100TH POST!!!

YAY!! THIS IS MY 100TH POST ON THIS BLOG!!!!

*tebar-tebar konfeti* *ledakin kembang api* *kebakaran*

.

Ehem.

Yak, jadi, ini adalah post saya yang keseratus sejak awal saya bikin Abang Kyle’s Blog. Sebelumnya saya ngepost-ngepost di sebuah url junk buat pelampiasan mood swing yang sangat menyebalkan. Nggak usah capek-capek, karena url itu udah nggak ada sekarang. Udah dihapus karena isinya malu-maluin.

Nah, mari mengenang segala post yang ada di Abang Kyle’s Blog ini..

Post-post kebanyakan kutulis sebagai respon terhadap sesuatu yang kudengar, kurasakan, atau kuperhatikan. Sebagian pelampiasan rasa kesal, sebagian penyaluran komentar yang nggak muat ditulis di twitter, sebagian lagi adalah latihan menulis. Isinya macem-macem.. ada yang tentang Kai, tentang cinta dan Miss D, ada yang tentang agama, tentang pendidikan, teori konspirasi ciptaan sendiri, ada yang curcol juga, dan lain sebagainya.

Komentar-komentar yang sering kudengar tentang blogku adalah soal pendapatku yang ekstrim. Apalagi soal agama. Komentar-komentarku kedengerannya emang terlalu.. apa ya.. ekstrim lah, pokoknya. Saya punya pandangan sendiri, dan kadang pandangan itu terlihat tabu di mata sebagian besar orang. Yaah, apapun itu, itu kan pendapat saya.. hak saya dong buat menyampaikan dan mengutarakannya. Termasuk sebagian besar isi blog ini. Semuanya pure pendapatku. Hakku sebagai manusia untuk berpendapat.

Sejauh ini aku belum denger komentar negatif. Entah itu hal-hal yang kontra dengan pemikiranku, atau ada orang kurang kerjaan yang emang suka komentar negatif tentang orang lain. Kalau pun ada yang kontra, biasanya nggak ekstrim atau pandangannya nggak jauh-jauh dari pandanganku.

Yaah, alhamdulillah.. *benerin sarung*

.

Oke, sekian dulu postingan keseratusnya. Semoga kalian suka dengan isi blogku, semoga kalian nggak bosan dengan isi dan pembahasan yang kutulis di sini, semoga kalian bisa terhibur dengan apapun yang kutulis, semoga juga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisanku yang jumlahnya udah cukup banyak ini. Semoga kalian masih terus menjadi pembaca setia sampai suatu saat nanti saya berhasil meraih mimpi besar saya sebagai penulis/pengamat ekonomi. Semoga kalian masih mau mendukung saya yang cukup hina ini sebagai manusia dan sebagai penulis. Dan juga, semoga suatu saat kita bisa bertemu muka dan ngobrol langsung sambil ngudud di taman PS. Muahahahahaha.. (amiiiinnnn)

Wish you all the best, wish you all the luck, god bless you. I love you all. Thanks for reading my blogs, for commenting on them. Thanks for being such a supportive reader. Kalian semua, baik yang pernah komen atau yang nggak, views kalian selalu bikin saya bersemangat buat bikin blog. Selalu bikin saya semangat dan berani dalam menyampaikan pendapat. Membantu saya buat berkembang dan jadi manusia yang layak.

Semoga Tuhan selalu memberkati kalian. Semoga impian kalian tercapai. Saya juga punya cita-cita.. semoga kita bisa mewujudkan cita-cita kita bersama. 🙂

I start from nothing to be something. I start from no one to be someone. I start from zero to be infinity.

.

Selamat malam jumatan. Jangan rajin-rajin liat keluar jendela..

Ciao!

“Introspeksi Diri, dong!”

Ada berapa orang yang sering mendapatkan jawaban ini pas lagi berantem sama temen, adik, sahabat, atau pacarnya? Ketika mereka tau-tau menjauh, menunjukkan sikap permusuhan tanpa alasan yang kalian ketahui. Terus pas kalian memberanikan diri buat bertanya apa yang salah atau apa salah kalian, mereka hanya menjawab, “Introspeksi diri, dong!”. Kurasa beberapa orang sering mendapatkan jawaban demikian. Entah dari beberapa orang berbeda, atau dari orang yang sama. Termasuk aku.

Dulu, aku sering dapat jawaban demikian dari orang yang menunjukkan sikap permusuhan denganku. Walau kadang, ada yang menghindar dariku.. menghindari percakapan karena mereka lagi ‘slek’ denganku. And you know what, that is the most sissy answer i’ve ever heard. Yeah, sissy and bitchy.

Aku termasuk orang yang membenci jawaban demikian. Kenapa? Karena aku udah berusaha memperbaiki keadaan, berusaha mencaritau kesalahanku demi memperbaiki hubungan. Tapi, usahaku disia-siakan begitu saja dengan jawaban, “Introspeksi diri, dong!”.

Selain aku, ada juga beberapa temanku yang mendapatkan jawaban yang sama. Kayak dulu, ada anak baru di kelasku yang datang dari kota lain. Karena beda kota, beda budaya, aku jadi mengerti perbedaan sikap dan attitudenya. Jadi bagiku, dia nggak semenyebalkan yang teman-teman sekelasku pikir. Teman-teman sekelasku menunjukkan sikap permusuhan dengan menjauhinya, menjawab pertanyaannya sesingkat mungkin, dan semacamnya. Aku yang nggak mengikuti kubu apapun, berusaha berbaur dengan teman sekelasku untuk mendapatkan informasi tentang sikap mereka yang kontra dengan teman baru kami. Setelah kudapat, akhirnya aku bicara 4 mata dengan anak baru itu dan akhirnya dia bisa berbaur. Teman-teman sekelas sebagian besar udah nggak kontra lagi, dan akhirnya dia dapat banyak teman di kelas maupun angkatan.

Sama seperti kebanyakan orang, dia pernah bertanya sama teman-teman sekelas dan mendapatkan jawaban “Introspeksi diri, dong!” dari beberapa orang. Setelah mendapat jawaban itu, dia hanya merasa nggak lebih dari dijauhi tanpa alasan.

.

Bagiku, orang-orang yang hanya menjawab demikian nggak lebih dari pengecut. Why? Karena ketika orang membenci atau nggak suka sama orang lain, mereka cenderung mencari teman bicara untuk membicarakan keburukan yang mereka temui. Tapi begitu orang yang bersangkutan (yang merasa nggak salah apa-apa) bertanya pada mereka, mereka cuma jawab, “Introspeksi diri, dong!”. Well, dia bisa nggak suka sama orang, membicarakan orang tersebut di belakangnya, tapi begitu berhadapan 4 mata, mereka kicep dan cuma bisa jawab “Introspeksi diri, dong!”.

Kemana alasan-alasan yang sering kau bicarakan di belakang orangnya? Kayaknya pas ngegosip, banyak alasan yang keluar. Tapi kenapa pas orangnya nanya, nggak ada satupun yang keluar? Bukannya itu kesempatan bagus buat mengutarakan ke-nggak-suka-an kalian sama orang yang bersangkutan? Atau kalian cuma berani di belakang? Atau kalian memang nggak mau dia berubah karena kalau dia berubah, kalian akan kehilangan obrolan manis dengan teman-teman kalian?

Ha. Dasar cupu.

.

Ketika orang bertanya apa yang salah dengan mereka, itu artinya mereka sudah introspeksi diri berkali-kali sampai-sampai mereka bertanya pada kalian karena nggak menemukan jawabannya. Nggak pernah mikir ke sana, ya? Ngapain juga dia nanya ke kalian kalau dia udah tau alasannya? Tindakan bodoh, kurasa.

Jawaban yang cocok untuk jawaban itu adalah, “I’ve done that, bitch.” atau “Gee, you give a BRILLIANT solution.

.

Dulu, aku nggak begitu mengerti tentang jawaban ini. Dulu aku cuma bisa merasa kesal karena dijauhi tanpa alasan. Tapi sekarang, kalau aku menemukan orang yang menjawab dengan hal demikian, aku bakal menjauhi mereka juga. Kenapa? Karena aku nggak butuh teman yang cuma bisa memberi “Introspeksi diri, dong!” sebagai jawaban. Itu jawaban dan solusi terbodoh yang pernah kudengar. Jawaban itu nggak akan membawa diriku kemana-mana kecuali ke dalam masa galau.. #eaa

Teman yang baik dan BERGUNA adalah orang yang mau dan berani mengutarakan apa yang mereka pandang ‘negatif’ dari diri kita. Bukan orang yang cuma bisa memberikan ucapan-ucapan nggak berguna kayak judul postingan ini. Kalau udah begini, aku bakal menjauh dan mencari teman baru yang lebih berguna.

Jahat? Emang. Tapi, siapa yang lebih jahat? Orang yang mengabaikan niat baik kita untuk memperbaiki hubungan, atau kita yang mengabaikan apa yang merugikan dan mencari sesuatu yang lebih membawa manfaat pada diri kita sendiri?

Untuk apa kita berteman dengan orang seperti itu? Toh, dia nggak peduli dengan kita. Buktinya, niat baik kita untuk memperbaiki diri kita dan hubungan pertemanan aja nggak digubris. Nggak ada usaha dari dia untuk memperbaiki, dan mereka nggak ada niatan untuk merubah diri kita untuk menjadi lebih baik. Entah awalnya mereka mau berteman dengan kita karena apa. Tapi yang pasti, kita nggak sebegitu berharganya di mata dia.

Kalau udah begitu, ngapain kita masih bergantung dengannya? Berteman dengannya dan menghabiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang jelas-jelas nggak ada jalan keluarnya? Lebih baik kita memutar jalan, mencari teman baru, memulai segalanya dari nol lagi. Itu lebih baik daripada berdiam diri di jalan buntu.

Lagipula, dengan berdiam diri di jalan buntu memberikan kesan kita terlalu bergantung dengan orang itu. Seolah-olah orang itu satu-satunya teman yang bisa kita miliki. Seolah-olah, nggak ada orang lain yang mau berteman dengan kita sampai-sampai kita cuma bisa bergantung dengannya. Bukankah itu menyedihkan?

Jangan mematok harga diri kalian di tingkat terendah. Orang kayak gitu di dunia bakal diinjak-injak. Kalau nggak mau diinjak, ya tingkatkan harga diri, sejajarkan dengan orang kebanyakan. Jangan menghamba pada teman yang jelas-jelas nggak peduli padamu. Dia bukan Tuhan kan? Ngapain menghamba? Tinggalin aja, terus cari yang baru.

.

Kenapa daritadi aku menyuruh kalian meninggalkan mereka? Kenapa mereka kupandang nggak berguna?

Gini loh,

Manusia yang baik itu adalah mereka yang memberikan manfaat atau bisa berguna bagi orang lain. Berguna itu bisa dalam artian apapun, entah itu berguna sebagai pemberi advice, atau pemberi ilmu/tutor. Dan manusia di dunia itu diperintahkan untuk belajar, menambah ilmu.. ilmu dalam bentuk apapun.. sehingga nantinya mereka bisa berguna di masyarakat.

Hubungan pertemanan adalah hubungan yang didasari dengan timbal-balik. Artinya, kita memberi manfaat padanya, dan dia juga memberi manfaat pada kita.. sekecil apapun manfaat itu. Selama kita bisa merasakan manfaatnya dan dia juga bisa merasakan manfaat yang kita berikan, maka terciptalah hubungan pertemanan.

Manfaat yang paling besar dari seseorang adalah manfaat dalam pengembangan diri dan kepribadian. Cara penyampaian manfaatnya, salah satunya adalah menyampaikan hal-hal yang teman kita pandang negatif dari diri kita dengan harapan kita bisa merubahnya. Kalau pun kita mengalami kesulitan dalam merubah diri, teman yang baik akan bersedia membantu untuk merubah diri kita agar jadi lebih baik.

Nah, ketika kita sudah memiliki niatan untuk merubah diri, memperbaiki hubungan, dan lain sebagainya, orang yang kita anggap teman hanya memberikan jawaban yang bahkan nggak bisa dijadikan sebagai petunjuk untuk memperbaiki diri. “Introspeksi diri” bukanlah jawaban yang bisa memperbaiki diri kita. Orang tolol juga tau kalau kita harus introspeksi diri kalau ada kerusakan dalam hubungan. Manusia cerdas nggak akan memberikan itu sebagai jawaban.

Walau kita kesal, at least berikanlah jawaban yang bisa menuntun orang itu pada introspeksi diri. Misalnya, kalau dia orangnya egois, bilanglah kalau dia egois. Kalau kita merasa dirugikan, bilanglah padanya kalau kita merasa dirugikan. Dia terima atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting kita juga udah berusaha untuk memperbaiki hubungan atau memperbaiki sifat negatifnya. Kalau dia nggak terima, ya udah, jauhin aja.. cari yang baru.

Sama dengan kita, orang-orang yang dijauhi. Kalau dia nggak memberikan jawaban yang valid, tinggalkan aja. Itu artinya cuma satu di antara tiga, dia nggak lagi memberi manfaat pada kita, kita nggak lagi memberi manfaat padanya, atau kalian berdua sama-sama nggak lagi saling memberi manfaat.

Waktu terus berjalan, bumi terus berputar.. buat apa berdiam diri pada hubungan seperti itu? Lebih baik move on dan cari teman baru. Teman yang bisa memberi manfaat pada kita, dan juga teman yang membutuhkan manfaat dari kita. As simple as that.

Kenapa penting memberitaukan orang tentang kesalahannya? Karena manusia punya perspektif yang berbeda-beda. Apa yang kita pandang salah, belum tentu dipandang salah oleh orang lain. Jadi, kalau apa yang kita pandang salah itu dipandang ‘benar’ oleh teman kita, selamanya dia nggak akan berubah dengan introspeksi diri. Karena dia nggak merasa hal itu merugikan kita. Kalau kita nggak ngasih tau, ya dia akan terus melakukannya.. kitanya rugi terus. Pilih mana?

.

Kalau orang bilang aku dingin dengan cara pertemanan seperti ini.. ya, mungkin aku memang dingin. Tapi alasan utama yang ingin kuutarakan adalah: aku nggak mau merasa dirugikan dan aku nggak mau jadi orang rendahan yang cuma bisa ngegosipin kejelekan orang lain. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan move on dan mencari teman baru.

Kalau kalian jadi merasa insecure karena takut dimanfaatkan, kubilang sih, jangan munafik. Sesuci apapun kita rasa pada diri kita, nggak mungkin ada hubungan tanpa saling memanfaatkan. Di belahan dunia manapun, landasan dasar sebuah hubungan pastilah ‘saling memanfaatkan’. Hubungan pure tanpa ada ‘saling memanfaatkan’ itu cuma bullshit. Jangan naif, deh.

Kalau kalian memang nggak mau dimanfaatkan, kalian selalu punya pilihan: memutuskan hubungan, atau balik memanfaatkan orang tersebut. Anda selalu punya pilihan. Pilihan paling sederhana adalah ‘pergi‘ atau ‘tinggalkan‘.

.

Hidup itu simpel. Yang bikin ruwet adalah keegoisan dan kemanjaan seorang manusia.

.

Ah, sudahlah.. aku kerjaannya bikin galau anak orang aja.

Ciao!

ps: Walau begitu, kadang aku suka ngomongin orang buat ngelepas stress. <minta dikutuk

Yo~

Iya, tau.. Aku nggak bisa menemukan judul yang lebih baik. Jadi, abaikan saja..

.

Jadi, apa kabar semua pembacaku~ *berasa femes* *tebar cium*

Suman, udah lama nggak ngepost di sini. Banyak yang harus diurus akhir-akhir ini. Jadi cuma bisa online twitter. Selain itu, kemaren itu masa-masa writer’s block. Jadi nggak ada ide.. #ituBukanWritersBlock

Jadi, isi blogku kali ini adalah cuma tebar sapa, tebar cium, dan tebar rokok. Udah lama banget nggak nulis. Kemaren mood naik-turun. Daripada nulis yang nggak-nggak, mending nggak usah nulis. Kebetulan kemaren juga nggak ada ide buat ngeblog karena akhir-akhir ini udah makin jarang hengot malem-malem di taman sama Si Tante.

Kemaren sebenernya ada sih, hal yang pingin kutulis. Ada tentang rokok, tentang agama, dan tentang Kai. Kalau dua yang pertama, rasanya udah sering kutulis.. jadi, daripada kayak ngulang-ngulang topik yang udah-udah, mending nggak usah ditulis. Kalau tentang Kai, kemaren ada satu kejadian dan rencananya pingin nulis malam (…itu subuh, sih) itu juga. Tapi waktu itu anaknya lagi imut-imutnya dan aku nggak mau melewatkan kesempatan buat meluk-meluk. Jadi, rencana itu kuundur sampai siang atau besok pagi. Tapi begitu pagi/siang, mood buat menuliskan kejadian itu hilang entah kemana. Daripada tulisanku kelihatan monoton, mending nggak usah ditulis. Tunggu sampai mood atau hatiku dipenuhi perasaan menggebu-gebu untuk menuliskannya. #ceilah

Selain itu, di negara ini lagi banyak hal yang terjadi. Banyak juga hal yang pingin kutulis, kayak soal saham, harga emas, SKK Migas, dll. Tapi, berhubung ilmu masih cetek dan belum menguasai materi, topik-topik itu kembali terbengkalai. #alesanAjaLuKyle #bilangAjaMales

.

Seputar update kegiatanku akhir-akhir ini: lagi sibuk ngurusin kegiatan Senat FE, sibuk bikin persiapan open recruitment buat tim redaksi majalah kampus, sibuk bantuin temen nyiapin proposal buat minta dana sponsor, sibuk persiapan diri buat pulang kampung, serta sibuk bantuin temen-temen. But mostly, kegiatanku sekarang udah berputar di kegiatan Senat. Dan ada kegiatan tambahan, akhir-akhir ini, yaitu bikin essay buat lomba. Lumayan, hadiahnya 150 GBP, atau sekitar 2.4 juta. Lumayan lah~ Topik yang mau dibahas juga semuanya udah cukup kukuasai. Tinggal memperdalam materi dikit lagi, habis itu mulai nulis. Haha~

.

Okelah.. Sekian dulu updatenya.

Ciao!

Kesampean

May I say that impian saya kesampean? Iyah, impian saya yang buat ngudud sambil ngeblog. Baru kesampean setelah ke rumah temen. Jadi online di warnet dan di warnetnya boleh sambil ngudud. Yah, walau agak rame sama bocah-bocah main online game, tapi yang penting impian buat ngudud sambil ngeblog berhasil.

Dalam pencapaian impian ini, ada beberapa yang nggak kesampean juga. Pertama, karena saya pinginnya ngudud di kamar malem-malem sambil minum kopi, menyampaikan ide saya lewat tulisan blog.. itu rasanya surga banget. Tapi berhubung saya dilarang ngerokok di kamar sama Dokter karena entar bisa bau ke satu rumah, jadi saya terima terima aja keadaan ngudud di siang hari. Muahahahahaha.. <iya, saya memang lebay.

Well, tapi asik juga. Seandainya juga ada temen ngobrol berat dan bisa langsung menyampaikan ide dalam bentuk blog, itu lebih yahud lagi. *seret-seret Sherly ke sini*

Udah lah. Nggak ada lagi yang mau kutulis. Di kepala juga lagi nggak ada ide gara-gara udara panas. Hahah.. *sedih*

Ciao!

Mesin Jahit

Jaman sekarang kalo cowok belajar jahit, ngerenda, dll itu dianggap aneh ya? Dianggap gay, ya? HIH. Masih kuno aja pikiran, pekerjaan pun sampai dikategorikan untuk gender-gender tertentu. Udah nggak jaman, bok~ *benerin sumpelan tetek*

Anyway, kayak yang udah kubilang tadi pagi, aku baru saja dikenalkan dengan peradaban bernama mesin jahit. Dari dulu sering ngeliat orang make mesin jahit. Suka merhatiin gimana mesin jahitnya bisa bekerja, gimana caranya si tukang jahit menjahit, dan segala macamnya. Dulu ngeliatin orang ngejahit tuh kayaknya gampang banget. Tinggal ngukur, bikin pola, jahit, terus tau-tau udah jadi baju atau celana sebiji. Tapi rupanya, sodara-sodara, basic menjahit itu susah. Apalagi buat orang berbadan kaku seperti saya. HA! #nggakAdaHubungannyaSamaBadanKaku

Jadi tadi aku nyoba menjahit ujung kain buat ngilangin rumbai-rumbai annoyingnya dengan cara melipat tiga, terus dijahit. Aku ngeliatnya sih, gampang. Tinggal lipet, injek pedal, terus biarkan mesinnya menjahit. Palingan yang perlu kuperhatiin cuma kelurusan jahitannya aja. Tapi.. ternyata.. nggak cuma itu. Aku mesti merhatiin lebar lipatannya dan itu mesti konsisten. Jadi nggak boleh lebih lebar atau lebih sempit dari yang sebelumnya. Karena kalau nggak konsisten, maka jadinya jelek.. apalagi buat ujung kain yang bentuknya melingkar (kayak ujung rok atau ujung celana).

Tapi di luar itu, aku jadi merasa tertantang buat nyoba lagi. Di otakku yang selalu berpikir irit ini, udah kebayang nanti aku mau bikin apa dengan kemampuan menjahit ini. Yang pasti aku pingin jahit baju sendiri, pingin bikin aksesoris sendiri yang sesuai selera, pingin bikinin baju seksi buat Miss, dan masih banyak lagi. Mermak celana tak lagi keluar uang.. tinggal beli benang sama cari kain bekas, terus jahit sendiri. Ada baju nggak layak pake, tinggal edit dikit biar keren lagi.

Pokoknya banyak lah.

Dan modal yang perlu kukeluarkan juga kayaknya nggak banyak. Paling beli kain, benang, kancing, resleting, dll. Di Mayestik dijual murah, kalau nggak salah. Di Benhil atau pasar-pasar gitu juga ada yang jual, kayaknya. Mudah didapat lah, pokoknya.

Huwaaaa~ membayangkannya aja aku udah berbinar-binar. Maklum, saya suka stress kalo nggak produktip. Jadi harus begini biar nggak stress. Dan kalau saya mengalihkan stress dengan memasak, saya bisa gendut. Jadi yang paling keren emang menjahit. :3

Pokoknya saya harus bisa produktip menjahit secepatnya. Besok beli cari korban buat dijahit buat latihan lagi. :3

.

Okelah, segitu dulu..

Ciao!

ps: Jahitan Kai jauh lebih rapi dari saya. “orz