Ehem, oke, kali ini mari kita ngomongin rokok lagi. Topik utamanya adalah rokok kretek, Clavo.

.

Jadi hari Jumat kemarin, aku jalan sama Sherly dan berniat ngomongin soal kerjaan (baca: kegiatan organisasi kampus). Karena ngomongin kerjaan itu paling enak malam hari sambil ngerokok, jadilah aku pergi ke foodhall buat beli rokok berhubung rokokku tinggal sedikit. Pas lagi milih-milih rokok (akhir-akhir ini lagi ngerokok yang ringan-ringan kayak Ice Blast atau Marlboro Black Menthol. Tapi lama-lama aku bosan dan mau coba rokok baru), Si Sherly mengusulkan buat beli Djarum Clavo. Kebetulan dia penasaran sama Clavo karena Clavo itu kretek keluaran baru.

Aku sebenarnya dari dulu juga ngerokoknya kretek. Tapi kretek filter. Kalau Sherly kretek tanpa filter.

Nah, setelah beli, kami pun nyari tempat duduk yang agak terang biar bisa ngomongin kerjaan. Di awal aku diskusi, aku masih asik ngisep-ngisep Ice Blast sisa. Sampai akhirnya Ice Blast-ku habis dan aku beralih ke Clavo. Kotak Clavo kukocok-kocok dengan maksud madetin tembakaunya. Setelah itu kotaknya kubuka, dan.. rupanya Clavo bukan kretek filter.

Dua hal yang bikin aku merasa bego. Satu, karena aku salah beli rokok. Dua, karena aku ngocok-ngocok kotak kretek.. which is useless. Jadilah Si Sherly ketawa puas ngeliat Clavo dan aku. Selain dia puas karena rupanya Clavo adalah rokok kretek non-filter, dia juga puas karena akhirnya aku belajar ngretek non-filter. Damn.

Bermodalkan pasrah, akhirnya aku nyoba ngerokok sebatang. Dan berhubung aku pemula banget dalam makai rokok non-filter, jadi caraku memadatkan tembakaunya sangat sangat sangat sangat sangat sangat memalukan. Aku cuma mencet-mencetin batang rokoknya ngikutin Sherly sambil mikir, “What the fuck am I doing?” berulang kali.

.

Gaya merokokku adalah ngerokok kayak orang kesetanan. Jadi aku ngerokok bersambung, alias cepet banget. Sebatang habis, lanjut lagi batang berikutnya.. gitu terus sampai habis sekotak. Aku juga sering dibilang buru-buru sama Dean karena gaya ngerokokku yang bener-bener cepet.

Jadi, pas nyoba ngretek non-filter, Sherly bilang buat ngisepnya pelan-pelan biar kepalaku nggak pounding lagi kayak pertama kali aku ngretek non-filter punyanya Sherly. Dia bilang, kretek itu rokoknya orang santai.. jadi ngisepnya juga harus santai. Pelan-pelan, menikmati, dan biarkan rasa cengkehnya membaluti lidah. Which is, akhirnya aku melakukan itu.

Baru sebatang, aku udah nyerah. Selain karena baru beradaptasi, aku juga jadi santaaaaaiiii banget. Dan itu artinya otakku juga jalannya santaaaaaiiiii banget. Jadi kemaren itu aku nggak berasa kerja. Tapi, karena emang pingin ngerokok, I did it, anyway. Tetep aja lanjut ke batang kedua, ketiga. Itu rokok udah dimintain Sherly, tapi nggak habis-habis juga. *sigh*

Setelah batang ketiga, aku bener-bener nyerah. Aku mau beralih ke Black Menthol aja, biar otakku jalannya jadi cepet. Tapi, apa daya, aku ditakdirkan buat terus bersama Clavo karena nggak punya uang cash. Sementara counter-counter rokok cuma nerima cash. Kurang bangsat apa, coba?

Di akhir pertemuan, akhirnya aku nyuruh Sherly buat bawa pulang Clavo-nya. Kupikir juga, di rumah Clavo-nya nggak akan kuhabisin karena aku bukan Kretek-maniac kayak Dean dan Sherly. <tapi gara-gara ini, aku dimarahin Dean yang pecinta kretek. Katanya, “KENAPA NGGAK DIBAWA PULANG?!?!! KAN ITU ROKOKNYA BISA BUATKU AJA!!! AKU JUGA PINGIN COBA CLAVO!!!“. Ooookay..

.

Di malam Sabtu itu, aku kesulitan tidur. Di hidung dan mulut tercium aroma cengkeh. Jadi aku merasa lagi dibekep saputangan yang udah dibaluri minyak cengkeh. Aromanya kuaaaattt banget. Sempet bete sih, karena aku emang nggak terbiasa sama aroma cengkeh sekuat itu.

Tapi, besokannya, aku merasakan suatu urge yang nggak biasa. Aku jadi pingin ngretek. Entah kenapa hari Sabtu dan Minggu itu aku jadi pingin beli Clavo, terus kuhisap malam-malam sambil minum kopi. Mendadak aku jadi pingin merasa santai sambil menatap langit malam. Ohh, indahnya dunia.. #dor

Beneran. Aku rasa aku jadi kecanduan kretek non-filter. Sampai akhirnya pagi ini aku beli Clavo dan ngisep di atap bareng Dean. Aku diajarin cara madetinnya, diajarin cara ngisep kretek non-filter yang baik dan benar (…), diajarin gimana caranya biar bisa menikmati kretek tanpa terganggu dengan tembakau-tembakau yang nempel di bibir, dan aku diajarin gimana caranya biar woles ngerokok sambil minum kopi. Walau akhirnya cuma mampu 2 batang, tapi lumayan lah.

.

Pelajaran yang bisa kuambil dari ngretek adalah.. menikmati hidup. Di mana ada saatnya kita nggak perlu rush, nggak perlu buru-buru, dan lebih menikmati moment. Memang, di depan ada tujuan, ada sesuatu yang harus kita raih dengan menerapkan hukum rimba. Ada kalanya kita harus rush, lari sekencang-kencangnya untuk mencapai tujuan, cita-cita, serta merebut kesempatan yang ada. Tapi ada kalanya pula kita harus santai, menikmati moment, dan merilekskan diri supaya nanti nggak kesandung. Ada kalanya tempat tujuan kita hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki.. nggak mesti sprint.

Ngretek bikin orang lebih santai. Santai bikin orang lebih banyak tersenyum dan tertawa. Tersenyum dan tertawa membuat seseorang jadi tampak lebih hidup. Ngretek is not just about smoking and destroying your lungs (…), but also giving your activity a break. Giving you a chance to relax and enjoy the moment with your love ones.

I know, it’s stupid to talk about ‘enjoying life’ while connecting it with cigarettes. Cigarette does kill you in a long-term.. but it also satisfies you. Yeah, it still sounds stupid, doesn’t it? Hahaha..

Tapi buatku, nggak. Kurasa aku udah sprint terlalu lama dan meninggalkan banyak moment di belakangku. Aku nggak bisa berbalik dan menangkap moment yang sudah berlalu. Satu-satunya cara adalah dengan berjalan santai dan membiarkan moment-moment yang ada berkumpul dan menyelimutimu.

Merokok memang membunuh. Tapi bukan rokok yang menentukan kapan aku mati.

Bagiku, apa gunanya hidup sehat tapi nggak bermakna? Apa gunanya menaati seluruh peraturan tetapi kau tak tampak hidup? Apa gunanya menjadi suci tetapi nggak mendapat pelajaran apapun? Menjadi kotor, melanggar peraturan, dan nggak menjalani hidup sehat nggak akan menjadi dosa.. selama kau memahami pelajaran di baliknya.

.

Nah, begitulah cerita tentang Clavo Dan Aku. Kedengeran filosofis sekali ya~ dan puitis~ *malu-malu*

Ehem,

Inget loh.. yang nulis hal ini adalah seorang perokok. Aku jadi mengerti kenapa kebanyakan seniman merokok. They’re more productive this way. Seniman dan kretek adalah budaya yang udah ngelotok di Indonesia. Salut..

…Habis ngretek, kayaknya banyak bahasaku yang jadi lebih puitis dan seniman banget. Biasanya bahasaku kaku kayak anggota TNI. Setiap kata di postingan ini rasanya bisa dijadikan judul sebuah karya. *pose Gue. Emang. Awesome* Eh, tapi yang bagian atas kayaknya susunan kalimatnya agak berantakan. Maapin aja yak.. itu nulisnya sambil ngingat-ngingat kejadian Jumat lalu, soalnya. #terusKenapa

Udah lah, segini aja. Nanti tunggu aja karya-karya lainku habis ngretek.. semoga bermanfaat~ baik bagi perokok dan non-perokok~ biar nggak asal judge~

Ciao!

2 thoughts on “Clavo Dan Aku

    1. aku jadi ogah ngretek tanpa filter gara2 pounding itu –” kirain kan aku nggak cocok sama kretek non-filter. makanya akikah nggak pernah beli~

      iye dah, habisin aja.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s