Kemarin, ketika aku lagi ngerokok layaknya pengangguran di belakang rumah, aku diajak ngobrol sama pengurus rumah setelah temennya yang sesama asisten balik ke rumahnya. Si Asisten cerita ke aku soal temennya yang punya rencana buat ngedate sama gebetan/pacarnya entah kemana berduaan.

Oke, let me tell you a little bit of her background. Teman Si Asisten ini adalah seorang wanita yang umurnya, mungkin, masih 30an (menjelang 40an lah). Kisah-kisahnya, Si Mbak ini ditinggal suaminya setelah punya entah berapa anak. Dari anaknya masih kecil sampai sekarang (udah SMP), Si Suami nggak memberi kabar. Kayaknya sih, kabur gitu. Aku nggak tau anaknya dimana, kayaknya sih, nggak mungkin ada di Jakarta. Jadi beliau kerja di sini sendiri (dari cerita-ceritanya).

Pacar Si Mbak ini juga kerja di sini sendiri. Di kampung, dia punya istri. Jadi ibaratnya.. selingkuh (bukan ibarat lagi sih. Emang selingkuh). Si Asisten bilang ke aku kalau mereka berdua janji kalau ini cuma sekedar selingkuh aja, bukan bermaksud bikin rumah tangga baru dsb.

Si Asisten juga cerita ke aku kalau Si Mbak nggak bisa menikah lagi karena statusnya masih ‘istri orang’ atau ‘belum janda’. Jadi ketika dia mau menikah sama pacarnya (yang dia anggap layak), dia mendapat kesulitan. Aku bilang, “kenapa nggak diurus?“. Lalu Si Asisten menjelaskan ke aku kalau Si Mbak udah ngurus, tapi ditolak karena alasan tersebut. Si Mbak udah bilang kalau suaminya udah kabur entah kemana, tapi tetap nggak bisa. Aku mau ngusulin nyogok pihak tertentu untuk merubah status Si Mbak supaya jadi ‘janda’ supaya bisa nikah lagi. Tapi, mengingat pekerjaan mereka dengan gaji terbatas, aku nggak terlalu ngotot buat melaksanakan ide tersebut.

Lalu, terjadilah diskusi antara aku dan Si Asisten yang juga merupakan seorang janda. Beliau bilang, kalau cowok enak karena tanpa status duda pun, kami masih bisa menikah lagi dengan wanita lain. Sedangkan perempuan, mereka harus berstatus janda dulu, baru bisa menikah lagi. Yang bikin hatiku tersayat adalah ketika Si Asisten bilang padaku, “Perempuan jadi nggak ada harganya“. Aku pun jadi mikir, sistem ini sucks banget buat perempuan di Indonesia (atau mungkin, di beberapa negara yang menganut sistem ini).

Iya juga. Sistem ini seolah-olah bikin perempuan jadi tertekan, terkurung dalam status pernikahan/janda. Cowok bisa kemana aja, nikah kapan aja selama ceweknya berstatus single atau nggak punya pasangan. Kalau lihat dari kasusnya Si Mbak yang ditinggal, itu sucks banget. Udah ditinggal, dinafkahin juga nggak, menikah lagi juga nggak bisa karena mereka belum cerai. Terus, Si Mbak harus apa dong? Nunggu suaminya balik pun percuma. Belum tentu Si Suami bakal balik. Belum tentu juga Si Suami masih hidup. Siapa tau udah tewas di tengah jalan, diperkosa burung gereja. Iya kan?

Akhirnya Si Mbak pun (katanya) menjalani hidup yang ‘nggak sehat’. Dia mau sama cowok manapun selama dia punya duit. Kalau mau nikahin dia, Si Cowok harus ngurusin akte cerainya di kampung. Kehidupan Si Mbak berubah jadi kehidupan (yang kubilang) pergaulan bebas.

Aku sama sekali nggak berpikiran negatif sama Si Mbak. Wajar dia jadi begitu. Sakit hati ditinggal gitu aja setelah dinikahi. Aku juga nggak bisa berpikiran negatif sama suaminya. Mungkin aja Si Suami udah lama meninggal dan jadi jenazah tanpa identitas sehingga Si Mbak nggak bisa dikabari. Kemungkinan itu pasti ada. Dan kalau pun Si Suami masih hidup, menurut pelajaran agama Islam (ceilah!), dosa-dosa Si Mbak SEMUANYA ditanggung sama Si Suami. Jadi, Si Mbak mau nyeleweng atau gimana pun, yang nanggung dosa adalah suami.

.

Hal lain yang mau kubahas adalah perempuan di mata Islam. Aku nggak tau ajaran sebenarnya, tapi dari yang kulihat, perempuan diperlakukan kayak barang dagangan. Bukan cuma di Indonesia, di Arab juga begitu. Perempuan cuma disuruh duduk manis kayak pajangan toko, lalu nanti ada cowok yang tertarik, Si Cewek dinikahi dengan cara ngasih mas kawin ke bapaknya (yang bagiku itu sama aja kayak membeli barang dagangan dari yang punya). Lebih parah lagi di Arab. Anak perempuan dari kecil udah dijodohkan atau dinikahkan dengan lelaki pilihan bapaknya.

Yang kulihat, perempuan jadi nggak punya hak suara. Mereka seolah nggak diperkenankan untuk memilih pasangan hidupnya. Perempuan yang mencari pasangan hidupnya (di Indonesia) dianggap kayak perempuan yang ‘gimana-gimana’. ‘Perempuan nggak boleh mulai duluan‘ itu adalah doktrin turun temurun di sini. Perempuan dari dulu diajarkan untuk duduk manis dan menunggu siapapun yang mau sama dia.

Karena sistemnya adalah ‘beli barang dagangan’, pelanggan cuma bakal mau sama ‘barang dagangan’ yang bagus dan mulus. Sehingga perempuan berlomba-lomba memermak tubuh dan penampilannya supaya dibeli sama ‘pelanggan’. Perempuan jadi banyak yang insecure sama tubuhnya sendiri, merasa nggak puas, bahkan ada yang membenci dirinya sendiri karena hal itu. Perempuan yang memilih untuk tinggal sendiri (nggak menikah. Dan mungkin karena alasan tertentu kayak trauma sama cowok), dibilang perempuan nggak laku. Perempuan nggak dihargai selayaknya manusia, melainkan dihargai sebagai barang.. atau mungkin, cuma sekedar pemuas seks.

Sebagai cowok, aku benci dengan doktrin ini. Kalau aku jadi perempuan, jelas aku bakal memberontak dan mungkin aku jadi apatis sama lingkungan sekitar. Untungnya, sekarang doktri itu udah mulai menghilang karena manusia makin pinter. Tapi, tetap aja masih ada sekelompok orang yang memegang teguh doktrin tersebut.

Kalau memang Islam mengaku yang paling benar, kenapa di negara-negara Islam atau mayoritas Islam, perempuan diperlakukan layaknya barang dan bukan manusia? Padahal yang kulihat, Rasul memperlakukan perempuan selayaknya manusia. Beliau menikah berkali-kali bukan untuk kesenangan dunia, tetapi buat menolong perempuan-perempuan yang single demi mengurusnya. Tapi entah kenapa, ajaran itu diadaptasi dan diartikan sebagai ‘cowok boleh menikah 4 kali’ tanpa syarat dan ketentuan. Jadi, banyak kulihat cowok-cowok yang mengaku ‘mengikuti jalan Rasul’ menikah dengan cewek-cewek bening yang kayaknya masih mampu mengurus dirinya sendiri.

Kami kan bukan Rasul“, aaah bullshit! Kalau emang bukan Rasul, ya jangan ikuti jalannya dong. Nggak usah ngaku-ngaku suci dan menjadikan Rasul sebagai alasan. Kalau kalian benci orang lain menghina agama Islam, mungkin kalian harusnya memperbaiki diri supaya Islam sesungguhnya jadi terlihat.

.

Oke, malah melenceng ke agama. Tee-hee.

Nah, balik ke topik awal.

Perempuan di Indonesia masih dibebani doktrin-doktrin nggak jelas dari leluhurnya. Sehingga perempuan dipandang nggak berharga. Padahal, perempuan itu manusia juga. Mereka juga bisa mikir, punya perasaan, dan punya keinginan. Mereka punya hak suara juga. Jadi, jelas mereka memberontak.

Saya nggak takut kalau perempuan setara dengan pria. Kalau memang pasangan hidup saya nanti (kalau cewek) bisa memimpin dan bisa melakukan hal-hal rumah tangga lebih baik dari saya, ya saya rela kok. Buat apa saya mempertahankan ‘harga diri cowok’ kalau nanti rumah tangga jadi hancur di bawah kepemimpinan saya? Ngalah dikit boleh, kan? Ngalah bukan berarti saya hina, kok.

Yaah, supaya seimbang, nanti saya jadi dominannya di kasur aja~ Saya ‘pimpin’ deh, dengan senang hati~ nyayang-nyayangin istri di kasur lebih enak kok~ #mukaMesum

.

Oke, sebelum postingan ini berubah jadi cerita erotis, mari saya sudahi dulu.

Ciao!

2 thoughts on “Perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s