Aku menemukan istilah ini udah cukup lama. Mungkin lebih tepatnya sejak nama Raditya Dika melambung. Entah aku denger istilah ini dari dia langsung atau otakku sendiri yang menyimpulkannya. Tapi yang jelas, aku udah mencoba hal ini hampir setahun atau satu setengah tahun lamanya.

Laugh at yourself yang kumaksud adalah arti harafiahnya. Ngetawain diri sendiri. Menertawakannya dalam hal apapun.. entah itu menertawakan kebodohan, menertawakan wujud fisik, dll. Aku biasanya menertawakan kebodohanku. Jadi misalnya, aku habis mengatakan sesuatu yang menurutku sangat amat bodoh, atau melakukan hal yang cukup memalukan, aku bakal memaksakan diriku untuk menertawakan kesalahanku itu.

Kenapa?

Bagiku, menertawakan diri sendiri adalah terapi yang paling mudah dalam mengatasi minder atau malu. Sering kita merasa telah melakukan hal yang bodoh di depan umum sampai-sampai kejadian itu terus terngiang di pikiran dan akhirnya kita mengutuk diri sendiri. Aku dulu sering merasakan ini karena aku orangnya dulu cukup perfeksionis. Bukan cuma dalam kerjaan aja yang harus perfect, tapi juga tindakan, ucapan, dan segalanya. Dan ketika aku melakukan hal yang kurasa ‘bodoh’, aku bakal kepikiran terus menerus, mengutuk diri sendiri, dan.. apa ya, bahasanya? Membenci diri sendiri? Ya, semacam itu. Aku jadi bilang, “Kyle, apaan sih. Ngapain juga kau melakukan itu? Itu sangat memalukan, tau!” ke diriku. Dan ini terus terjadi dan nggak ada habisnya.

Awalnya kupikir, menertawakan diri sendiri adalah hal yang paling bodoh sedunia. Kau menertawakan ketidak-sempurnaanmu, memamerkan ‘cacat’ dalam hidupmu, dan kau bangga dengan itu. Dan beberapa orang yang setipe denganku juga berpikir begitu. “Apa-apaan tuh, mengakui kebodohan diri sendiri? Mengakui ketidaksempurnaan pribadi?”, semacam itu komentar-komentar yang kudengar.

Bagi kaum intelligent, bertindak bodoh is a big NO. Mereka harus sempurna, mereka harus tampak berkelas, dll. Dulu aku salah satu dari mereka, tapi sekarang udah nggak.

Menertawakan diri bukan artinya mempermalukan diri sendiri. Menertawakan diri lebih kayak mengakui ketidak-sempurnaanmu, mengakui kelemahanmu, mengakui kebodohanmu. Dalam arti lain, memaafkan dirimu sendiri. Kesempurnaan itu baik. Tapi, ketidak-sempurnaan itulah yang membuatmu semakin sempurna. <-(ini kata-kata entah dari siapa)

Menertawakan diri sendiri juga bisa menekan ego pribadi. Orang yang susah menertawakan diri sendiri biasanya memiliki harga diri yang kelewat tinggi atau menilai diri terlalu tinggi. Orang-orang kayak gini lebih sering meremehkan orang lain dan membanggakan dirinya sendiri. Dan orang ini biasanya sangat amat menyebalkan. Just look at them, dont you wanna hit their face with a truck?

Menertawakan diri sendiri bisa membantu orang-orang tersebut untuk menurunkan penilaian berlebih terhadap dirinya dan menghentikan mereka dalam merendahkan orang lain. Dalam arti lain, menertawakan diri sendiri bisa membantu seseorang untuk menjadi rendah hati dan menjadi pribadi yang menyenangkan.

Menertawakan diri sendiri juga bisa diartikan sebagai rasa syukur atas yang kita miliki. Jangan cuma bersyukur punya kelebihan aja.. tapi kita juga harus bersyukur sudah memiliki kekurangan. Bagiku, kekurangan yang kumiliki adalah suatu kelebihan.. sesuatu yang membuatku merasa lebih ‘manusia’. Kalau manusia nggak punya kekurangan, bukannya itu jauh lebih mengerikan? Lagipula, ‘kekurangan’ itu relatif. Bisa jadi orang lain menganggap kekurangan kita adalah suatu kelebihan. Who knows?

Pernah suatu ketika aku menertawakan diri sendiri di depan kaum pinter. Lalu orang itu menatapku aneh dan bilang, “Ih, bego, mengakui kebegoan sendiri”. Aku sih, woles-woles aja dibilang gitu. Yaa, mending aku mengakui suka-rela daripada nanti aku dipaksa mengakui di depan orang banyak. Malunya nggak ketulungan, euy.

.

Jadi.. bukannya aku mau menghimbau supaya kita menertawakan diri sendiri di depan cermin. Cuma, buat orang-orang yang nggak mengerti alasan kenapa orang-orang kayak Raditya Dika mau menertawakan dirinya sendiri baik dalam bentuk fisik maupun tindakan adalah karena hal-hal di atas.

It’s okay to be imperfect. Because imperfectness makes you perfect.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s