Janji.. Janji harus ditepati, kata orang-orang. Janji adalah hutang. Menepati janji adalah kunci dalam bertanggungjawab. Janji dan menepati janji adalah sesuatu yang penting bagiku. Seolah, aku rela meregang nyawa demi menepati sebuah janji. Sesepele apapun janji itu.. aku akan berusaha menepatinya semaksimal mungkin.

Janji.. bagi sebagian besar orang tampak sepele apabila tidak memiliki artian besar. Contohnya, janji ketemuan jam setengah tiga sore di sebuah tempat yang sudah ditentukan. Karena terlalu sepele, kadang ada orang yang datang lebih terlambat dari jam setengah tiga. Kadang juga, karena lelah menunggu, dia beranjak dari tempat perjanjian sehingga sulit untuk dicari. Janji yang dianggap sepele..

Tapi untukku, tidak ada janji yang sepele. Aku menghargai sebuah janji layaknya selembar uang seratus ribuan. Aku akan menepati janji seolah aku memiliki hutang besar. Dan aku bisa ditimpa rasa penyesalan berlebih apabila aku mengingkari janji tersebut.. dengan alasan apapun. Dan karenanya, banyak orang bilang aku berlebihan atau lebay.

Aku sedikit benci pada mereka yang menyepelekan sebuah janji. Dan aku sedikit benci pada mereka yang menganggapku berlebihan dalam menepati janji. Bagiku, janji adalah sesuatu yang sangat penting.. sampai-sampai orang lain tidak berhak menjudgeku ‘berlebihan’ dalam menepatinya. Janji itu seperti sebuah nyawa yang tidak boleh disia-siakan. Apa aku salah?

.

Banyak orang yang kutemui menyepelekan janjinya hanya karena itu sebuah janji sederhana. Yang paling umum adalah janji ketemuan. Kadang, mereka ngaret.. kadang, mereka beranjak dari tempat perjanjian. Tidakkah mereka mengerti kalau ada saja perubahan waktu dan tempat menjelang menit m, maka orang yang terikat janji dengan kita akan merasa kesulitan? Jika ada perubahan janji, setidaknya beritahukan minimal m-20 dari waktu pertemuan. Artinya, 20 menit sebelum waktu perjanjian.

Nggak banyak orang yang tau apa arti sebuah janji. Nggak banyak orang yang mengerti bagaimana berharganya sebuah janji bagiku. Kebanyakan yang begitu adalah teman-temanku dari Indonesia dan USA. And it pisses me off.

Ketika aku sudah muak, maka aku akan bersikap lebih dingin, lebih sinis, dan lebih kejam dari biasanya. Ketika mereka terlambat dan mengatakan kalau alasannya adalah macet, aku akan menjawab dengan penuh tatapan menusuk, “Jakarta memang macet. Sudah berapa lama tinggal di sini? Mengatur waktu untuk perjalanan aja nggak bisa. Katanya udah mahasiswa“. Tapi, tentu saja jawaban itu hanya bisa kuberikan ketika aku sudah benar-benar muak.

.

Inti dari sebuah janji adalah waktu. Orang akan terlihat menghargai waktu dengan bagaimana ia menghargai sebuah janji. Orang yang bisa dengan mudah mengingkari janji artinya bukan orang yang menghargai waktu. Orang yang bisa menyepelekan waktu, artinya bisa menyepelekan apapun yang kuanggap berharga. Apapun.. termasuk nyawa.

Menepati janji adalah sebuah etika. Jelas, orang yang menyepelekan janji adalah orang yang nggak beretika. Sebuah hal yang fatal apabila dibawa ke dunia orang dewasa. Mereka yang bisa menyepelekan janji.. walau hanya kepada anak-anak bukanlah orang dewasa. Aku akan tetap menganggapnya sebagai seorang bocah yang bahkan terlalu bodoh untuk menepati janji. Kenapa bodoh? Karena anak-anak yang sebenarnya adalah anak-anak yang sangat komit kepada janji. Ketika anda menjanjikan sesuatu untuknya, mereka akan datang dan menuntut janji itu.

Janji juga menjadi ciri khas seseorang.. apakah orang itu dapat dipercaya atau tidak. Dapat diandalkan atau tidak. Aku menilai seseorang dari bagaimana dia memperlakukan sebuah janji. Dan sejauh ini, orang yang bisa kuandalkan berdasarkan pemegangan janji mereka dapat dihitung dengan jari yang ada di kedua tanganku.

Orang juga dapat dinilai menghargai anda atau tidak dari cara mereka memperlakukan janji-janjinya dengan anda. Dia tidak cuma mau menuntut, tetapi juga siap dituntut untuk menepati janji. Dia yang menyia-nyiakan janjimu artinya dia yang tidak menghargaimu. As simple as that..

.

Kenapa saya nulis postingan ini? Karena saya baru saja mengingkari janji dengan seorang teman. Sebuah janji yang menurut orang adalah hal yang sepele. Aku berjanji akan datang jam 11an ke kampus untuk membantunya membuat rincian anggaran untuk acara Senat. Tapi rupanya, aku ketiduran habis minum obat flu dan baru bangun jam setengah satu. Kai sengaja nggak membangunkan karena tau aku kurang tidur semalaman karena mimpi buruk.

Aku panik begitu tau aku bangun jam setengah satu. Aku langsung menghubugi temanku dan minta maaf sejadi-jadinya. Meskipun aku dan dia nggak terlalu dekat.. kami hanya teman sekampus.. hanya teman sekelas. Hanya kebetulan kami saling mengenal dan memiliki jadwal yang sama. Hanya kebetulan kami memiliki teman dekat yang sama. Dan hanya kebetulan kami bisa hang out bersama di tempat yang kami suka.

Janji dengannya begitu penting.. karena aku menghargainya. Dan aku tau bagaimana rasanya disepelekan dalam perjanjian.

Ah, berasa hina.

.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s