Selamat malam, muda-mudi di seluruh Indonesia. Kembali lagi dengan saya, Kyle Nasution, kembarannya Johnny Depp. *pose Saya Memang Tampan*

Okay.

Selamat melaksanakan ibadah malam minggu, hei pemuda di seluruh Indonesia~ Semoga aktifitasnya selalu sehat, sportif, dan jangan lupa berkondom ria.

Nah, malam minggu adalah malam yang identik dengan pasangan. Entah itu pacaran atau udah nikah. Atau mungkin, masih berstatus gebetan. Yaah, apapun itu, malming itu sangat identik dengan kegiatan-kegiatan couple. Dan karena itu pula, saya berniat ngepost sesuatu yang berhubungan dengan couple.

Tidak, postingan ini nggak menghibur. Ini cuma menceritakan hubungan antara temanku dan cowoknya. Dia nggak pernah baca blog saya, makanya saya berani cerita begini di sini. Muahahaha!

Ehem,

Okay, katakanlah temanku ini bernama Maria dan cowoknya bernama Nestle. Maria dan Nestle kenal bulan lalu dan jadian 2-4 hari kemudian. Waktu Maria cerita padaku soal cowoknya, aku udah punya bad feeling dan udah nggak sreg sama cowoknya. Yang bikin aku nggak sreg adalah sikapnya yang ‘sok perhatian’ dan semacamnya. Setelah itu, dia bisa bilang ‘sayang’ even baru 2 hari kenalan.

Aku sangat amat alergi dengan kedua hal tersebut. Apalagi pas baru kenalan. Pertama, orang yang baru kenalan itu nggak pantas menunjukkan sikap sok perhatian. Apalagi perhatiannya pakai sok ngambek. Orang yang anda gebet pasti bakal berpikir, “Apa-apaan sih nih orang?“. Jadi, memberi perhatian TERLALU banyak di awal kenalan adalah dont’s dalam dunia gebet-menggebet.

Kedua, mengatakan ‘sayang’ di awal menggebet sama sekali bukan awal yang bagus. Buat orang kota, itu terdengar kampungan dan sangat amat palsu. Mungkin tujuannya memang untuk meluluhkan hati sang gebetan.. tapi, kalau dikatakan di hari kedua kalian kenalan, itu adalah kesalahan fatal. Logikanya, bagaimana caranya dia bisa sayang kalau kita aja baru kenalan? Tau soal hidup kita aja nggak, udah bisa bilang sayang. Jangan-jangan dia ngomong ke semua cewek/cowok yang dia baru kenal, dong? Berarti kata-kata ‘sayang’nya nggak spesial, dong? Jadi, ini adalah dont’s kedua dalam dunia gebet-menggebet.

Karena udah ada dua kesalahan fatal ini, sebagai teman yang baik, aku bilang ke Maria kalau dia bukan cowok baik-baik untuknya. Dan yang ngomong begini bukan cuma aku aja.. tapi hampir seluruh temannya selek sama Nestle. Hampir nggak ada yang ngasih restu sama Maria kalau dia mau jadian sama Nestle. Tapi, beberapa hari kemudian, MEREKA MALAH PACARAN. 90% TEMANNYA UDAH BILANG ‘NO’, SI MARIA MALAH NERIMA PACARAN SAMA NESTLE. BARU 2-4 HARI KENALAN LOH, ITU.

Ehem,

Sebagai teman yang baik, aku kaget setengah mampus pas tau soal itu. Langsunglah Maria kutanya-tanyain gimana ceritanya bisa jadian, terus kuceramahin panjang lebar. Tapi ceramahku waktu itu belum selebar pas mereka putus.

Mereka akhirnya putus setelah 2 minggu. Maria mutusin Nestle, terus Si Nestle didelcon sama Maria karena kata-katanya nyebelin. Tapi setelah putus, Maria masih ngomongin soal Nestle. Dan ini lah yang bikin aku, sebagai teman, jadi keki. Cowok kayak Nestle masih dikejar-kejar. Kalau Nestle adalah cowok yang baik, mungkin aku akan setuju. Dan kalau Maria bukan teman dekatku, aku juga nggak akan peduli. Maria adalah teman dekatku, DAN DIA SUPER POLOS.

Maria cerita soal hubungan mereka. Bagaimana Si Nestle bilang kalau dia benci cewek merokok dengan gampangnya di depan Maria, bagaimana Si Nestle ini egois dan cuma keinginannya aja yang pingin diturutin, bagaimana Si Nestle bilang ke Maria ‘iya, gue emang orangnya cuek, kok‘ dengan santainya. Jujur, aku jadi makin emosi dengernya. Ditambah Maria masih kepo dan ngomongin Nestle. Makin keki.

Jadilah aku ceramah panjang lebar di beberapa hari ketika Maria cerita soal Nestle. Hal-hal yang kukatakan ke Maria soal Nestle adalah menurut pandanganku. Dan kukatakan pada Maria kalau Nestle bukanlah cowok yang bagus. Mau dia jadi cewekpun, dia tetep nggak bagus buat dijadikan pacar.

1. Nestle pada dasarnya nggak peduli sama Maria. Kenapa? Karena Nestle bisa dengan mudahnya bilang kalau dia benci cewek merokok tanpa mempertimbangkan alasan Maria buat merokok. Entah dia memang nggak peduli atau dia nggak mau tau. Aku bisa ngomong begini karena waktu Maria menanyakan soal rokok, aku ada di sampingnya dan aku yang nyuruh. Masalahnya, Nestle juga perokok.

Sebaiknya, kalau kalian para pembaca pingin ngegebet seorang cewek/cowok perokok, tapi kalian nggak suka perokok, hal pertama yang harus kalian perhatikan adalah ucapan atau komentar terhadap perokok. Kenapa? Karena perokok-perokok yang kukenal biasanya merokok sebagai bentuk pelarian. Pelarian dari apa? Umumnya dari masalah keluarga. Jadi, hal ini sangat sensitif. Aku juga sama kayak mereka, menjadi perokok karena pelarian, makanya aku tau gimana rasanya.

Makanya, sebelum kalian asal nyeloteh, lebih baik kalian bertanya, “emang kamu kenapa merokok?“. Itu jauh lebih baik daripada langsung nyeletuk, “aku nggak suka perokok.” kepada siapapun. Walaupun itu temanmu.

2. Nestle adalah anak kuliahan bermental anak TK. Kenapa? Karena dia cuma mau Maria mengikuti kriterianya. Maria harus mengerti kalau Nestle sibuk, Maria harus mengerti kalau cara penyampaian kata ‘sayang’nya Nestle berbeda, Maria harus mau menerima Nestle apa adanya. Tapi, Nestle nggak mau menerima Maria apa adanya. Egoismenya terlalu tinggi dan dia berharap pasangannya bisa sesuai dengan khayalannya dia.

3. Nestle selalu menghindari pembahasan masalah. Ini yang paling kubenci. Aku paling benci kalau ada orang yang kabur di saat lagi ada masalah.. apapun alasannya. Bete? Jelas. Aku juga bete. Tapi bukan berarti kita harus pergi karena bete dan meninggalkan masalah terbengkalai. Lalu dia berharap apa? Kembali di saat moodnya udah membaik dan berharap masalah sebelumnya selesai begitu saja? Atau justru dia ingin menjalin hubungan tanpa masalah? Dude, itu pikiran yang sangat bocah. Hubungan orang dewasa selalu ada masalah. Dan kau dipandang dewasa kalau kau cukup berani untuk berdebat dengan pasanganmu demi menyelesaikan masalah. Kalau kau kabur? Itu namanya pengecut.

Walau memang kelihatannya berat dan menyakitkan, duduk dan berdebat untuk menyelesaikan masalah adalah pilihan yang tepat. Atau lebih efektif lagi, kalian diam-diaman untuk mendinginkan kepala, lalu diskusikan kembali masalahnya. Jangan marah kalau pasangan anda mengungkit-ungkit masalah yang lalu. Itu artinya ada yang belum terselesaikan. Dan sebagai pasangan, kalian wajib menyelesaikannya. Kalau nggak mau menyelesaikannya, kau boleh memutuskannya. Tapi, terima resiko kalau dia dendam atau marah.

4. Nestle nggak benar-benar sayang pada Maria. Kalau dia memang sayang sama Maria, dia pasti rela buat merubah kepribadiannya yang cuek dan mencoba mengikuti keinginannya Maria. Sayang itu bukan di mulut, tapi di tindakan. Anda mau bilang sayang bertubi-tubi, kalau anda nggak menunjukkannya dengan tindakan, berarti anda telah berbohong.

.

Dah, segitu aja deh, postingan marah-marahnya. Nanti kalian ikutan bete. Muihihihi.

Tapi intinya ya itu.. kalau mau menggebet, jangan over do sampai bilang ‘sayang’ dan ‘cinta’ di sebulan pertama kenalan. Minimal kalian harus bbman hampir setiap hari dan ketemuan setiap weekend kalau mau bilang ‘sayang’. Karena orang bisa sayang kalau udah kenal. Kalau kalian nggak begitu, kalian bilang ‘sayang’ atas dasar apa? Membual?

Hahaha..

Ciao!

2 thoughts on “Malam Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s