Aku kembali melihatnya dalam posisi yang tak pernah kuinginkan.

Ia duduk memojok sambil memeluk lututnya yang bergetar mengiringi tubuhnya yang kurus.

Matanya tampak awas menatapku yang berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka.

Pipinya basah.. aku tau apa yang baru saja terjadi.

Bibirnya bergetar, menahan takut.

Tubuhnya akan semakin tenggelam ke sudut ruangan seiring langkahku yang mendekatinya.

Ia melempar apapun yang ada di dekatnya demi menjauhkanku darinya.

Ia tak ingin didekati.. apalagi disentuh.

Ingin dihampiri, tapi mengamuk.

Butuh dipeluk, butuh dibelai, butuh ditenangkan.

Mimpi buruknya kembali..

Matanya yang cekung akan semakin cekung.

Tubuhnya yang kurus akan semakin kurus.

Dan kenangan buruk akan menariknya masuk.

Tak bisakah aku menghentikannya?

Segala mimpi buruk dan kenangannya?

Traumanya yang nyaris tak bisa disembuhkan demi menyelamatkannya?

Uluran tanganku tak sampai sejauh itu.

Aku hanya meraih ujung jemarinya, bukan tangannya.

Aku tak bisa mengangkatnya.

Kegelapan.. mimpi buruk.. trauma.

Tak bisakah dia sembuh?

Senyum yang sudah susah-susah kuukir kini kembali menghilang.

Hanya karena mimpi buruk bajingan itu.

Bukan..

Bukan ‘hanya’.. bukan ‘mimpi buruk’.

Kenangan.. pengalaman.. orang.

Ya, orang itu..

Orang itu pantas mati.

Begitu bertemu nanti, akan kutebas kepalanya hingga lepas.

Akan kuperlihatkan betapa ia tersiksa karena perbuatan bodohnya.

Hal yang kupikir telah tiada, kini kembali.

Jika kenangan buruk bisa kembali, mengapa orang yang dicinta tetap mati?

Oh, Kai..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s