Waktu tadi aku lagi jalan-jalan di gramedia, aku menemukan sebuah buku yang (kira-kira) isinya menceritakan tentang seorang anak 11 tahun yang menjadi dosen dengan honor $10,000 per kali ngajar. Waktu bacanya, ada satu hal terlintas di pikiranku, “Maksud buku ini apa?“.

Buku ini juga mengingatkanku pada beberapa buku, artikel, dan segala berita atau cerita semacam ‘seseorang yang lulus kuliah di usia muda’, atau ‘seseorang yang dapat gelar professor di usia muda’. Dan setiap melihat berita itu, aku kembali bertanya, “Apa tujuan si pembuat berita/artikel ini? Apa dia ingin menginspirasi orang lain? Atau ingin membanggakan Si Objek?“. Apapun alasannya, aku (entah mengapa) nggak pernah sreg mendengar berita-berita tersebut.

Ketika kita membicarakan seorang bocah yang bisa mencapai sesuatu yang di luar jangkauan anak-anak seusianya, pasti kita langsung mikir, “Waah, keren ya” atau “Iih, kok bisa?“. Hal ini semacam sesuatu yang luar biasa dan cerita-cerita mereka sering dijadikan artikel, buku, atau berita-berita mengejutkan. Sesuatu yang (mungkin) bisa menginspirasi yang membacanya untuk jadi seperti mereka. Tapi, menurut pendapat pribadiku, aku kurang setuju (kalau) tujuannya adalah untuk menginspirasi atau apalah. Kalau sebagai apresiasi, iya, aku setuju. Tapi kalau menginspirasi? Hmmm, not so much.

Kenapa? Well, aku punya alasan pribadi.

Kalau ada anak-anak yang seperti kusebutkan di atas, aku otomatis langsung berpikir, “IQ-nya berapa, ya?“. Karena anak-anak yang bisa mencapai hal-hal seperti itu biasanya adalah anak-anak ber-IQ tinggi alias jenius. Mereka MEMANG pintar dari sananya.. rejeki dari Tuhan-nya dia. Mereka memang terlahir memiliki kemampuan luar biasa, kemampuan yang di atas anak-anak seusianya.

Jadi bagiku, kalau artikel-artikel tersebut adalah untuk menginspirasi, kurasa mereka salah cari objek. Bagaimana caranya mereka mau menginspirasi orang banyak sementara yang menjadi objek berita adalah anak yang diberi kelebihan dari Tuhan-nya? Sesuatu yang berada di luar kendali masing-masing orang. Kalau pun mau menginspirasi, mungkin menginspirasi ibu-ibu yang akan punya anak agar mengembangkan otak anak-anak mereka sejak berada di dalam kandungan.

Kalau memang artikel ini untuk menginspirasi, hal yang akan terjadi mungkin adalah sebaliknya. Dua akibat yang dapat kupikirkan adalah: satu, orang-orang justru merasa minder. Kenapa? Well, terutama yang jauh lebih tua dari mereka pasti merasa, “Apa aku sebodoh itu, sampai-sampai bisa dikalahkan oleh anak umur 11 tahun?” atau “Seandainya dulu aku diberikan sesuatu oleh orang tuaku agar aku memiliki otak seencer anak itu” atau “Coba Tuhan memberikanku kelebihan seperti itu.. mungkin sekarang aku udah membuat orang tuaku bangga“. Pernah atau nggak orang-orang berpikir begitu, aku nggak tau pasti. Tapi yang jelas, that’s what I think they’d say.

Artikel atau berita yang bisa menginspirasi, buatku, bukanlah yang seperti itu. Bukan seseorang yang memang dikaruniai kecerdasan otak berlebih. Kalau mereka sukses, itu wajar kan? Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang biasa-biasa saja? Aku lebih senang mendengar cerita atau artikel tentang seseorang yang memiliki pengalaman jatuh-bangun yang luar biasa, atau orang yang dulunya berada di masa kelam yang hampir nggak punya harapan untuk keluar, tapi bisa bangkit dan melanjutkan hidupnya sebagai manusia baru yang lebih bermanfaat untuk orang lain. Mereka lebih kupandang sukses dibandingkan anak-anak ber-IQ tinggi itu.

Terus yang kedua, entah kenapa aku merasa nanti anak-anak seumuran mereka bakal merasa tertekan. Apalagi kalau orang tuanya terobsesi untuk menjadikannya anak-anak yang dipandang jenius. Anaknya jadi disuruh belajar mati-matian, disuruh ikut les ini-itu, pokoknya, anaknya diperes habis-habisan buat memenuhi ekspektasi dan fantasi orang tuanya. Padahal, mungkin anaknya tergolong anak yang biasa-biasa aja.. yang nggak bisa jadi anak-anak jenius yang mereka baca di artikel-artikel.

Tapi yaah, itu semua kan hanya pikiran saya aja. Semoga nggak jadi kayak gitu. Lagi pula, jaman sekarang orang tua udah jauh lebih pinter kok, dalam mengurus anak. Keinginan dan minat anak lebih dihargai, orang tuanya mau mendekatkan diri dengan anaknya biar tau anaknya luar-dalam.

Semoga pikiran-pikiran saya ini nggak terealisasi. Buat yang emang minder, jangan minder. Mereka emang diberi kelebihan berupa IQ tinggi. Lagi pula, agak agak kasihan sama anak-anak yang begitu.. kayaknya masa kecil mereka sirna. Atau mungkin, mereka nggak punya masa kecil kayak yang anak-anak seumurannya miliki. Mungkin masa kecilnya dipenuhi buku-buku dan pelajaran-pelajaran advance. Mungkin otaknya nggak bisa se-relax anak-anak seumurannya karena mikir mulu.

Intinya, kalau ada artikel-artikel cerita sukses anak-anak belia, nggak usah diambil hati dengan merasa minder. Buat para orang tua, jangan bikin anaknya tertekan demi memenuhi fantasi ngana. Keberadaan anak-anak ber-IQ tinggi cukup diketahui keberadaannya dan diberikan apresiasi. Well, bukan cuma anak-anak ber-IQ tinggi sih.. setiap orang butuh apresiasi.. butuh dihargai hasil kerja kerasnya. Bukan melalui uang.. tapi melalui tindakan.

.

Udah, sekian ceramahnya.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s