Akhir-akhir ini aku jadi tertarik untuk mendalami filosofi iblis. Aku sebenarnya nggak tau apa bedanya iblis dengan setan. Kurasa setan itu anak buahnya iblis. Jadi, mari kita bicarakan bos-nya aja? Hahahaha

Aku tertarik membicarakan filosofi iblis bukan karena aku pingin jadi orang jahat atau apapun itu definisi umum tentang kaum iblis. In fact, kurasa sebenarnya kita harus banyak belajar dari iblis dibandingkan dari malaikat. Well, walau ada beberapa kepercayaan yang bilang kalau iblis itu adalah malaikat yang diusir dari surga.

Bagiku, ada beberapa hal yang salah dalam dunia ini dalam memandang iblis. Kebanyakan aku mendengar makian atau tuduhan terhadap sang iblis ketika seorang manusia melakukan kekhilafan. Sebagian besar agama bilang untuk menjauhi godaan setan/iblis dengan alasan karena itu salah. Intinya, alasan yang diberikan adalah alasan-alasan yang naif kayak ‘itu salah’ atau ‘karena itu perintah Tuhan’. Aku yang sebagai anti-mainstreme dan hipster jejadian, mencoba untuk memandangnya dari sisi yang berbeda.

Kalau nggak salah aku mempelajari filosofi dan segala hal berbau iblis ini udah sekitar 2-3 bulan. Aku mulai membaca dan menonton hal-hal yang menceritakan tentang iblis/setan, mulai dari sumber terpercaya sampai yang nggak bisa dipercaya (?). Pokoknya, aku membaca semua sumber yang bisa kutemukan.

Dari situ, aku bisa menyimpulkan kalau rata-rata iblis berpenampilan menarik dan menggoda. Dibanding malaikat, iblis terlihat begitu indah dan mempesona. Perkataan mereka juga sangat menggoda dan elok. Hal-hal ini kupandang begitu menarik. Apalagi dengan kenyataan bahwa iblis selalu dikategorikan kepada kejahatan dan neraka, dan malaikat pada kebaikan dan surga.

Aku.. sama sekali memiliki pendapat yang berbeda. Tell me I’m wrong, tapi aku benar-benar berpikir kalau sebenarnya segala yang kusebutkan di atas itu nggak seperti itu. Katakanlah itu ilusi atau cuma persepsi dari pendahulu-pendahulu kita yang taat beragama.

.

Menurut kepercayaan barat, orang-orang yang memiliki kekuatan sihir hitam bisa memanggil iblis. Iblis juga memiliki etika dan mau mengikat perjanjian dengan sebuah syarat. Syarat-syarat itu sudah disebutkan di awal pertemuan mereka bahkan sebelum perjanjian itu disegel. Syarat yang disebutkan iblis begitu jelas. Kalau bayarannya jiwa, ya harus dibayar dengan jiwa. Kalau dibayar tumbal, ya harus pakai tumbal.

Dari sini aku menilai kalau iblis benar-benar memiliki etika dalam perjanjian. Mereka selalu berkata jujur dan tidak pernah menipu. Manusia yang lemah, selalu marah karena merasa ditipu. Padahal, iblis sudah mengatakan segalanya dengan jujur. Manusianya aja yang lengah dan nggak teliti, makanya terjerat omongan iblis.

Dan ini nggak terjadi di barat aja. Sebenarnya, semua orang yang dikategorikan ‘terkena godaan iblis’ adalah manusia-manusia yang lemah pendirian. Tapi karena mereka nggak mau disalahkan, jadinya iblis yang disalahkan. Sebagai manusia yang bergelut dengan logika doang, aku sama sekali menentang perbuatan ini. Wong iblis nggak ngapa-ngapain kok, malah disalahin?

Sebagian besar orang juga tergoda karena tau apa yang dikatakan iblis adalah benar. Kemarin aku mencoba untuk menggunakan metode yang sama ke Sherly. Waktu itu dia main ke rumah sebelum kelas jam 1. Tapi karena aku juga butuh temen ngobrol, akhirnya dia kugoda. Kubilang kalau cuacanya panas dan itu udah jam 12 dimana jalanan lagi macet-macetnya. Alhasil? Dia tergoda, tuh. Aku salah apa? Yang kukatakan kan hanya kenyataan. Yang menentukan mau tergoda atau nggak itu ya manusianya sendiri.

(maaf ya Sher, kemaren itu saya lagi membuktikan metode di atas :3)

Metode ini nggak kucoba ke satu orang doang. Aku nyoba ke semua teman-temanku dengan cara yang sama: mengatakan kejujuran. Ada yang tergoda, ada yang nggak. Kesimpulannya, tergoda atau nggak, itu bukan tergantung Si Iblis, tapi tergantung keimanan dan pendirian masing-masing. Kalau lemah pendirian, ya kegoda. Kalau kuat, ya nggak kegoda. As simple as that.

.

Mungkin yang kupelajari sekarang belum ada apa-apanya. Tapi, berdasarkan hal yang kusebutkan di atas, aku jadi mengagumi iblis. Dan sekarang, aku memandang segala sesuatunya dari sisi berlawanan. Iblis yang dipandang jahat, padahal dia selalu berkata jujur dan memiliki etika. Bukankah dia memiliki segala yang diperintahkan di dalam kitab? Kenapa dia dimusuhi? xD

Oke oke, mungkin postingan kali ini begitu extreme. Tapi, bahkan dari makhluk seterkutuk iblis kita masih bisa menarik pelajaran. Hohoho~

Sudahlah, segitu aja. Maaf nggak jelas.. itu bahasannya emang sedikit, sih.

Ciao!

3 thoughts on “Filosofi Iblis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s