Yo, udah lama nggak nulis blog. #padahalBaruDuaHari

Ehem. Anyway, kemarin aku diajak jalan-jalan ke Bandung sama Dokter karena dia ada konferensi di sana. Mumpung ke sana nya pas weekend, jadi aku iya-in aja, sekalian liburan. Lagian, aku mau beli baju juga buat kuliah. *tatap tumpukan baju kuliah yang udah buluk*

Ehem,

Jadi, Si Dokter bilang kami akan nginep di The Trans Hotel. Letaknya ada di samping Trans Studio Mall (TSM). Kalau dari tol, keluarnya di Buah Batu biar lebih deket. Nah, dulu aku pernah main ke Trans Studio Bandung, tapi pas mall-nya masih baru buka dan (kayaknya) hotelnya baru dibangun. Waktu itu keadaannya jelek dan agak-agak bikin males. Jadi kupikir, hotel yang bakal kami datengin ini jelek.

Berdasarkan pengalaman, hotel-hotel yang berada di atas mall biasanya jelek, menurutku. Suasananya bukan suasana istirahat lah. Tapi kata Dokter, itu hotel paling bagus di Bandung. Karena yang ngomong adalah Dokter, jadi aku iya-iyain. Percaya-percaya aja, tapi juga merendahkan ekspektasi biar nggak kecewa.

Tapi rupanya, begitu masuk lobby hotel, aku mangap selebar-lebarnya. Hotelnya termasuk sangat mewah, buat rakyat jelata sepertiku. Design interior lobby, suasana lobby, perabotan-perabotan lobby, semuanya terlihat mewah dan pas sama ukuran ruangannya yang emang tergolong raksasa. Lobby nya lebih bertema merah-emas, dengan wallpaper dan profile atap yang indah. Nama Luxury yang dipasang di The Trans Luxury Hotel nya bukan sekedar embel-embel atau omong kosong. Itu beneran lux.

Sementara Dokter check-in, aku bernorak ria di lobby hotel. Aku foto tangga dan sofanya karena aku suka sama wujud si sofa yang aduhai. Tapi fotonya cuma sedikit karena mau jaga image.. biar nggak kelihatan rakyat jelatanya. #sedih

Begitu Dokter selesai check-in, kami langsung naik ke kamar. Nah, karena aku selalu mengalami kekecewaan tingkat dewa sama hotel berlobby indah, kali ini pun aku menurunkan ekspektasi tentang kamarnya. Siapa tau kamarnya buluk walau lobbynya indah kayak surga. Aku bersyukur juga udah menurunkan ekspektasi serendah-rendahnya.. karena begitu masuk kamar, aku jadi merasa lebih puas dan norak mampus.

Kamarnya. Keren. Geulhaaaa.

Aku lupa sebutan untuk design begini apa. Tapi yang jelas, modelnya classic-modern, buatku. Suasana klasiknya terasa dengan beberapa perabotan yang terlihat antik, design dinding dan kamar mandi yang mewah, profile plafonnya, serta dengan model lampu dinding yang kayaknya sengaja diklasik-klasikkan. Sementara nuansa modern-nya terasa dari model shower dan toiletnya yang dibagi menjadi 2 stall yang terbuat dari kaca, ditambah dengan tirai electric (jadi tirainya bisa dibuka-tutup pakai tombol yang ada di samping kasur). Ada juga pengaturan suhu AC pake touch-screen.

Melihat kamar seindah itu, aura kampunganku pun menguar ke sekeliling kamar. Aku jerit-jerit kesenengan kayak bocah. Semua sisi kamar kufotoin sebagai kenang-kenangan(…). Maklum, namanya rakyat jelata.. mau makan aja susah. Ngerokok sebatang aja pake ngutang dulu. Jadi kalo ngeliat kamar super mewah begitu, aku jadi udik. Semua kupretelin dari ujung ke ujung sampai dimarahin Kai saking noraknya. Hehe..

Maaf ya, Kai.. Abangmu ini norak mampus. Tolong jangan bunuh diri karena malu.

Tapi beneran, semua tombol yang kutemukan kupencet sambil bilang, “Iih, ini tombol buat apa?“. Terus pas ada sesuatu terjadi habis neken tombol, akunya kegirangan plus terkagum-kagum. Apalagi bagian tirainya. Gara-gara itu, ada percakapan di antara kami:

Aku: *asik mainin tirai* “Waaaah, Kaaaai! Ini kereeeennn! Buka, tutup. Buka, tutup. Buka, tutup.” Kataku sambil mainin tombol tirai.

Kai: “… …Itu jendelanya bisa dibuka, nggak?

Aku: “Nggak, kayaknya.. kenapa?

Kai: “Mau terjun aja dari sini. Malu punya abang kayak kamu. :3

Aku: “

He really said that. Imut-imut gitu mulutnya tajem, tuh.

.

Ada lagi yang bikin saya seneng. Itu kasurnya terbuat dari bulu angsa. Kebayang nggak, seempuk apa? Aku masuk ke dalam selimutnya, habis itu aku nggak muncul-muncul lagi. Aku dibawa pergi oleh Jin King Koil. Diajak pergi ke alam kasur.. dimana para bidadari kasur berkumpul, mandi di sungai, dan siap ‘melayani’ kapan saja. Ahh, indahnya hidup ini. #dor

But seriously, begitu masuk kasur, rasanya langsung mager dan maunya hidup di kasur aja. Lingkaran setan sekali kasur itu. Untunglah kasur ini belum bertemu Dani. Kalau udah ketemu, mungkin si kasur akan mati diperkosa Dani berkali-kali. Ckckckck..

Terus hal yang bikin aku seneng adalah aku bisa kembali berendam di dalam bak air panas. Di rumah sebenernya bisa. Tapi kalau di Jakarta berendam air panas, sama aja bunuh diri. Jadi kalau di rumah seringnya berendam air es biar seger. #janganDicontoh

Bermodalkan rindu dan norak yang sangat amat, aku isi bak dengan campuran air panas dan air dingin. Tapi lebih banyak air panasnya biar berasa banget onsen-nya. Habis itu di baknya kukasih bath gel biar berbusa. Sekali-kali pingin coba bubble bath yang sering dielu-elukan acara kecantikan(…). Siapa tau habis keluar dari bak itu, tingkat kecantikanku bertambah 10% kayak pajak PPn.

Awalnya aku ajak Kai buat berendam bareng karena bak-nya juga gede banget, muat buat dua orang. Kai nolak berkali-kali sampai akhirnya dia mau juga masuk ke bak mandi. Habis itu kami ngobrol-ngobrol di bak.. ngobrolin apapun yang bisa kami obrolin. Contohnya, “Kai, lihat! Ini gelembung kentutku!“.

Selain itu, shower di sana adalah ‘shower hujan’. Jadi kepala showernya ditempel di langit-langit (walau ada juga yang pendek. Kayaknya itu buat anak kecil). Sebagai makhluk bertubuh egrang, itu adalah sebuah kebahagiaan. Biasanya kepala shower cuma bisa nyemprot dari dada ke bawah. Sekarang, aku bisa nyemprot kepala tanpa harus megang kepala showernya. Oh, Tuhan.. apa yang sudah hamba perbuat sehingga hamba mendapatkan kenikmatan ini? *tertimpa cahaya suci dari langit*

.

Oke lah, segini dulu laporan singkat soal liburannya. Aku jadi semacam mempromosikan hotel The Trans, deh. *kasih tagihan biaya advertisement ke CT* #ditabok

Tapi, kenapa aku ngerekomendasiin hotel ini karena emang layak dipromosikan. Pelayanannya bagus, hotelnya bagus, design nya pun nggak bikin sakit mata. Terlebih lagi, ini adalah merek lokal, merek Indonesia. Seharusnya orang Indonesia bangga punya pengusaha yang bisa bikin hotel seindah ini, dengan pelayanan sehebat itu. Hotelnya bersih pula.

Pas aku bilang begini sama Dokter, dia bilang, “Padahal cuma bermodal sayang sama ibunya aja, ya“. Dan entah kenapa, itu terdengar kayak nyindir aku. /yaoming

Okelah..

Ciao!

ps: Buat foto-foto bisa dilihat di instagramku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s