Sebenarnya ini postingan yang sangat kontra dengan judulnya. Cuma, judul yang ada ‘dont‘nya itu sangat nggak enak diliat. Jadi mending ‘dont‘nya diilangin aja. Huehuehuehue

.

Jadi, seperti biasa, habis ketemu Sherly, pasti ada aja yang bisa kutulis. Tapi topik ini bukan sesuatu yang kami obrolin tadi. Ini cuma kepikiran pas lagi ngobrol sama dia. Kenapa bisa berpikiran kayak gini? Karena Sherly tadi beli Kinder Joy. Dan di setiap Kinder Joy (yang telor) pasti dapet hadiah mainan. Nah, Si Sherly mainin hadiahnya, terus bilang, “Hahaha, maklum, pas masa kecil nggak ada mainan kayak gini”. Terus aku bilang, kalau itu biasa aja. Habis itu dia menjawab, yang intinya, ‘bagi orang lain, main kayak gitu itu anak kecil banget’.

Well, ini yang mau kubahas. Menanggapi hal itu, aku jawab, “Yaa, kan itu bagi orang lain. Masa kenyamanan kita diatur-atur orang?”. Dari situ, aku mendadak pingin ngeblog karena kulihat, banyak kasus serupa dan terjadi pada orang banyak.

.

Bagiku, hidup itu adalah anugerah. Diri kita adalah diri kita, dan nggak ada yang bisa merubah itu kecuali orang yang merasa dirugikan (hehe). Kita hidup untuk diri kita sendiri, bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Sayangnya, kebanyakan orang sengaja hidup di bawah ekspektasi orang lain demi diterima atau ingin dipandang. Dan menurutku, yang beginian larinya ke masalah percaya diri.

Banyak orang sengaja merubah siapa dirinya, sengaja mengubah hobinya, bahkan cara berpakaiannya demi diterima orang banyak dan menghindari judgement dari orang-orang. Ada pula yang lebih ekstrim, setiap ada judgement negatif tentang dirinya, dia langsung berubah demi nggak dijudge.

Menurutku, itu salah dan bisa merusak mental orang. Kenapa? Karena ketika kita mengikuti judgement orang, atau apa kata orang, artinya kita mengingkari siapa diri kita sebenarnya (ini dalam hal positif ya, bukan negatif). Dan karena mengingkari diri kita yang sebenarnya, tanpa sadar, kita jadi stress dan depressi. Semua serba salah, orang-orang nggak pernah puas. Akhirnya? Hancur.

Hidup itu jangan mengikuti ekspektasi orang-orang. Jangan biarkan orang lain mengatur kenyamanan kita. Diri kita adalah diri kita. Kalau mereka nggak mau menerima diri kita apa adanya, ya nggak usah temenan sama mereka. Teman sejati nggak akan membiarkan diri kita berubah menjadi orang lain (yang bukan kita). Kalau anda temenan sama orang yang berusaha merubah diri kita yang sebenarnya, jangan kaget kalau suatu saat mereka akan meninggalkan kita meski karena hal sepele.

.

Bagi orang-orang yang merasa hidup di bawah ekspektasi orang lain, lebih baik sudahi saja. Jangan lagi menyiksa diri dengan menjadi ‘seseorang’ yang lain selain diri anda. Kalau kau nggak suka dengan apa yang mereka suruh, ya tolak. Contohnya, ada yang bilang, “kenapa pakai baju itu sih? kenapa nggak pakai baju ini?”. Kalau memang kau nggak suka baju itu, dan bagimu nggak nyaman saat memakainya, bilang kalau kau nggak nyaman. Meskipun ada kemungkinan orang itu bakal bilang, “ih, gue nyaman-nyaman aja”, silakan jawab, “ya itu elu. Gua kan bukan elu”. Gitu.. #provokator

Yaa, bukannya apa-apa. Tapi, kita kan bukan budak orang lain. Kenapa kita harus diatur-atur biar sesuai dengan standard nya dia? Selama kita nggak merugikan atau menyakiti dia, kita bebas menjadi diri kita. Mau pakai baju apapun, selama kita merasa nyaman dan pede, kita berhak berpakaian demikian.

Sama kayak Sherly tadi. Memang kenapa kalau kita suka mainan anak-anak? Toh, kita nggak mengganggu. Kenapa? Apakah kalau mainin mainan anak-anak kita jadi kelihatan idiot? Atau ngerasa aneh, karena badan gede tapi suka mainan anak-anak? Itu sih, salah ngana yang jiwa anak-anaknya udah mati. You’re dead inside, man.

.

Aku pribadi sebenernya suka beli happymeal McDonald’s pas lagi ngeluarin mainan Spongebob. Dan aku nggak masalah dilihatin sama orang-orang yang memandangku dengan tatapan aneh. Kalau aku suka, ya aku beli. Toh, uang juga uangku, bukan uang mereka. Yang bakal menikmati juga aku, demi kesenanganku. Salah?

Tiap orang kan memang beda-beda. Bagi mereka, mungkin belanja barang bermerek yang memuaskan mereka. Bagiku, belanja mainan, permen, rokok, dan minuman keras yang bakal memuaskanku. Aku nggak harus kayak mereka, mereka nggak harus kayak aku. Aku juga nggak maksa mereka buat belanja mainan. Jadi, jangan paksa aku buat ngikutin standard mereka.

Keanehan‘ itu tercipta dari orang-orang yang berpikiran dan berwawasan sempit. Dan orang-orang seperti ini nggak sedikit. Karena banyak, terciptalah ‘standard hidup normal‘ dan ‘keanehan‘ dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Karena orang yang menjadi dirinya sendiri adalah kaum minoritas, jadi mereka terdesak. Orang-orang yang mengalami krisis percaya diri akhirnya jatuh dan rela mengikuti standard hidup normal.

Manusia itu memang beragam. Dan keberagaman itu adalah harta alam. Makanya aku agak sensian sama orang yang mengikis harta alam ini. Padahal manusia begitu indah dengan kerberagamannya, dengan keunikannya, tapi keindahan itu dirampas. Keindahan yang berupa keunikan itu dihilangkan. Keunikan itu ‘dipagar‘ dan dipaksa mengikuti standard hidup normal. Ahh, sayang sekali.

.

Karena itu, aku menghimbau, dont live everybody’s expectation. Just live your life, be yourself, and dont hurt anyone. Kalau orang nggak mau menerima keunikanmu, carilah teman yang mau. Nggak ada manusia yang terlahir sendirian. Kau cuma belum menemukan ‘orang spesial‘ itu. Jangan menyerah buat mencari. Mereka menunggumu dan mereka akan menerimamu dengan tangan terbuka.

.

Udah, segitu dulu.. Maaf kalau agak belibet. Ini konsentrasi nulisnya kepecah :p

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s