Setelah 2 hari bener-bener nggak ada bahan buat ngeblog, akhirnya aku ngeblog juga. Tapi, tunggu.. bukan berarti ini aku ada topik khusus. Cuma sekedar update, biar pembacaku nggak kesepian. :3 #coCwitKaliKauKyle

Hehe.. malam ini, aku menulis sambil ditemani suara rintik hujan yang awet, segelas cokelat panas yang sudah habis, dan seekor makhluk yang wujudnya bagai bidadari.. Diana. 🙂 Karena malam ini sedang hujan dan ini juga merupakan malam minggu, aku ngeblog hal yang ringan-ringan aja, ya. Soal cinta, soal galau, soal apapun yang unyu di kala hujan. Hehehe..

Aku sendiri nggak punya pengalaman unyu dan galau di sepanjang hidupku. At least, sebelum aku mengenal Diana. Cerita pertemuanku dengan Diana udah kuceritakan secara garis besar di beberapa postingan. Jadi, nggak usah diceritain lagi, ya. Hehehe..

Dari kemaren-kemaren, aku udah sakit walau cuma demam biasa. Kemaren juga sempet collapse gara-gara suhu badan sempet nyentuh 42 derajat. Katanya, aku kena gejala tipes. Tapi, emang dasar bandel dan emang nggak pernah betah tinggal di rumah sakit, jadi aku menghabiskan waktu sekitar 12 jam di rumah sakit, di UGD, sebelum akhirnya aku balik pulang ke rumah.

Kalau kuhitung-hitung, aku udah mulai demam sejak 3 hari yang lalu. Tapi demam-demam biasa yang suhunya cuma naik 1-2 derajat aja. Tapi, tepat kemaren subuh, habis sahur, koleps. Dan selama 3 hari itu, tiap malem, ada aja aku berantem sama Diana. Masalahnya masalah sepele. Sepeleeee banget. Saking sepelenya, paginya, pas aku nginget-nginget Diana, amarahku hilang dan aku malah kangen sama dia. Jadilah aku sama dia ngobrol lagi.. bercandaan lagi.

Di waktu koleps itu juga, malemnya sebelum sahur, aku sama Diana sempet berantem. Alasannya nggak jelas. Sangat amat nggak jelas. Jadi, tau-tau kami sama-sama bete, terus aku matiin telpon. Nah, pas pagi aku sadar aku ada di rumah sakit, aku ngeliat Diana udah ada di sampingku. Dan aku sadar betul kalau semalam kami habis berantem.

Aku jadi mikir, “Ini anak, walaupun kita berantem, dia tetep mau nemenin aku di UGD. Jagain, ngasih buah, dll.” gitu. Dan itu emang benar-benar terjadi. Tapi, karena aku lagi bocah kambuh (aku kalau sakit, emang jadi kekanak-kanakan, manja, dll dsb dst), aku cuma nanggepin dia seadanya. Mungkin, dia nganggepnya aku terlalu lemes buat nanggepin. Padahal, itu semua karena aku masih inget kalau kami lagi berantem. (iya, emang bocah banget)

Sepulang dari RS, aku langsung nyuruh dia balik ke kosannya dia. Bagiku, service nya dia cukup setelah aku sampai ke kosan. Setelah itu, bagiku, status kami kembali jadi ‘berantem’. Dan aku bener-bener nyesel udah ngegituin dia. Aku juga nggak sadar kenapa ngusir dia gitu aja. Kalau aku pikir mateng-mateng, jelas aku salah lah. Cowok yang super brengsek ya kayak aku ini. Pacar udah bela-belain nungguin kita pas sakit, begitu udah mendingan, dia kita usir.

Sumpah.. ngerasa brengsek parah. Dan emang itu brengsek abis.

Nah, begitu agak malem, Sherly ngepost-ngepost soal Pinterest. Link yang dia kirimkan, salah satunya adalah bertema Young Love. Isinya, couple-couple yang umurnya masih muda (entah belasan, entah 20an). Ada yang ciuman, ada yang pelukan, ada yang gendong-gendongan. Ngeliat foto-foto itu, aku jadi bener-bener kangen sama Diana. Aku ajak dia ngechat, dan aku kasih liat foto-foto itu. Suasana kami pun mencair lagi. Dia ngambek-ngambekan, aku berusaha ngelonin dia.

Aku berusaha dewasa lagi demi dia. Walau emang kadang pas sakit, tanpa sadar aku jadi bocah, aku berusaha buat nahan. Nggak mau kalah dari alam bawah sadar. Udah cukup bocah-bocahannya. Sekarang waktunya untuk jadi dewasa lagi.

Setelah itu, aku bilang sama dia kalau aku kangen sama dia. Pas kubilang, aku mau nelpon dia, dia nolak karena suatu hal. Aku juga pingin nyamperin dia ke sana, tapi paginya aku ada ujian. Jadilah Diana pergi ke rumahku dianterin temen kosannya dia. Dan sampai sekarang, dia ada di sampingku, ngelonin cowoknya yang lagi sakit ini. Huehuehuehue..

.

Satu posisi yang kusuka pas lagi berduaan di kasur sama dia (jangan ngeres!). Yaitu ketika dia mendekap kepalaku di dadanya. Aku suka itu karena, selain karena dadanya empuk, entah kenapa, aku ngerasa disayang. Dengan dia melingkari kepalaku degan lengannya, aku ngerasa ada yang melindungi kepalaku. Dia juga kadang mencium kepalaku. Dan.. itu bener-bener nyessss. Hangat luar-dalam.

Ada beberapa convo antara aku sama dia di saat kami dalam posisi ini:

May I benemin my muka in your boobies?

… …it’s fine.

*benemin muka*

Enak?

…He eh. Rasanya kayak di surga.

Terus dianya cengengesan dan kepalaku dipeluk lagi. Sempet ketiduran beberapa menit, sih. Hehe..

Ada lagi convo berikut:

*benemin muka* *jidat kena kulitnya yang nggak ketutupan tanktop*

Kyaaa!!

Kenapa? *kaget*

…Panas

… …Iyalah. Orang demam.

.

Mungkin beberapa orang berpikir kenapa kami bisa duduk di kasur tanpa melakukan sesuatu yang mesum. Well, jawabannya mudah: kami sering melakukannya di suatu tempat yang tersembunyi. #DORRR

Nggaaaakk~

Kami bisa begitu karena kami menghormati satu sama lain. Aku, sebagai cowok, jelas aku harus menghormati cewekku lebih dari apapun. Dia perempuan, seseorang yang harus kulindungi.. kewajiban sebagai lelaki. Dia juga orang yang harus kusayang, nggak boleh kupukul atau pun kusakiti baik secara fisik atau pun secara batin dan mental. Dan aku sadar betul, pacaran dengannya bukan berarti aku memiliki tubuhnya untuk kuajak berhubungan intim.

Sejujurnya, aku nggak pernah memandang seorang cewek sebagai objek seksual. Maksudnya, aku nggak pernah ngegodain cewek random di jalan. Kayak nyiulin dia, ngomong kata-kata nggak senonoh kayak ‘neng, cakep deh neng‘ atau ‘mau sama abang nggak?‘, gitu. Aku nggak serendah itu sampai ngegituin cewek. Nggak mau dan nggak suka.

Gini, sex, jelas aku suka. Cowok mana sih, yang pikirannya nggak rated M? Rata-rata cowok dewasa pikirannya udah rated M. Tapi, aku nggak menjadikan ini sebagai acuan utama ketika aku bertemu dengan seorang cewek. Pas ketemu cewek, aku nggak langsung mikir, “wah, bisa gue ajak ngesex nggak ya?” gitu. Kalau kata orang, kalau udah memperlakukan cewek kayak gitu, artinya udah menjadikan cewek sebagai objek seksual. Dan aku nggak suka ngegituin orang.

Kalau motto-ku dalam relationship, kayak gini: “Sex bisa didapatkan dimana-mana walau kadang harus mengeluarkan uang. Tapi kalau kasih sayang dari seorang wanita yang mencintai kita, nggak akan bisa didapat meski membayar“.

Jadi bagiku, sex dan relationship adalah sesuatu yang perlu kupisahkan. Pacaran bukan berarti memiliki tubuh pasangan kita. Dan ini banyak terjadi di beberapa kalangan (khususnya) remaja. Banyak yang menganggap kalau mereka sudah berpacaran, artinya mereka bisa meminta pasangannya untuk berhubungan. Terlebih lagi, sex dijadikan sebagai simbol cinta pasangannya terhadap dirinya. Jadi, kalau pasangannya nggak mau ngesex sama dia, dianggap pasangannya nggak mencintainya.

SALAH!!!

Sex adalah sex. Dan cinta adalah cinta. Jangan disamakan.

Sex bisa didapat dari PSK atau dari siapapun. Tapi cinta, nggak semua orang bisa ngasih. Kalau orientasi hubungannya cuma sex, mending jadi friends with benefit. Cari yang emang sama-sama berorientasi ke hal yang sama. Kalau emang maunya cinta, ya udah, pacaran. Jangan dicampur-adukkan.

.

Studi kasusnya, jelas, hubunganku dengan Diana.

Kalau aku mau ngesex sama Diana, aku nanya sama dia. Kalau dia nggak mau, ya aku muasin diri sendiri aja. Kalau dia mau, yo wess, antara aku ke kosannya dia, atau dia ke rumahku. As simple as that.

Dan sex itu bukan sesuatu yang jorok. Jorok kalau kalian eek nggak disirem, itu baru jorok. Sex itu sesuatu yang suci. Dan ngomongin hal-hal berbau sexual itu sah-sah aja, menurutku. Justru kurasa, blogku ini memberi sex-edu ke beberapa orang yang memang belum mengerti.

Intinya yaa, hargailah orang yang menjadi pasanganmu sekarang. Jangan pandang dia sebagai objek seksual. Pandang dia sebagai manusia yang ingin disayang, ingin dikasihi. Perlakukan dirinya sebagaimana kau mau diperlakukan. Elus kepalanya, cium dengan penuh kasih sayang. Di saat dewasa, kalian hanya akan memiliki satu sama lain. Di waktu kecil, orang tua yang memberikan hal-hal itu. Tapi ketika dewasa, pasanganmu lah yang bakal memberikan kalian kebutuhan-kebutuhan batin tersebut. Ibarat kata.. dia adalah pengganti orang tuamu kelak. Jadi, tolong hargai.

.

Hehe.. obrolannya jadi berat gini. Padahal cuma mau ngomongin soal relationship aja.

Intinya.. ya itu. Hargai pasangan kalian. Terutama kalian, para cowok yang straight. Hargai cewek kalian. Jangan lihat mereka sebagai objek seksual. Mereka manis, mereka cantik, mereka penyayang.. sayangi mereka. 🙂

.

Udah ya~ Si Diana malah nangis baca kalimat terakhirku. :3 *malu2* *diseret di aspal*

Ciao!

2 thoughts on “Di Kala Hujan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s