Indonesia. Rupanya akarnya memang dari pendidikan. Pendidikan yang mementingkan hafalan dibanding kemampuan berpikir murid-murid. Sehingga generasi muda tidak terbiasa berpikir. Dan ketika dewasa, ketika diajak berpikir, mereka cenderung malas karena nggak terbiasa. Karena mereka sudah malas berpikir dan mencontek itu sudah membudaya, maka ketika dewasa, hal yang bisa mereka pikirkan hanyalah jalan pintas yang kotor dan dangkal.

Banyak saya temui teman-teman saya yang cukup malas berpikir. Awalnya saya kira karena memang sudah pada dasarnya pemalas. Tapi saya sadar, kalau budaya malas berpikir sudah ditanamkan pada mereka tanpa sadar sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Hal ini lah yang saya sadari sebagai akar dari keterpurukan bangsa.

.

Berikutnya, dari moral.

Karena dasar pemikiran saya yang ‘moral tumbuh karena berpikir‘, jelas 2 alasan yang sudah saya sebutkan saling berkaitan. Kenapa saya bilang moral tumbuh karena berpikir? Karena eh karena, manusia yang berpikir akan menciptakan logika dasar yang kuat. Setelah logika dasar terbentuk, maka mudah bagi setiap orang untuk berpikiran terbuka dan melihat dari berbagai perspektif. Ketika manusia sudah melihat dari berbagai perspektif, maka mereka akan mengerti dengan tingkah laku sesamanya. Melihat dari berbagai perspektif juga menimbulkan hasrat untuk ‘memperlakukan orang sebagaimana ia mau diperlakukan‘. Sehingga, sebisa mungkin seorang individu tidak ingin merugikan orang lain.. dan dalam tahapan ini, saya sudah menyebutnya sebagai Moral. Dan moral menciptakan harga diri.

Ketika seseorang mengalami krisis moral, maka seorang individu kerap melakukan tindakan yang merugikan individu lain, atau bahkan banyak individu. Krisis moral pada bangsa Indonesia ditandai dengan adanya doktrin ‘banyak uang = sukses‘. Dengan adanya doktrin ini, setiap individu kerap melupakan tujuan dirinya diciptakan dan menjual jiwa mereka hanya untuk harta belaka.

Maksud saya adalah..

Jaman sekarang, ada berapa banyak orang yang memilih jurusan yang berujung pada pekerjaan yang ‘menjanjikan’ seperti jurusan Akuntansi, Hukum, atau Kedokteran? Saya sering mendengar beberapa kalangan yang menjelek-jelekkan jurusan lain seperti jurusan Seni, Filsafat, dan semacamnya karena dianggap tidak memberikan prospek bagus di dunia karir.

Kenapa bisa demikian? Karena adanya doktrin ‘banyak uang = sukses’. Karena adanya doktrin inilah, maka banyak orang masuk ke dalam jurusan-jurusan ‘menjanjikan’.. atau ada pula orang tua yang memaksa anaknya untuk masuk ke dalam jurusan-jurusan ‘menjanjikan’ tersebut.

Doktrin ini terbentuk karena krisis moral tiap manusia. Manusia yang kehilangan kepercayaan diri dan harga diri sehingga lebih baik hidup untuk mencari uang. Karena doktrin ini pula, bangsa Indonesia tampak lebih memilih produk luar negeri. Dalam kasus ini, doktrin tersebut menimbulkan doktrin baru yang berisi: ‘barang mahal = status sosial tinggi‘.

Kasus lain yang ditimbulkan doktrin ‘barang mahal = status sosial tinggi’ adalah menurunnya value pada produk-produk dalam negeri. Sehingga, untuk dapat bersaing dengan produk import, produk lokal terpaksa menaikkan harga demi menutupi cost yang sudah dikeluarkan. SEHINGGA, barang dalam negeri semakin tidak dipandang karena dianggap terlalu mahal.

Nah, karena barang import lebih dipandang, para ‘petinggi’ memandang usaha ekspor-impor lebih menggiurkan dibandingkan menolong produsen produk lokal. Sehingga kasus ini menjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya.

.

Jadi, inti yang saya katakan adalah..

Dengan berpikir, maka bangsa Indonesia menjadi terpelajar karena memiliki logika dasar. Dengan logika dasar, pikiran jadi lebih terbuka sehingga manusia lebih bermoral dan memiliki idelisme yang realistis. Dengan idealisme ini, manusia memiliki harga diri tinggi dan juga percaya diri yang tinggi. Dengan harga diri dan kepercayaan diri, maka setiap rakyat Indonesia akan menjadi kreatif dan berani bersaing, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang baru yang menjanjikan. Dengan terciptanya lapangan pekerjaan baru, pengangguran dapat dikurangi. Dan dengan adanya harga diri, doktrin ‘banyak uang = sukses’ dan ‘barang mahal = status sosial tinggi’ pun menghilang. Dengan begitu, koruptor pun semakin menipis, dan lama kelamaan menghilang.

Tapi, jelas.. akar dari segala keterpurukan bangsa ini adalah sekolah. Ada yang salah dengan sistem sekolah di Indonesia dan hal ini harus segera diperbaiki apabila rakyat Indonesia tidak ingin negara ini terjerumus ke dalam lubang hitam.

.

Jujur, awalnya saya pikir, menumbuhkan moral pada setiap generasi muda adalah hal yang sulit. Tetapi rupanya, tidak. Murid cukup diberi kebebasan berpikir dan berkreasi. Biarkan mereka menjadi diri mereka. Latih mereka untuk berpikir sistematis dan logis.

Karena yang saya lihat sekarang, sistem pendidikan di Indonesia sangatlah fucked up. Pelajaran PKK dihilangkan, pelajaran Seni tidak berkembang, pelajaran non-eksak tidak dihargai, dan pelajaran eksak harus dilewati dengan kemampuan menghafal maksimal.

Dengan menghafal maksimal, otak jadi lebih cepat lelah. Karena itu, murid-murid jadi malas berpikir. Sudah tidak dilatih, otak mereka sudah capek duluan dipakai untuk menghafal mati pelajaran-pelajaran sekolah.

.

Something must be done.

Kalau nggak, negara ini cuma perlu menunggu 50 tahun sampai kehancuran melanda.

 

Sekian.

Yuk babai.

 

MUKEGILE!!!

 

ps: kalau hal di atas diterapkan, perkiraan saya, negara ini akan berubah total dalam waktu 50-100 tahun.

6 thoughts on “Apa Yang Salah Dengan Indonesia?

  1. Udah serius2 bacanya. Eh, ada MUKEGILE nya. Sungguh anti-klimaks zzz. Hih.

    Tapi gue sepakat sama lo soal pendidikan. Pendidikan emang akar dari kemajuan bangsa. Kenapa bangsa sini gag keliatan maju? Itu tuh para pengede-penggede emang gag mau generasi mudanya pada pinter. Makanya lebih suka spend anggaran buat subsidi BBM (kemaren2) dan bayarin dampak buruk yang dihasilkan PT. Lapindo. Tuh liat, di APBN masup dong biaya penggantian dan buat korban yang kena dampak. Padahal kan sebenernya itu tanggung jawab PT. Lapindo.

    Kalok generasi muda pada pinter, para generasi tua-kerak ini gag bisa ngebegoin rakyat lagi. Ya jadi makanya anggaran untuk pendidikan dibikin 30% dari APBN aja deh.

    Brengsek memang. Tapi, kita bisa apa? *sigh*

    Like

    1. hemm, bisa apa ya? susah juga.. kepikirannya cuma jalan kriminal. tapi nggak dewasa banget pake tindak kriminal. mau pake cara pinternya era.. …kayaknya otak mereka nggak sampe. gimana dong? :’v *malah balik nanya*

      Like

    2. Gampangnya sih membebankan ke generasi ‘spesial’ yang lo bilang udah banyak yang terlahir di tahun 90an kemarih. Tapi, tetep kek kata lo, kita harus nunggu minimal 50 tahun lagi untuk itu. *BGM: Sekarang atau 50 Tahun Lagi by Yuni Shara & Raffi Ahmad*

      Like

    3. *abaikan bgm nya*
      kalau nunggu mereka, bakal lebih lama. bisa 100-150 tahun lagi itu mah. karena nggak semua orang2 itu mau jadi politisi kayak si mister. :v

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s