perhatian!!! Cerita ini tidak cocok dikonsumsi pembaca di bawah 18 tahun. Tapi kalau masih ingin baca ceritanya, silakan.

.

Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda

 .

Lesson 1: Tante Sayang, Tante Serem

.

.

by Kyle Nasution

Jonathan, nama panggung seorang pemuda berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial enam bulan terakhir. Karena keadaan pemerintahan Indonesia yang tidak mengizinkan adanya prostitusi, tentu Nathan, panggilan akrabnya, menawarkan jasanya secara sembunyi-sembunyi. Penawaran jasanya tentu dimulai dari broadcast message Blackberry yang disebarkan melalui teman-teman seperjuangannya dengan mencantumkan nomor handphone dan PIN Blackberry-nya.

Nathan sebenarnya tidak memiliki target pelanggan. Ia lebih memilih untuk tidak mengkategorikannya. “Rejeki tergantung Yang Di Atas”, jelasnya sambil menunjuk langit-langit kamar kosannya. Oleh karena itu, Nathan bersedia melayani lawan jenisnya dari berbagai usia selama mereka bersedia merogoh gocek yang terbilang mahal.

Sebagai pemula, memang Nathan mencantumkan tarif yang cukup tinggi dibanding teman-teman seperjuangannya. Segala macam komentar yang mewanti-wanti Nathan, diabaikannya. Ia cukup percaya diri dengan penampilannya yang mudah menarik perhatian lawan jenisnya; tubuh yang elok, wajah yang tampan, serta tinggi badan yang memadai. Tidak heran jika ia memasang tarif mahal di awal pekerjaannya.

Perjuangan Nathan berbuah hasil. Pelanggan pertamanya menelponnya di malam Sabtu menjelang pukul sembilan malam.

Halo? Apa benar ini nomor Jonathan?” suara di seberang telepon bergema.

“Oh, iya. Saya Jonathan. Tante bisa langsung memanggil saya Nathan.” Jawab Nathan dengan pede.

Aduh, Nak.. Jangan memanggil aku dengan sebutan ‘tante’, dong. Aku jadi berasa tua. Panggil aku Laurent saja.” Sahut Si Penelepon dengan nada genit. “Nak Nathan malam ini ada pelanggan?

Dengan semangat, ia menjawab, “Oh, tidak, Laurent. Malam ini saya free.”

Kalau begitu, apa Nak Nathan bisa datang malam ini ke rumahku? Rumahku di daerah Pondok Indah. Nanti aku SMS detil alamatnya. Bisa?

Senyum sumringah menghiasi wajah Nathan. “Oh, dekat itu, Tante. Mungkin dalam setengah jam, aku bisa sampai di rumah Tante.”

Jangan panggil Tante, dong! Laurent saja!

“I-iya, Laurent.”

Kalau begitu aku tunggu, ya. Aku SMS detil alamatnya sekarang, nih.

Begitu telepon diputus, Nathan langsung mengepal tinju ke udara; menandakan kesuksesan pertamanya sebagai seorang gigolo. Tanpa menunggu lama, ia pergi bermodalkan motor bebek dan kondom baru dua kotak. Berdasarkan pengalaman teman-temannya, seorang tante girang sangatlah sulit dipuaskan. Kendor, kata Albert, salah satu teman seperjuangannya.

Nathan tiba di rumah Laurent beberapa menit lebih cepat dari dugaannya. Rumahnya tidak terlalu sulit ditemukan karena hampir berada di bagian luar perumahan.

Begitu sampai, Nathan terperangah dengan ukuran rumah Laurent yang tampak seperti istana. Gerbang rumahnya bercat keemasan dan tingginya hampir tiga meter. Dari luar, ia bisa melihat beberapa mobil mewah terparkir di luar garasi. Warna cat rumah tersebut didominasi oleh warna cokelat dan emas yang elegan, menampakkan kemewahannya yang tiada tara.

Sudah cukup terkagum-kagumnya, Nathan pun menekan bel. Dan setelah mengenalkan diri di intercom, Nathan pun dipersilakan masuk.

Kesan pertama Nathan begitu memasuki rumah Laurent adalah: pemandangan di dalam tidak seindah di luar. Di bagian dalam rumah memang terisi dengan perabotan-perabotan mewah dengan ukuran yang ekstra pula. Tetapi, penempatan dan pemilihan model perabotannya sama sekali tidak berkelas dan seragam. Asal besar dan mahal saja, menurut Nathan.

Pemuda berambut klimis itu terduduk di sebuah sofa kulit berwarna hitam yang ada di ruang keluarga. Di kakinya, ia merasakan kelembutan permadani wool yang warnanya bertabrakan dengan perabotan ruang keluarga lainnya. Sama sekali tidak cocok dan terlihat norak.

Tidak sampai sepuluh menit, sebuah suara wanita dewasa memanggilnya dari lantai dua. Nathan menoleh dan menemukan seorang wanita paruh baya yang sudah mengenakan jubah tidur yang terbuat dari sutra berwarna ungu-pink. Rambut wanita itu berwarna cokelat terang seperti di baru saja dicat di sebuah salon.

“Ayo naik.” Ujar wanita itu dengan suara yang sedikit terdengar serak.

Dengan semangat ’45, Nathan pun menaiki tangga yang lebarnya melebihi pintu tersebut. Belum sempat ia menginjak anak tangga terakhir, ia sudah melihat Laurent berjalan masuk ke dalam sebuah kamar yang berada di ujung lantai dua.

Pemuda itu menarik nafas. Mengecek kantongnya untuk memastikan ia sudah membawa ‘suplemen’ dan ‘pengaman’. Karena pelanggan pertamanya adalah seorang ‘tante’, maka ia harus bersiap untuk lembur dan menjadi budak di kasur.

Begitu pendiriannya sudah mantap, Nathan berjalan perlahan bak seorang model ke pintu kamar Laurent. Alangkah terkejutnya ketika Nathan melihat wanita itu sudah terbaring seksi, menampakkan kakinya yang mulus namun penuh varises, di atas kasur. Pemuda itu semakin terkejut begitu melihat wajah Laurent dari dekat; wajahnya tampak aneh dengan tonjolan-tonjolan pipi dan dagu yang tampak penuh. Seperti habis disuntik di salon kecantikan.

Namun, Nathan menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia harus membiasakan dirinya untuk melihat pelanggan dengan penampilan seperti apapun. Ia pun menutupi rasa terkejutnya dengan senyuman tipis sembari menutup pintu kamar di punggungnya.

Laurent mengisyaratkan pemuda di depannya untuk datang mendekati tangannya. Dengan tarian telunjuk dan gerakan bibir yang menggoda. Seperti berbisik, namun tak terdengar. Seperti desahan seorang Cougar sejati.

Nathan mengasumsikan kalau Laurent adalah seorang ‘tante’ yang berpengalaman. Mendadak ia merasa tidak percaya diri; takut tidak bisa memuaskan pelanggan pertamanya. Sungguh kenyataan yang kejam untuk dirinya dengan ‘burung’ yang tergolong WOW.

Laurent berbaring begitu Nathan sudah menyentuh pinggiran kasur. Kini, ia bisa melihat belahan dada Laurent yang terlihat kencang. Cukup mengejutkan, bagi Nathan. Ia kira, Laurent adalah wanita dewasa yang begitu terobsesi untuk terlihat muda dan cantik.

Tiba-tiba, wanita itu menarik kerah Nathan dan langsung mencium kedua belah bibir Nathan yang berwarna kemerahan natural. Begitu lama, bertaut lidah dan penuh desahan. Sesekali Nathan bisa merasakan gigitan ganas dari Laurent.

Rupanya, ini rasanya bercengkrama dengan wanita dewasa. Pikir Nathan penuh kepasrahan.

Wanita itu meliar. Ia mendorong Nathan hingga terbaring di sisi lain kasur dan menaiki pinggang Nathan yang kokoh. Wajahnya sengaja dibuat menggoda, namun Nathan tak tergoda sedikitpun; melainkan seram dengan tonjolan-tonjolan berlebihan dari suntik botox wanita itu.

Laurent memulai permainannya dengan membuka kemeja flannel Nathan, mengelus dadanya yang putih dan bidang, mendesah di telinganya, membuat cap lipstick di sekujur wajah tampan Nathan. Dengan jarak yang begitu dekat, Nathan bisa mencium aroma parfum wanita yang begitu menusuk. Entah Laurent telah menghabiskan berapa botol parfum hanya untuk bercengkrama dengan Nathan.

Perlahan, Laurent membuka jubah tidur sutranya dan menampakkan pakaian dalamnya yang penuh renda. Ia memainkan payudaranya yang masih terbalut bra untuk menarik nafsu Nathan.

Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian Nathan. Ia pun mengalihkan perhatiannya dari payudara Laurent ke bagian bawah tubuh wanita dewasa itu. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat sebatang Mr. P mencuat dari lingerie Laurent. Berwarna gelap dan penuh urat.

“ASTAGA!!!!” pemuda itu terlonjak hingga menjatuhkan Laurent ke samping kasur.

“Kamu apa-apaan sih?!” gerutu Laurent yang ternyata seorang she male.

Dengan cepat, Nathan meraih kemeja flanelnya.

Bodoh sekali. Suntikan botox, payudara yang kencang hingga terlihat seperti balon, serta suara yang sedikit serak. Kenapa ia tidak terlintas di pikirannya kalau Laurent adalah seorang waria?

Tanpa pikir panjang, Nathan langsung pergi meninggalkan Laurent dan rumahnya. Dengan kecepatan tinggi, ia menjauhi rumah mengerikan di daerah Pondok Indah tersebut.

Sungguh pengalaman pertama yang mengejutkan untuk Jonathan sang gigolo muda.

-fin-

4 thoughts on “Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda (Lesson 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s