I have a ‘mom’. Her name is Natasha, and she’s my friend’s girlfriend. Dia umurnya nggak jauh beda denganku.. 24 jalan 25, kalau nggak salah. Badannya juga lumayan kecil. Mirip Lily di How I Met Your Mother. Rambutnya hitam, kulitnya agak putih kayak orang sunda. Orangnya manis, sih. Keibuan.

Nah, ini kenapa aku panggil dia Mama. Karena dia keibuan. And something happened to her yang bikin dia pingiiiinnnnn banget punya anak. Pas tau ceritaku sama Kai, jadilah dia menawarkan diri buat jadi ‘ibu’ kami. Awalnya kupikir dia bercanda, tapi rupanya nggak. Sikapnya, perlakuannya, udah kayak ibu beneran. Tapi aku nggak terlalu menganggapnya ibu, sih. Nggak kayak Kai, maksudnya. Kai yang bener-bener manja ke dia kayak anaknya beneran.

Walau dia udah punya Kai yang bisa bikin dia merasa lebih ‘ibu’, dia tetep getol manjain diriku karena udah dianggap anaknya beneran. Aku yang nggak suka manja kecuali sama Diana, agak-agak gimanaaaaa gitu. Cuma nggak mau terkesan anak mami, sih. Padahal kalau dimanjain, nggak ada bedanya sama Kai. *tiduran di pahanya Natasha sambil ngenyot jempol*

Not that I dont want a mother.. Tapi aku udah biasa hidup tanpa orang tua. Dan mungkin, yang lebih membutuhkan kasih sayang ibu adalah Kai. Jadi.. aku maunya dia juga fokusnya ke Kai. Gitu..

.

Kemarin, aku ngobrol dengannya di YM. Dia lagi capek kayaknya gara-gara lagi menstruasi. Jadi jawabnya agak-agak gimana gitu. Aku bilang ke dia di dalam chat window,

Ma,

Hmm?

Ada sesuatu yang ingin kulakukan dari dulu.

Apa itu?

*jalan ngangkang sambil neteng-neteng celana* …Mak.. Eek, Mak“, tulisku di chat.

…?

…Bersinih sendiri.

…Dasar ibu jahat. Anaknya eek bukannya dibersihin. *mainin eek sendiri*

 

…Ehem,

Demikianlah percakapanku kemarin dengan seseorang yang merelakan dirinya untuk menjadi ibu-ku. Sungguh kurang beruntung, kan?

Habis itu dia off sih. Buat tidur gara-gara capek.

.

Aku sama dia lumayan sering berantem. Alasan utamanya karena aku emang orangnya kasar dan dia menempatkan diri sebagai ibu. Jadi kalo ngeliat aku ngomong kasar, udah berasa ngeliat anaknya sendiri ngelawan sama ibunya. Jadi dia nanya, kenapa aku kasar, aku nggak terima dibilang kasar, adu bacot, akhirnya berantem. Alasan kedua adalah (mungkin) karena aku menganggap hubungan ibu-anak ini cuma main-main. Jadi aku nggak pernah serius menanggapi role sebagai ‘anak sulung’. Makanya aku lebih menganggapnya temen dibanding ibu. Maybe nganggep kakak, kali ya, karena dia juga lebih tua. Alasan ketiga adalah karena aku nggak terbiasa punya hubungan-hubungan kayak gitu. Ada beberapa orang yang meng-klaim jadi ibuku, kakakku, dan adikku. Aku sih, secara pribadi, menganggap hubungan ini cuma main-main. Cuma sekedar ‘kakak-kakakan’, ‘ibu-ibuan’, dan ‘adik-adikan’. Tapi anehnya, mereka menganggap hubungan ini serius. Jadi pas aku bersikap melenceng dikit, mereka marah.

Harus kuulang-ulang bahwa aku nggak pernah menganggap hubungan-hubungan di atas itu serius. Satu-satunya adikku ya cuma Kai. Dan aku nggak punya ibu, apalagi kakak. Bukannya aku gimana-gimana.. tapi, ngapain sih, main gituan? Kayak anak SD aja. –”

Yaah, bagi mereka, mungkin ini serius. Sesuatu yang emang harusnya jadi serius. Tapi bagiku, nggak. Dan mungkin juga karena aku udah terbiasa sendirian, apa-apa ngerjain sendiri, keluargaku cuma Kai. Kalau pun ada bapak, orangnya nggak kuanggap ‘bapak’. Kalau pun ada ibu, orangnya pergi entah kemana. So, I think, all that kind of relationship is fucking stupid and fucking annoying. Yang lebih annoying lagi adalah.. kalau mereka marah karena aku nggak serius. Dalam artian aku bersikap sewajarnya. That’s fucking annoying.

Ish!!

.

Tapi, setelah aku diskusi sama Kai soal ini, anaknya malah bilang, “Yaa, mungkin kamu emang butuh waktu buat menyesuaikan diri. Kamu selama ini ngapa-ngapain sendirian, mandiri. Dan kamu nggak pernah ngerasain rasanya jadi ‘yang lebih muda’. Jadikan aja ini kesempatan kamu buat nyoba jadi ‘yang lebih muda’. Kali-kali kamu seneng. Aku seneng, kok, jadi ‘yang lebih muda’ pas sama kamu dan Mama.

Gitu..

Udah nyoba..

Dan nggak berhasil. Aku orangnya kelewat egois, sih. Kebiasaan jadi mandiri, in charge, jadi lebih suka ngatur-ngatur. –”

.

Udah lah, segitu dulu.

 

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s