Oke, mengingat tadi pagi aku baca tweet dari Sherly soal ulama yang melarang wanita meraba buah pisang, bikin aku jadi ilfil tiap denger nama ulama. Gimana nggak, kayaknya akhir-akhir ini peraturan yang dibikin sama ulama nggak jauh-jauh dari hal-hal yang menjurus ke arah seksual.

Bukan cuma ulama sih, yang bikin peraturan begitu. Pemerintah juga sama aja. Tapi kayaknya pemerintah bikin peraturan begitu berdasarkan usulan ulama. Ah, bodo amat deh gimana.. males cari infonya. Jijik.

.

Well, you know lah gimana bentuk pisang. Yes, they look like penis. Tapi, so what gitu, kalau bentuknya kayak penis? Berarti cewek-cewek nggak boleh pegang terong, timun, pare, dan segala jenis sayuran dan buah lain yang bentuknya menyerupai penis dong? Kenapa juga dibikin peraturan begitu? Takut cewek pikirannya jadi ngeres pas megang pisang? Itu ngana, kali.

Peraturan yang dibikin akhir-akhir ini adalah peraturan yang kayaknya nggak wajar. Peraturan yang kalau diumumkan ke dunia internasional, bakal bikin seluruh dunia ketawa. Malu-maluin. Peraturannya nggak jauh-jauh dari hal-hal berbau seksual. Yang paling nyantol di kepalaku adalah peraturan cewek nggak boleh pakai rok mini dan cewek nggak boleh ngeraba pisang ini. They’re ridiculous.

Tujuannya mungkin untuk mencegah rape (kalau yang rok mini). Tapi, gimana dengan larangan meraba pisang? Apa yang bisa dicegah dari itu? Berpikiran mesum? Kurasa, berpikiran ke arah seksual itu wajar.. manusiawi. Yang nggak wajar itu adalah merealisasikan fantasi seksual tersebut ke orang lain yang nggak mau berhubungan seksual. Atau lebih akrab disebut ‘pemerkosaan’.

Tapi.. kalau memang tujuannya adalah menekan seks bebas dan mengurangi angka pemerkosaan, harusnya bukan si korban yang diatur-atur, tapi si pemerkosa. Lah, iya dong. Kalau si korban terus yang diatur, dicacimaki, dll, mau si korban pakai karung goni dan kelihatan nggak menarik sekalipun, kalau si pemerkosanya nggak diatur, pemerkosaan akan tetap terjadi. Betul nggak?

Jadi kupikir, kalau ada yang bikin peraturan demikian, aku ngerasa jijik. Kenapa? Well, logika aja.. emang kenapa kalau ada cewek pakai rok mini? Bawaannya pingin merkosa? Pingin nelanjangin? Emang kenapa kalau ada cewek ngeraba pisang? Jadi ngebayangin titit ngana yang dipegang-pegang? Jadinya horny?

Kalau memang maksudnya adalah mencegah para cowok buat berpikir mesum, ya yang diatur otaknya dong. Masa ngatur otak sendiri aja nggak bisa. Makanya, kalau bikin peraturan tuh jangan dari satu perspektif aja.. coba lihat dari perspektif lain juga. Kalau dari perspektif saya sih, peraturan-peraturan ini menjijikkan. Kalau emang mau bikin peraturan, buatlah peraturan yang mengajarkan makhluk-makhluk nggak tahan godaan ini buat menjaga nafsu birahinya.

Ya contoh aja, deh. Misalnya, hukuman cambuk buat chikan (orang mesum). Atau chikan diarak-arakin keliling kota biar malu. Sederhana, kan?

Cara mengenali chikan? Kalau di tempat umum, mereka biasanya sengaja dempet-dempetan sama cewek. Lebih seneng lagi kalau ceweknya ngebelakangin dia. Kalau ceweknya teriak/ngadu udah dilecehkan, harusnya sih, percaya. Kalau ditanya ada saksi apa nggak, masa dia mau terang-terangan grepe-grepe pantat cewek? Dan lagi pula, buat apa cewek itu mempermalukan dirinya sendiri dengan mengaku-ngaku udah dipegang-pegang? Susah loh, membuat laporan pelecehan seksual gitu. Apalagi buat cewek yang hatinya lembut. Mereka butuh mikir 2 kali buat membuat laporan. Dan mentalnya pasti sedikit keganggu karena trauma.

Tapi, ngana kan lebih ahli dari saya dalam membuat peraturan. Ya bikin lah peraturan yang bagus supaya nggak ada yang dirugikan. Biar si tertuduh (kalau ternyata innocent) dan si korban nggak dirugikan.

Kalau peraturan bodoh begini masih di bikin, berarti ngana-ngana ini lebih rendah dari saya dong? Lebih kotor. Saya aja yang bukan ulama tau gimana cara menjaga pikiran saya tanpa harus nyuruh cewek saya berpakaian tertutup rapat kayak karung goni. Mau tetek cewek saya keekspos di depan mata juga, saya bisa jaga sikap. Kalau dia bilang ‘jangan mesum’, ya saya nggak mesum. Kalau dia lagi nggak mau dipegang, ya nggak saya pegang. Bahkan tangannya..

Intinya sih, coba menghargai mereka (kaum cewek) aja. Karena saya, walau kotor, nggak pernah memandang cewek sebagai objek seksual. Ngana punya ibu kan? Punya istri kan? Mau nggak, mereka dijadikan objek seksual sama orang lain? Nggak kan? Ya udah, hargai mereka.

Toh, cowok dan cewek cuma beda bentuk fisik aja. Kalau cowok teteknya rata, cewek teteknya (kebanyakan) menonjol. Kalau cowok punya titit, cewek tititnya tersembunyi. Cowok badannya lebih kekar penuh otot, cewek badannya lebih berbalut lemak. Cuma beda itu doang.

And sex is not everything. Kalau ngana pikirannya sex doang, berarti ngana pengangguran. Saking nggak ada pekerjaan, isi otaknya ngeres terus. Hah.

Makanya, jangan sok-sok ngaku suci. Giliran kesandung beginian, ngana jadi kelihatan menjijikkan. Masa kalah sama orang kotor kayak saya? Hah. Cupu.

.

Udah lah marah-marahnya. Nggak akan ada habisnya karena postingan ini isinya pure pelampiasan emosi dan pendapat doang.

Ciao!

ps:  Maaf, ini blognya berantakan. Ini cuma pelampiasan emosi, sih. Jadi nggak mentingin strukturnya.. Dan ini pure pendapat saya kok. Nggak mesti didengerin, nggak mesti ditanggepin sepenuhnya. Mau baca, silakan.. nggak mau, ya udah. Kalau marah pas bacanya, ya udah.. beta kagak peduli. Blog, blog gua. Isinya juga pendapat gua. #hidupBebasBerpendapat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s