Setelah ngisep dua batang, ide ini muncul di kepala. Basically, isi tulisanku adalah amarah pribadi terhadap dunia dan sayangnya hanya bisa disampaikan lewat tulisan. So, enjoy my rage..

.

Di beberapa tweetku sebelum menulis blog ini, aku lagi membicarakan soal filsuf dan filsafat. Sebelum ngetweet, aku habis nonton film berjudul Accepted. Kalian bisa googling tentang ketiga hal di atas karena aku nggak akan menjelaskannya di sini.

Okay, so.. kenapa aku tau-tau membicarakan soal filsafat? Karena tau-tau aku terngiang makian fiktif yang berbunyi, “You dont even know a single thing about philosophy“. Yaah, itu cukup menohok. Kalau ada yang bicara begitu padaku, aku bakal jawab, “Dude, aku mengetahui soal filsafat dari kecil.. bahkan sebelum aku tau kosa kata ‘filsafat’. Setiap orang yang kutemui di setiap jenjang pendidikanku, selalu terselip satu orang yang cukup gila untuk mencekokiku dengan hal-hal berbau filsafat. Jadi kalau kau bilang aku nggak tau apa-apa soal filsafat, mungkin kau harus memikirkannya dua kali”. Lalu kepalaku kembali merespon, “Gimana kau bisa menjadi filsafat? Baca buku filsafat aja nggak pernah“. Ehm.. touché.

Ya. Aku pada dasarnya memang bukan seorang pembaca. Aku nggak terlalu suka baca buku karena aku nggak kuat baca buku. Aku punya tingkat konsentrasi yang sangat minim buat jadi seorang pembaca teks super panjang. Dibandingkan membaca, aku lebih suka mendengar atau nonton film. Aku jago dalam bidang itu. Hahahaha..

Kemudian, aku kembali terpikir: haruskah seorang filsuf rajin membaca atau seenggaknya membaca buku filsafat? Atau, haruskah, untuk menjadi seorang filsuf, menjadi seorang kutu buku? Well, I think not. Dan kalau kujawab dengan sisi membangkang tingkat dewa, aku bakal jawab: nobody have a fucking damn right to tell you how to be a philosopher.

Nggak ada orang yang berhak memerintahmu atau mendiktemu cara-cara atau ketentuan-ketentuan untuk menjadi seorang filsuf. Setiap orang bisa jadi filsuf. Dan setauku, untuk menjadi filsuf, dari dulu, nggak pernah ada tata caranya. Aku nggak pernah melihat buku manual untuk menjadi filsuf. Bahkan, aku nggak pernah melihat buku manual untuk menjadi apapun. Kau berhak menjadi apapun dengan cara apapun. Cuma itu yang kutau.

Untuk menjadi akuntan, kau harus sekolah akuntansi. Untuk menjadi astronomer, kau harus masuk jurusan astronomi. Dan untuk jadi filsuf, apa kau harus masuk jurusan filsafat? Kurasa nggak. Kuliah itu cuma salah satu cara. Salah satu cara untuk mendapatkan sertifikat supaya diakui.

Kenapa? Kenapa harus ada sertifikat? Kenapa harus bersertifikat untuk diakui? Memangnya aku hewan peliharaan yang udah divaksin sampai-sampai harus punya sertifikat? Siapa yang menciptakan sistem sertifikat seperti ini?

Hahaha..

Siapa yang menentukan kita harus melewati step-step tertentu untuk menjadi sesuatu? Apakah seseorang yang takut disalip orang jenius yang bisa melakukan apa saja tanpa harus melewati proses-proses yang sudah dia lakukan? Atau politisi? Siapa yang menciptakan mindset ‘untuk menjadi sesuatu harus melewati jalan itu’? Dan kenapa orang-orang yang nggak melewati proses ‘itu’ kemampuannya nggak diakui? Kenapa?

Satu hal yang kutau.. sesuatu yang hilang dari manusia ketika beranjak dewasa adalah kebebasan. Di masa kecil, kita bebas menjadi apa saja, bebas memanggil diri kita apa saja. Tapi begitu beranjak dewasa, lingkungan memukul kita dan mencaci-maki diri kita kalau kita nggak bisa menjadi apa saja. Dan sayangnya, orang yang nggak cukup kuat pun akhirnya kalah dan berjalan mengikuti arus. Lingkungan memaksa dirinya untuk mencabut kebebasan dari dirinya sendiri. Kejam, bukan?

Hal yang lebih mengerikan adalah ketika orang tua kita sendiri yang merenggut kebebasan itu dari kita. Orang tua yang takut pada pandangan orang lain, orang tua yang takut pada status sosial, dan orang tua yang tunduk kepada doktrin. Kebebasan anak mereka direnggut dengan cara apapun agar anak-anak mereka bisa berbaur dengan lingkungannya. Kebebasan yang sudah diberikan Tuhan kepada SETIAP manusia harus direnggut dari manusia lain, oleh manusia lain. Ironis.

Sistem seharusnya membuat manusia jadi lebih baik. Tapi, coba lihat.. sekarang sistem lebih seperti mesin perusak manusia. Kenapa? Karena sistem dibuat oleh manusia yang ingin merebut kebebasan dan kebahagiaan dari manusia lain. Mungkin dia melakukannya karena dia kehilangan kebebasannya. Entah karena kebebasan itu dicuri orang lain atau justru hilang karena kelalaiannya. Who knows?

Jaman sekarang, manusia lebih percaya pada selembar kertas dibanding pada sesamanya. Contohnya? Uang, sertifikat, surat kontrak, dan semacamnya. Bagaimana ceritanya peradaban manusia yang sudah mencapai kejayaan dan susah-susah dibangun, pada akhirnya tunduk pada lembaran kertas? Apa ini semacam balas dendam kaum pohon kepada manusia yang sudah membunuh keluarga mereka? Sepertinya..

Kertas-kertas ini seolah dibuat memang untuk memenjara manusia dari dirinya sendiri. Anehnya, manusia senang diperbudak oleh kertas sampai-sampai menyembahnya. Inikah kejayaan manusia yang dibangga-banggakan? Mungkin alien di luar sana akan tertawa terbahak-bahak. Manusia bumi lebih terlihat seperti pelawak OVJ dibanding makhluk hidup.

Kertas.. dewa.. Kami-sama.

Indahnya.

.

Kembali ke topik awal.

Haruskah aku membaca buku untuk jadi seorang filsuf? Haruskah aku menjadi kutu buku untuk menjadi seorang filsuf? Dan kalau aku nggak kuat baca, apa aku nggak bisa memanggil diriku seorang filsuf?

Lucu sekali mendengar perkataan itu keluar dari seorang yang mengaku filsuf.

Asas dasar menjadi filsuf adalah kebebasan. Bebas berpikir, bebas bertanya, bebas meng-explore. Nggak ada tata cara untuk menjadi filsuf. Yang ada cuma ciri khas yang umum ditemukan pada mereka.. which is, ciri-ciri yang sering ditemukan pada manusia biasa. Jadi.. memang manusia pada dasarnya identik dengan kebebasan.

.

Oke, segitu aja. Aku bahkan nggak tau pelajaran apa yang bisa diambil dari tulisanku kali ini. Kayaknya nggak ada.

Yaah, ini kan cuapan orang gila. Hahaha..

Ciao!

3 thoughts on “Dengarlah Orang Gila Ini Berbicara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s