Postingan kali ini mungkin akan bertema dark dan mind-fuck. Aku kepikiran hal ini pas lagi baca-baca tweet orang galau. Bukan mau memaki, sih. Ini cuma semacam kesadaran diri.. tentang egoisme manusia.

Aku bingung harus mulai darimana. Mungkin dari tweet seseorang itu kali ya? Yang ngerasa, udah diem aja. Nggak bermaksud negatif, kok.

.

Oke, singkatnya, orang itu menyebutkan rasa syukur dan terima kasihnya terhadap seseorang (anonim) atas kehadirannya di dunia ini. Karena dengan terlahirnya dia di dunia, orang itu jadi memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Dan begitu membaca tweet-tweet itu, aku merasakan kesan egois di dalamnya. Entah kenapa..

Hal itu juga kurasakan terhadap adikku. Aku yang nggak pernah mau melihatnya menyakiti dirinya, sebenarnya memiliki egoisme yang sangat tinggi. Aku takut kehilangan dirinya. Lebih tepatnya, aku takut ditinggal olehnya. Aku yang dari dulu menetapkan dia sebagai alasanku untuk hidup, rasanya nggak punya kekuatan untuk melihatnya pergi begitu saja. Baik pergi secara fisik, ataupun rohnya. Aku selalu pingin dia ada di sampingku, ingin selalu mendengar detak jantungnya, ingin selalu melihat senyumnya, karena aku merasa di sanalah sumber kekuatanku.

Kedua hal ini membuatku berpikir bahwa eksistensi manusia dinilai begitu sederhana. Orang dilahirkan karena suatu saat nanti akan dipertemukan dengan lover-nya. Orang tak boleh mati karena manusia yang ditinggalkan akan merasa kehilangan.. baik dalam bentuk semangat hidup, kekuatan, maupun kehadiran. Bagiku, dengan alasan ini, eksistensi manusia dianggap begitu sederhana. Tak lebih untuk orang lain.

Lalu.. bagaimana dengan dirinya? Apa tujuan manusia itu dilahirkan? Apa keuntungan bagi dirinya? Apa dia hanya dilahirkan untuk memuaskan orang lain? That doesn’t sound very nice.

Egoisme manusia. Berterima-kasih pada Tuhan akan kehadiran seseorang yang dikira akan menjadi miliknya. Berterima-kasih padaNya seolah ia akan hidup untuk selamanya. Berterima-kasih padaNya.. seolah orang itu hanya dilahirkan untuknya. Hanya berterima-kasih karena dia sudah dipertemukan dengan orang itu, sudah membawa kebahagiaan untuknya.. bukan karena orang itu lahir dengan selamat dan senang menjadi dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang sebatang kara? Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki orang-orang untuk mencintai dirinya? Orang yang serba salah dalam segala tindakannya sampai-sampai mengundang benci karena tidak mampu memenuhi ekspektasi orang-orang? Tidakkah kalian berterima-kasih pada Tuhan atas kelahirannya? Tidak adakah orang-orang yang berterimakasih atas kehadirannya di dunia?

Eksistensi manusia sekarang dihargai dari fungsi mereka. Sudah seperti alat. Itulah egoisme manusia. Kalau dia nggak membawa manfaat, maka tak ada yang mau berterimakasih atas kelahirannya. Haha.. lucu sekali.

Tapi..

Bagi siapapun yang membaca blog ini.. bagi siapapun yang merasa tak ada yang menghargai kelahirannya.. well, aku menghargai kehadiranmu. Aku berterimakasih kau telah lahir. Tidak.. aku tidak sedang bermulut manis. Aku betul-betul berterimakasih atas kelahiranmu.

Kenapa? Padahal kita belum pernah bertemu.

Yaah, karena aku penganut kepercayaan ‘setiap orang lahir karena suatu alasan’. Setiap manusia lahir dengan membawa pengaruh atau efek pada dunia. Sekecil apapun dirimu, setidak-berguna apapun orang-orang bilang, kau telah membawa perubahan pada dunia.. meski perubahan itu begitu kecil dan kasat mata.. Meski perubahan itu dipandang negatif bagi sebagian besar orang.. Meski kau sendiri tak menginginkan perubahan itu.

Apa yang orang katakan padamu? Kau tidak berguna? Kelahiranmu hanya membawa bencana? Bullshit. Semua orang memiliki harga dalam eksistensinya. Dan tak seorangpun berhak menilainya. Eksistensi orang seharusnya dipandang lebih dari sekedar ‘membawa kebahagiaan’ ataupun ‘membawa manfaat’. Eksistensi manusia menjadi berharga apabila manusia tersebut menghargai eksistensinya.. meskipun dia berada dalam wujud yang tak menyenangkan.

Kau yang berada di sana.. kau yang merasa dirimu tak berharga.. hei, orang-orang korban keegoisan manusia.

Sejak kau lahir di dunia, kau sudah membawa perubahan. Your existence is something. Mungkin kau dipandang tak bermanfaat atau tak berarti oleh orang-orang yang jaraknya begitu dekat denganmu. Tapi di suatu belahan dunia, ada seseorang yang bersyukur atas kelahiranmu di dunia ini. Mungkin aku.. mungkin temanku.. mungkin orang yang tak kukenal sama sekali.

Jangan biarkan orang lain memberimu ‘label harga’. Kau bukan barang.. kau bukan alat. Kalaupun ada orang yang menganggapmu begitu, itu hanya wujud dari keegoisan manusia. Hargai dirimu sendiri. Tunjukkan pada mereka kalau kau pantas hidup di dunia ini, jika itu yang mereka inginkan. Ajari mereka kapan mereka harus diam dan kapan mereka harus berkomentar.

Eksistensi seorang manusia adalah bagian dari alam semesta. Kau adalah alam semesta. Aku adalah alam semesta. Kita adalah alam semesta. Bagaimanapun wujudmu.. sejak kau exist (lahir, dll) di dunia ini, kau adalah bagian dari alam semesta.

.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s