Hemmm, entah ini pantes buat diomongin atau nggak. Tapi kayaknya, boleh lah, diposting sedikit tentang hal ini.. sekali-kali ngomongin hal ringan. Ngomongin cewek sendiri. Ngegosip gitu, ceritanya. *benerin lipstik*

.

Jadi, sejujurnya, akhir-akhir ini aku ada masalah sama Diana. Kemaren mencoba buat mengabaikan masalah karena udah kangen mampus sama dia. Tapi rupanya gagal. Karena masalah belum selesai, jadinya kebawa-bawa lah masalah itu pas berantem lagi. Ujung-ujungnya, nggak selesai-selesai.

Yang kemaren putus juga sebenarnya karena insecurities dalam diriku. Mendadak, tingkat kepercayaan diri ngedrop sampe minus 49. (because minus 50 is too mainstream)

Masalahnya apa, jelas aku nggak akan bahas di sini. Intinya sih, cuma mau ngomong, alangkah senangnya udah bisa balik lagi kayak dulu. Karena yang pas balikan kemaren, rasanya sedikit lebih awkward. Bagiku, terkesan maksa. Entah dia yang maksa, atau aku yang maksa. Who knows. Tapi yang jelas, kemaren itu aku masih belum ngerasa nyaman sama dia. Kayak masih ada yang ngeganjel, tapi kupaksain bilang ‘nggak ada apa-apa’.

 

Nah, semalam, aku ajak dia ngobrol. Awalnya cuma mau ngobrol ringan kayak ngomongin film atau apa gitu. Tapi ujung-ujungnya, kami malah berantem. Adu bacot lah, di Yahoo! Messanger. Dia memberikan argumen dia dan defence nya dia, aku juga sama. Sama-sama nggak mau kalah. Aku jelasin secara runtut apa yang aku nggak suka dari hubungan kemaren. Semacam ngasih feedback gitu ke costumer service. Bedanya, ini boyfriend service. #jayusss

Habis kami adu bacot, alasan dari dia pun perlahan mulai bisa kucerna. Dia bilang, dia sengaja ngikutin kemauanku karena aku ornagnya angin-anginan (hiks). Dan aku orangnya gampang meledak kalau marah (emang). Jadi dia lebih milih ngikutin apa mauku dibanding kontra dan adu bacot denganku (im not a good boyfriend.. “orz).

Setelah adu bacot, adu caps jebol, lama-lama obrolan kami jadi ngaco. Melenceng entah kemana dan ujung-ujungnya ngejayus. Ngejayus selama beberapa menit, dan tanpa sadar, kami lunak lagi. Suasana balik kayak dulu. Kayak waktu kami awal-awal pacaran. Aku ngatain dia Brunette, dia ngatain aku.. …botak. *pegang-pegang rambut*

Pas suasana udah tenang, kami ciuman virtual (…iya, tau, nggak banget). Habis itu aku bilang, “Kayaknya kita jadi sering berantem karena udah lama nggak berkomunikasi“. Dan dia ngejawab, “Dan udah lama nggak melakukan sexual intercourse“.

…Well, okay..

Setelahnya, dia ngundang buat dateng ke rumah dia. Tapi terpaksa kutunda karena lagi nungguin orang rumah buat jagain Kai. Setelah salah satu temenku datang, aku titip Kai ke dia, habis itu aku pergi ke rumahnya naik motor.

Sesampainya di sana, yaaa, dia nyium aku. Cukup lama.. habis itu kami ke kamarnya buat melakukan hal-hal Rated M. Dan ini, aku baru balik dari sana habis asik ngobrol sambil minum-minum.

.

Setelah kejadian itu, aku baru sadar. Yang penting dalam sebuah hubungan bukanlah masalah mirip (dalam hal hobi, dll) atau nggak. Tapi masalah komunikasi, toleransi, interaksi, dan tentu saja, sexual intercourse.

Bagiku, mereka yang langgeng adalah mereka yang sebenarnya cuma memiliki sedikit kemiripan. Lalu, menjelang ke masa depan, masing-masing saling mencocokkan. Jelas bakal ada berantemnya.. dan bagiku, berantem itu adalah proses penyesuaian. Kalau ada orang putus gara2 sering berantem, artinya mereka nggak bisa menyesuaikan lagi. Dan mungkin bagi sebagian orang, itu udah harga mati, sehingga mereka harus putus dan cari orang baru.

Aku sama Diana banyak berantemnya. Dan itu nggak bisa dihitung pakai jari. Bener-bener banyak. Mulai dari hal kecil, sampai hal yang bener-bener fatal pernah jadi alasan berantem kami. Tapi, lihat.. kami jadi langgeng. Makin dekat, makin tau seluk beluk masing-masing. And it feels awesome.

 

Buat sexual intercourse, karena di Indonesia hal ini cukup sakral dilakukan, mungkin sexual intercourse-nya cukup ciuman aja. Tapi, ciuman bukan karena nafsu birahi, ya. Ciumanku sama Diana itu cuma menunjukkan kalau kami bener-bener menyayangi, bener-bener memiliki hubungan yang spesial. Aku nyium Diana bukan karena aku sange. Tapi karena aku merasa Diana sebagai sesuatu yang berharga, sesuatu yang bener-bener kusayang. Satu-satunya simbol sayang-ku dan pernyataan-ku terhadap hubungan spesial kami, mungkin, adalah ciuman itu.

Jangan menyalah-gunakan ciuman yang kumaksud untuk memenuhi nafsu birahi. JAGA KESUCIANNYA!! JAGA!! JAGA!!! JAGAAAA!!! *guncang-guncang badan para readers*

Ehem,

Iya, intinya, ciuman yang kumaksud itu sangat sangat suci, bagiku. Ciuman itu adalah simbol kasih sayang, simbol keintiman, simbol sesuatu-yang-nggak-bisa-kuungkapkan-dengan-kata-kata. Dan hal lain (yang bukan sexual intercourse) adalah cuddling atau saling berpelukan, ngulet-ngulet di kasur, and just let the time flows. Dan aku cukup sering melakukan ini sama dia. Apalagi kalau di luar hujan. Aku meluk dia dari belakang, meluk pinggangnya, nyium rambutnya yang aroma shampo aduhai, terus cuma menikmati momen-momen unyu ini. (tsah!)

.

Oke lah, segini dulu curhatnya. Huehuehue..

 

Ciao!

 

ps: ciuman bisa dibilang sexual intercourse kan ya?

6 thoughts on “Relationship

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s