Jadi hari Selasa kemarin saya baca blognya Sherly yang membahas soal pemerkosaan atau seks secara paksa atau semacamnya. Dan kebanyakan postingan di blog saya memang membahas soal pemerkosaan karena itu salah satu dari isu yang paling menarik perhatian saya.

Lalu kemarin, hari Rabu, aku dan Sherly kembali membahas soal pemerkosaan dan beberapa peraturan konyol yang dikeluarkan pemerintahan. Ada peraturan yang melarang cewek pakai rok mini, ada statement soal ‘cewek pemakai rok mini pantas diperkosa’, dan sebagainya. Buatku, itu terdengar konyol. Sangat amat konyol. Saking konyolnya, aku sampai pingin ketawa sambil nyundut orang di leher.

Kalau membicarakan soal pemerkosaan dan perempuan, maka kita nggak akan lepas dari agama dan para fanatiknya. Dan, maaf saja, kebanyakan isu soal perempuan memang datang dari agama berinisial I. Bukannya saya sensian sama agama ini, tapi emang kebanyakan peraturan konyol datangnya dari mereka.

Aku memang baru mempelajari agama itu selama tujuh tahun.. sejak saya datang ke Indonesia. Tapi saya tau betul apa yang mereka ajarkan. Dan menurut saya, memang semua ajarannya benar dan masuk logika saya (walau ada beberapa yang nggak juga). Tapi sayangnya, permasalahan yang menyangkut perempuan terdengar konyol di telinga saya. Entah emang ini ajaran dari sananya, atau udah ada perubahan begitu masuk ke Indonesia. Saya nggak tau, dan saya akan membahas apa yang saya pelajari selama ini. Kalau ada yang nggak setuju, bisa dijelaskan alasannya di kolom komen.

Isu-isu yang menyangkut perempuan ada dua, satu pernikahan, satu lagi soal aurat. Di agama itu, aurat wanita adalah hampir seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan matanya. Sisanya, kalau bahasa saya, bisa menggoda iman.

Setelah mempelajari semua isu tersebut, lalu aku beralih ke peraturan-peraturan pemerintah yang saya dengar beberapa waktu belakangan. Salah satunya udah saya sebut di atas. Lalu, ada soal hukum pernikahan menurut agama ini yang diaplikasikan di peraturan negara (khusus penganut agama ini).

Komentar saya, di dalam pernikahan, perempuan dianggap seperti barang dagangan. Ketika lahir, mereka milik ayahnya. Lalu begitu ada pria yang mau, mempelai pria harus menyiapkan mahar atau mas kawin untuk menikahi perempuan ini. Di upacaranya, si ayah dan mempelai pria harus mengucap ijab qabul sebagai bentuk ‘transaksi’. Lalu ‘transaksi’ ini harus disaksikan sekian orang agar sah.

For me, it sounds like jual-beli. Si bapak menjual, mempelai pria membeli. Dan kalau teringat soal jual-beli, saya teringat soal masa Rasul yang sedang marak-maraknya perbudakan. Lalu saya menyimpulkan secara kasar kalau yang dilakukan di pernikahan di Indonesia adalah jual-beli budak. Kenapa? Karena si perempuan nggak terlibat di dalam ijab qabul ini.

Maybe I’m wrong. Maybe I’m right. Tapi, itulah yang saya lihat.

Kalau saya pikir-pikir, Tuhan nggak mungkin menurunkan perintah yang seolah-olah menempatkan salah satu makhluknya layaknya budak. Apalagi makhluk ini berasal dari kingdom animalia bernama Manusia, bentuk sempurna dari hewan di mana mereka memiliki kelebihan untuk berpikir. Masa, hanya karena beda gender, yang satu dikategorikan lebih rendah? Kenapa saya bilang direndahkan? Karena seperti yang sudah saya sebutkan, perempuan tidak dilibatkan di dalam ijab qabul tersebut. Artinya, ucapan/pendapat pihak perempuannya bukanlah sesuatu yang penting.

Mau peraturan itu ditempatkan di jaman perbudakan, saya rasa itu tetap tidak etis.

.

Mari kita beralih ke statement ‘tubuh perempuan menggoda iman’.

Sebagai cowok, jujur, tubuh perempuan memang menggoda iman. Tubuh mereka mulus, lembut, dan indah. Berbeda dengan pria yang badannya kaku dan banyak tonjolan-tonjolan otot. Tonjolan pada wanita terlihat jauh lebih menarik dan nyaman dipandang. Suara mereka merdu bagai bidadari, dan secara fisik, mereka lemah. Kalau saya mengikuti nafsu, bisa saja saya menyeret mereka ke sebuah tempat untuk saya setubuhi dan memuaskan hasrat saya.

But, no. Saya bukan cowok kayak gitu. Memang mereka menggoda iman. Tapi saya bukan animalia sembarangan, saya punya akal, bisa berpikir, dan saya harus bisa mengendalikan nafsu dengan akal yang saya miliki.. saya manusia. Selain itu, perempuan adalah makhluk Tuhan. Mereka punya hak, jadi saya nggak boleh semena-mena. Menyakiti makhluk lain aja nggak boleh, masa saya tega menyakiti sesama manusia?

Kalau menanggapi perempuan yang berpakaian mini dan menampakkan tubuhnya, 50%-nya saya setuju. Karena saya tau, nggak semua cowok punya kesadaran kayak saya. Jadi saya rasa, berpakaian agak tertutup bisa menyelamatkan mereka dari predator seks. Tapi, bukan berarti saya memanjakan orang yang kesadarannya rendah.

Saya rasa, menyuruh perempuan untuk menutup tubuhnya dengan alasan SUPAYA NGGAK DIPERKOSA adalah sesuatu yang bodoh. Seolah-olah mengatakan kalau pria nggak bisa menahan nafsunya, dan setiap melihat wanita berpakaian terbuka sedikit, muncul rasa horny. Itu sama saja menyamakan kaum pria dengan hewan tak berakal. Saya nggak sudi dibilang hewan tak berakal. Makanya, saya nggak pernah memarahi wanita hanya karena pakaiannya terbuka.

Kalau saya ibaratkan, melihat perempuan dengan pakaian terbuka sama saja dengan cobaan dari Tuhan. Cobaan dalam rangka menguji seberapa tahan saya terhadap godaan nafsu, seberapa hebat saya menahan nafsu hewani saya, dan seberapa hebat saya mengendalikan pikiran saya sendiri. Jadi saya senang-senang saja melihat perempuan berpakaian terbuka. Selain saya bisa cuci mata(…), saya rasa saya bisa dapat pahala karena saya berhasil menahan nafsu hewani saya.. atau sebutan kerennya: mempertahankan kodrat sebagai manusia.

Terlepas dari itu, cara berpakaian hanyalah berupa kewajiban. Boleh mengingatkan perempuan agar menutup auratnya. Tapi jangan dengan cara mengancam dan mengeluarkan statement-statement seperti ‘perempuan ber-rok mini pantas diperkosa’. Karena tugas kita hanya mengingatkan mereka akan kewajiban mereka terhadap Tuhan. Mau dituruti atau tidak, didengar atau tidak, itu urusan mereka dengan Tuhan. Yang penting saya sudah mengingatkan. Setelah itu? Bukan urusan saya.

Sayangnya, orang-orang suka salah mengaplikasikan cara mengingatkan mereka sehingga terdengar memaksa. Kalau kewajiban itu menyangkut antara anda dan dia, mungkin anda boleh memaksa karena ‘kewajiban’ adalah sesuatu yang harus dilakukan. Tapi, karena ini urusannya dia dengan Tuhan-nya, jadi saya nggak boleh memaksa.

.

Intinya, perempuan dan laki-laki sama-sama harus waspada. Perempuan waspada dengan predator seks, dan pria waspada dengan nafsunya sendiri. Lalu, apa yang kita pilih memiliki tanggung jawab. Dan dalam kasus ini, masing-masing individu bertanggungjawab kepada Tuhannya masing-masing. Mengingatkan, boleh. Memaksa, jangan.

Kemudian, ada baiknya laki-laki mulai belajar dan diajarkan untuk menahan nafsu dan menghargai makhluk lain, khususnya sesama manusia (karena saya bukan hanya berbicara soal hetero). Dan kalau saya boleh berbicara dengan religius, saya rasa, banyaknya perempuan berpakaian terbuka menandakan masih banyaknya pria yang belum mengerti kodratnya sebagai manusia. Masih banyak yang belum bisa menahan nafsu. Selama manusia belum belajar, cobaan akan terus datang.

Yaah, kurang lebih seperti itulah yang saya lihat.

.

Oke, sampai di sini dulu. Tetap menahan nafsu dan tetap sedia kondom sebelum have sex.

Ciao!

2 thoughts on “Manusia Dan Kodratnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s