Sebagai cowok bisex, teman cewekku jauh lebih banyak dibanding temen cowokku. Entah kenapa aku bangga tapi kadang juga ada perasaan nista. Bangga karena kayaknya aku bisa menarik perhatian banyak cewek. Nista karena dari semua temen cewekku, nggak ada satupun yang menarik perhatianku secara seksual/pacaran/whatever. Semua lebih kupandang ‘bro’ dibanding cewek (hahaha).

Temen cewekku mulai banyak begitu aku memasuki dunia perkuliahan. Entah kenapa di jurusan Akuntansi begitu banyak cewek-cewek berkeliaran. Sayangnya rata-rata dari mereka cewek-cewek rajin, kalem, dan anak Tuhan. Sementara aku, sebagai tititsan Lucifer, alergi sama anak Tuhan karena aku emang nggak terlalu suka ngomongin yang namanya ‘kepercayaan’.

Selain di kampus, temen-temen di luar kampusku juga bervariasi. Cewek ada, cowok ada, ambigu ada, transeksual juga ada. Tapi, tetep.. kebanyakan dari temen-temenku didominasi oleh cewek. Entah emang karena jumlah cewek udah bertambah atau ada banyak cowok yang berubah jadi cewek (transeksual).

.

Tapi lama-lama aku mikir, ada untungnya juga aku berteman dengan cewek. Kalau dulu jaman SMA dan SMP temenan sama cowok semua, sekarang aku dapet yang cewek. Somehow itu memberikanku perspektif baru. Biasanya aku memandang dari mata cowok, sekarang aku mencoba memandang dengan mata cewek. Walau kadang agak kesel juga ngadepin cewek yang ciwi (cewek banget), tapi yeah.. lama-lama aku jadi ngerti kenapa bisa ada ciwi, cewek, dan cewek tomboy.

Selain itu, aku juga jadi lebih leluasa buat minta digantiin kuliah sama Kai kalau aku sakit atau aku males. Karena Kai yang emang trauma berat sama kehadiran cowok asing, maka kehadiran temen-temen cewekku ini bisa membantuku dalam bolos kuliah (#dor). Dengan adanya mereka, Kai jadi lebih nyaman dan leluasa ke kampus buat menggantikanku kuliah. Hahaha

.

Kalau inget-inget temen cewek, aku jadi inget masa-masa sekolah. Dulu pas aku di tahun terakhir (entah SMP/SMA), aku punya guru olahraga yang agak-agak pervert. Waktu itu dia lagi nyuruh anak-anak cewek lari keliling lapangan buat pemanasan, dan dari seringai yang kulihat di mukanya, aku rada jijik karena mukanya pervert banget. Ternyata dia berseringai kayak gitu karena ngeliatin dada cewek-cewek yang baru tumbuh itu jiggle-jiggle pas lari.

Akhirnya aku dihukum (aku lupa aku dihukum karena apa). Aku disuruh ikut lari keliling-keliling lapangan sama cewek-cewek itu sebanyak sepuluh kali. Begitu aku nyamperin rombongan cewek-cewek yang lagi ‘ditelanjangi’ oleh tatapan mesum bapak-bapak paruh baya itu, aku pun berbisik ke mereka: “Tau nggak kalau dia lagi ngeliatin dada kalian jiggle-jiggle?”. Terus mereka langsung, ber-“Iiiihhh! Mesum banget, sih!” ria.

Di sini, otak isengku jadi aktif. Akhirnya aku bilang ke mereka, “Aku pingin ngerjain dia karena aku juga kesel sama dia yang tau-tau menghukumku gini”. Setelah ide itu diamini oleh para rekan cewekku, jadilah aku menampakkan sisi iblisku ke guru mesum di ujung lapangan. Aku lari-lari keliling lapangan sambil merangkul bahu cewek-cewek itu (satu lengan, dua cewek) sambil ketawa kayak raja minyak. Lalu aku ngomong ke guru mesum itu begitu rombongan kami lewat di sampingnya, “Pak, daripada ngeliatin, mending joinan sama kita” dengan seringai troll.

Akhirnya, aku dikejar-kejar guru olahraga keliling lapangan.

.

Udah deh, segitu aja..

Ciao!

ps: Udah lama nggak ngepost sesuatu tentang Kai. Mungkin nanti malam atau besok aku bakal update tentang keadaan dia. :3

2 thoughts on “Temen Cewek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s