Siapa yang nggak tau Candy Crush? Jarang lah ya. Jaman sekarang, hampir semua orang punya game ini di hp-nya (yang pakai tablet dan hp touch screen). Dan hampir semua orang punya gadget canggihnya buat diajak main Candy Crush.

Permainan ini kurasa banyak diminati orang karena bisa dimainkan sambil mikir ataupun dimainin secara asal. Intinya, game ini cocok buat semua orang: yang mau membunuh waktu ataupun yang suka mikir. Salah satu orang yang suka sama permainan ini adalah Kai. Dan Kai bukan cuma sekedar suka maininnya.. tapi kurasa dia semacam addicted sama Candy Crush.

Kai jarang ketagihan main game. Biasanya dia main game cuma buat menghabiskan waktu aja atau sambil menunggu kantuk. Tapi kali ini, beda. Dia addicted. Tau darimana? Karena tanganku pernah digigit pas nyoba ngambil hp-nya karena dia nggak tidur tidur. Serius. Tanganku digigit. Lebih tepatnya bagian pangkal jempol kiriku. Dan itu digigit beneran.. bukan digigit main-main. Dari sana, aku tau kalau Kai udah ketagihan.

Sebenarnya aku sempat khawatir dia ketagihan begini. Tapi, dibanding dia duduk bengong sendirian di kamar, mending dia main game. Seenggaknya, dia teralihkan dari beberapa flash-back nya dia yang akhir-akhir ini sering muncul.

.

Awal kenapa dia bisa main game adalah waktu dia pinjam iPad-nya Dokter pas di ke Bandung kemarin. Waktu itu Kai bosan dan mau pinjam tabletnya Si Dokter di perjalanan. Lalu Kai nanya soal game yang akhir-akhir ini sering dimainkan Dokter. Katanya yang bentuknya kayak permen-permen gitu. Lalu, dijawablah sama Dokter kalau itu namanya Candy Crush. Logonya yang ada permen-permennya.

Begitu ketemu game itu, dimainin lah game ini sama Kai sampai akhirnya nyampe di hotel. Begitu sampai di kamar, Dokter langsung pergi lagi buat ketemu sama rekan-rekan dokternya, terus kami berdua ditinggal di kamar. Aku sibuk bernorak ria sama suasana kamar yang terbilang mewah. Sedangkan Kai, dia sibuk main Candy Crush di kasur. Dia terus-terusan begitu sampai nyawa game nya habis. Begitu ada nyawa, dimainin. Pas habis, dia nonton. Gituuuu terus.

Nah, pas sampai di Jakarta, Kai langsung minta didownload-in game yang dia mainin di iPadnya Dokter. Karena iPadnya dibawa dokter ke RS, jadi Kai nggak bisa main setiap saat. Lalu, dengan polosnya, aku downloadin game itu di hp, dan jadilah Kai megang hp-ku tiap aku nggak kuliah.

Setiap ada kesempatan, Kai bakal tiduran di kasur sambil main Candy Crush. Terutama pas mau tidur. Aku jadi nggak bisa tidur karena dia belum tidur. Selain karena cahaya hp-nya, aku juga nggak bisa tidur karena nggak pernah tega ninggalin Kai tidur. Walau pada akhirnya, aku ketiduran juga.

.

Kai itu semacam kebalikannya aku. Dia gampang banget buat fokus sama satu hal. Jadi, pas dia udah sibuk main, apapun yang kukatakan bakal terdengar kayak kentut. Kata-kataku berlalu begitu saja. Masuk kuping kanan, keluar dari pantat. Dia paling cuma ngerespon: ‘ngg’, ‘iya’, ‘he eh’, dan semacamnya. Begitu nyawanya habis, kutanyain lagi soal apa yang kuomongin, dianya malah bilang, “Sejak kapan kamu ada di sini?“.

Dasar makhluk imut.

Dia juga pernah main Candy Crush sambil nyanyi asal-asalan. Aku nggak tau itu lagu ciptaan dia atau lagu orang, tapi dia nyanyiin and it rhymes. Dia main itu sambil nyanyi sepanjang nyawanya masih ada. Pas dia udah balik dari dunia Candy Crush, kutanya, “Tadi kamu nyanyi apa?“. Dia cuma jawab, “Emang tadi aku nyanyi?

Okeh..

Ada pula penyesalan terbesarku adalah ketika aku mengatakan ke Kai, “Kamu tau nggak, kata temenku, kita nggak perlu nunggu 2.5 jam juga buat menuhin nyawa. Nyawanya bisa langsung penuh dengan memajukan jam hp. Tapi pas nanti nyawanya habis dan jamnya dibalikin ke normal, nunggunya jadi ratusan menit“. And so, sekarang Kai main Candy Crush non-stop.

Aku agak kaget karena dia bisa main terus menerus tanpa memperdulikan kalimat terakhirku. Aku udah was-was kalau nanti jam hp-ku jadi ngaco gara-gara dimajuin terus sama Kai. Tapi rupanya, nggak. Kai punya cara sendiri biar pas jam hp dibalikin ke jam normal, menitnya nggak tambah banyak.

Caranya dia adalah:

Setting > date&time > majuin tanggalnya sehari > ok > buka Candy Crush > lihat nyawa udah full > balik lagi ke setting date&time > benerin tanggalnya > lanjut main Candy Crush

Dan akhirnya, dia main terus-terusan.

.

Tapi di samping itu, aku senang Kai menemukan hobi baru walau hobi barunya agak-agak mengerikan. Dia jadi punya sesuatu yang dia kerjakan, punya sesuatu untuk diperhatikan, dll. Yang lagi kupersiapkan sekarang adalah ucapan dia: “Kyle, kok mataku masih buram ya, pas make kacamata?“. Lalu aku harus ke optik buat beliin lensa baru.

Aku juga bangga sama Kai karena bisa melewati 60 level dalam semingguan. Dia jadi lama karena mungkin karena nunggu waktu quest dan karena hp-nya kubawa ke kampus. Kalau aku kasih hp sendiri, kira-kira dia bakal sampai level berapa ya, dalam seminggu? Aku aja satu level makan 2 hari. Dia beberapa menit bisa makan 3-4 level. Bintangnya kalau nggak 2, ya 3.

Haha..

Kayak kata Si Tante: “Gue percaya kalau kembar nggak harus serba sama 🙂” di smsnya beberapa hari yang lalu. Haha.. pedih.

.

Udahlah.. segitu dulu postingannya.

Keep calm and play Candy Crush until you die. Keep cute and love Kai.

Ciao!

2 thoughts on “Candy Crush

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s