Kayaknya aku pernah nulis sesuatu tentang ‘menulis’ di blog ini dengan judul yang sama. Tapi aku lupa. Males ngecek juga. Jadi, ya sudahlah.. #ngomongApaSih

.

Anyway, SELAMAT SORE PARA PEMBACA BLOG YANG MASIH BELUM KAPOK BACA ISI PIKIRANKU~

Hari ini aku lagi mau membicarakan soal menulis. Yaah, obrolan santai aja.. nggak usah serius-serius amat lah. Kebetulan aku juga lagi bosen dan nggak ada topik serius yang mau dibicarakan kecuali soal Dul yang bikin 6 orang tewas di jalan tol Jagorawi. Kalau ngomongin ini, nggak ada habisnya. Dan terlebih lagi, bikin dosa. Jadi, mari ngomongin soal tulis menulis.

Osh!

Ada berapa banyak pembacaku yang suka nulis? Pasti sebagian besar lah ya. Orang yang suka baca biasanya juga suka nulis, minimal nulis blog gini lah kayak aku. Atau mungkin ada yang suka nulis puisi, review film/buku, atau ada yang suka nulis surat di blog? Jadi formatnya kayak nulis surat, isinya ya curahan hati. Nama tujuannya biasanya disamarkan. Kayak, ‘Dear kamu yang lagi di sana’ atau ‘Si Belang terkasih’. Keren itu kalau dimasukin blog. Wekaweka.

Iya, aku lagi berpikir untuk menambah cakupan tulisan. Maksudnya, aku lagi pingin menjamah tulisan-tulisan selain menulis artikel atau pendapat kayak gini. Tulisan-tulisan yang di luar review kegiatan sehari-hari (jurnal), atau tulisan yang isinya ngomongin sosial, politik, budaya, ekonomi, dll. Aku lagi terpikir buat bikin novel (ceilah!). Ide ceritanya sih udah ada di kepala.

Kalau ngomongin novel, aku jadi teringat sama temanku, Si UncleVoldie yang demen banget nulis novel. Ada aja ide ceritanya. Tulisan dia banyak dipuji orang, pernah menang lomba tingkat nasional juga. Jadi bagiku, dia guru terbaik untuk menulis novel yang isinya adalah khayalan dan menghibur. Bermodalkan kepercayaan ini, aku pun beberapa waktu terakhir ini minta diajarin cara nulis novel sama dia. Segala hal yang dia tau soal menulis novel, dia kasih tau.

Hal mendasar yang harus ada di kepala adalah plot. Yang penting si penulis udah tau bagaimana garis besar jalan ceritanya, dari awal sampai akhir. Detail plotnya bisa ditambahin nanti sambil nulis ceritanya di word. Katanya juga, cerita yang mau dimasukin sebisa mungkin memiliki twist biar lebih menarik dan bikin pembaca tercengang. Dan kalau udah ngomongin plot, artinya kita harus udah punya latar belakang tempat atau setting. Kalau bisa, setting yang dimasukkan adalah tempat-tempat yang familiar dengan pembaca biar mereka juga bisa membayangkan tempatnya. Kalau mau nulis cerita fantasi, penggambaran settingnya harus jelas dan rinci.

Setelah ada plot, katanya penulis juga harus bisa membayangkan adegan-adegan penting yang ada di dalam novel. Contohnya, adegan berantem, adegan ciuman, adegan menegangkan, dan adegan-adegan lain yang menurut penulis akan dia tekankan di dalam ceritanya. Katanya sih, biar nanti nulisnya enak karena yang kita tulis adalah visualisasi sendiri. Jadi semacam nulis jurnal atau buku harian, jatohnya.

Dengan memvisualisasikan adegan-adegan penting, artinya penulis udah harus menentukan sudut pandang penulis. Maksudnya, apa si penulis nanti jadi orang pertama atau sekedar orang ketiga. Bedanya orang pertama sama orang ketiga? Kalau orang pertama, di novelnya akan tertulis sebutan untuk orang pertama kayak ‘aku’, ‘saya’, ‘gue’, yang menggambarkan kalau si penulislah yang mengalami kejadian tersebut. Kalau orang ketiga, si penulis posisinya sebagai orang yang nggak ada sangkut pautnya sama cerita. Ngerti nggak? Ya udah.. saya juga nggak tau gimana cara jelasinnya. Pokoknya Si Uncle bilangnya begitu.

Begitu mendapatkan visualisasi, barulah si penulis menentukan tokoh dan karakter yang lebih detil. Menentukan siapa tokoh utama dan gimana karakternya, menentukan siapa rekannya, dan bagaimana latar belakangnya. Selain itu, fisiknya juga harus dibayangkan, rambutnya warna apa, badannya setinggi apa, matanya warna apa. Paling gampang adalah menentukan ras-nya dulu, baru ciri2 fisik lainnya.

Kalau udah lengkap semua, baru deh ceritanya diketik.

Kalau Si Uncle sih, nulis beginian mah, lancar jaya. Kalau saya yang have lack of imagination, kelabakan disuruh bikin novel. Jangankan plot, karakter aja nggak kebayang. This is why I tertarik buat nulis novel.. buat belajar. Sekalian mau coba ngalahin Si Uncle dalam hal khayal-mengkhayal dan tulis-menulis novel. Siapa tau beta bisa lebih hebat. Ha!

Sayangnya, orang suka novel yang bikin relax dan bukan yang bikin mikir. Sementara saya suka baca buku-buku yang bikin mikir. Jadi hasil karyanya pun bikin mikir. Bukan mikir yang sophisticated gitu.. tapi mikir, “Ini yang nulis orang gila apa gimana deh?“. Wekaweka e e.

.

Sudahlah.. ini tadi lagi asik nulis, di tengah-tengah si tante dateng ke rumah buat nagihin catetan kuliahnya yang beta pinjam. And now, ide nulisnya buyar semua. Ya sudah lah.. yang penting intinya sudah tersampaikan.

Ciao!

5 thoughts on “Nulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s