PERHATIAN!!! Cerita ini tidak cocok dikonsumsi pembaca di bawah 18 tahun. Tapi kalau masih ingin baca ceritanya, silakan.

 

.

Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda

 .

Lesson 2: Cougar

.

.

by Kyle Nasution

Part 1

Sudah sebulan lebih Nathan mendalami pekerjaannya sebagai ‘pemuas wanita bayaran’. Dalam sebulan pertamanya, Nathan cukup laku di antara pelanggannya yang rata-rata berupa wanita paruh baya yang datang dari kalangan ekonomi menengah atas. Bahkan, ia sudah memiliki seorang pelanggan tetap yang memanggilnya setiap malam Senin dan malam Jum’at.

Namun, sudah tiga hari ini ia menganggur dan belum mendapat income. Handphone-nya sepi pengunjung; hampir tidak ada yang menghubunginya dalam tiga hari belakangan ini. Pria berusia 25 tahun ini sempat ragu reputasinya turun dalam sebulan kerja.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Teleponnya berdering ketika ia sedang tiduran memandangi langit-langit di hari yang mulai beranjak gelap. Sebuah nomor tidak terdaftar memanggilnya.

“Halo?”, Nathan mengangkat.

Di seberang telepon terdengar suara gesekan antara microphone dengan kain. Seperti telepon yang tidak sengaja terpencet. Panggilan yang tak sengaja dibuat.

“Haloooo?”, pemuda itu mengulangi.

“Ah, ya,” seseorang di seberang telepon menyahut. Seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluhan akhir. “Apa benar ini Jonathan Pratama?”

“Oh, iya benar, Tante. Ada yang bisa dibantu?”

“Jonathan Pratama yang ‘pekerja’, kan?”, tanyanya lagi dengan menekankan kata ‘pekerja’.

“Hahaha, iya betul kok, Tante.”

Wanita itu sempat terdiam sesaat. “Hari ini kamu kosong?”

Tanpa suara, Nathan melonjak kegirangan dan memimikkan ‘terima kasih, Tuhan’ sembari melirik ke atas. “Oh, kosong kok, Tante. Kosong sampai besok. Tidak ada janji sama sekali. Hehehe..”

“Oh, bagus kalau begitu. Bisa kamu temui Tante di Kemang malam ini? Untuk nama bar-nya akan tante kirim lewat SMS.”

“Tentu saja, Tante. Jam tujuh malam?”

“Iya, pukul segitu saja. Saya pakai baju warna hitam.”

Telepon ditutup dan Nathan kembali melonjak kegirangan. Tapi tidak berlangsung lama, Nathan kembali terdiam dan memandangi telepon genggamnya. Tapi, kita belum menentukan harga, batinnya.

Berusaha tidak peduli, Nathan hanya mengangkat bahu dan bergegas untuk mandi.

.

Nathan mendorong pintu dan memandangi seluruh isi bar. Matanya tidak berhenti meneliti pengunjung bar satu per satu untuk mencari siapa yang menjadi pelanggannya kali ini. Tidak terlalu sulit untuk menemukan seorang wanita paruh baya berbaju hitam. Hanya ada satu wanita paruh baya di bar tersebut. Selebihnya merupakan wanita-wanita karier berusia dua puluhan akhir.

Pemuda berkemeja biru santai itu bergegas menghampiri pelanggannya. Tidak sampai dua langkah, Nathan terhenti dan memandangi calon pelanggannya yang mampu menarik hatinya. Wanita itu berambut hitam legam, tersisir rapi ke belakang. Rambut yang indah dan begitu mengembang, nyaris tak terlihat seperti diberi hair spray. Alisnya tipis dan tegas, alis asli dan bukan hasil goresan pensil. Matanya tergores eyeliner dan eyeshadow hitam dengan rapi. Pipinya tampak putih dan mulus, seperti hasil polesan bedak. Bibirnya tergores lipstik merah merona, tampak penuh, namun begitu cocok dengan ukuran wajahnya yang menampakkan tulang pipi yang jelas. Tubuhnya yang langsing terbalut blazer terusan se-lutut yang terbuat dari wool kelas atas. Kakinya mulus tanpa adanya varises, berhiaskan stiletto berwarna hitam senada dengan blazernya. Tubuhnya tegap dan terlihat sangat anggun. Di tangan kirinya terdapat sebuah majalah dan di tangan kanannya terdapat sebatang rokok yang sedang mengebul.

Untuk sesaat, jantung Nathan berdegup begitu kencang. Pemuda itu gugup, seolah merasa terintimidasi dengan penampilan calon pelanggannya yang begitu anggun. Ia memperkirakan wanita itu baru berusia 35 hingga 37 tahun.

Seolah sadar telah diperhatikan begitu lama, wanita anggun itu menoleh ke arah Nathan dan tersenyum lembut. Tatapan matanya begitu teduh, membuat jantung Nathan berdegup semakin kencang.

Untuk menutupi groginya, bibir Nathanpun menyunggingkan seringai lebar yang dianggapnya sebagai seringai yang cukup mengerikan. Kakinya berjalan maju dengan langkah yang terpatah-patah. Tangannya meremas-remas lengan jaketnya tanpa sadar.

“A-ah, halo.. Tante sudah lama ada di sini?”

“Tentu saja. Sejak saya meneleponmu tadi.” Sahutnya dengan nada lembut. “Silakan duduk.”

Tanpa sadar, Nathan membanting tubuhnya ke atas sofa yang sudah disediakan. Jangan gugup, bodoh! Ia membatin.

Wanita itu tertawa sembari menutupi mulutnya. “Tidak usah grogi. Saya tidak akan menggigitmu, kok.”

Pemuda yang merasa jantungnya telah melompat itu tak mampu membalas ucapan calon pelanggannya kecuali dengan senyuman penuh malu. Wajahnya tertunduk dalam, berpura-pura membenarkan jaket yang ia letakkan di atas pahanya.

“Perkenalkan, nama saya Mariana.” Ucapnya sambil menjulurkan tangannya yang lentik dan mulus, nyaris tanpa tonjolan urat seperti pelanggan-pelanggan Nathan yang lain.

Nathan menyambut jabatan tangan Mariana dengan senyuman yang ia buat senormal mungkin. “Anu, sebelumnya, soal harga—”

Belum sempat pemuda itu menyelesaikan ucapannya, Mariana sudah menjulurkan tangannya, aba-aba agar Nathan menyimpan ucapannya yang dianggapnya tidak perlu. “Berapapun harga yang kamu tawarkan, akan saya bayar. Asal kamu mau dipanggil setiap saat.”

“Eh? Tapi Tante belum melihat servis saya. Masa.. masa mau langsung menjadi pelanggan tetap?”

Wanita itu tertawa pelan sembari mematikan rokoknya. “Saya sudah mendengar banyak cerita tentangmu. Wajahmu tampan, kamu tidak merokok, tinggimu semampai, tubuhmu bugar. Saya yakin performamu bagus dan benihmu berkualitas.” Jelas Mariana dengan wajah menggoda.

Untuk pertama kalinya, Nathan mampu dibuat tersipu oleh pujian pelanggannya. “Tante bisa saja.”

“Jadi? Bisa kita langsung ke tempat saya?”

“Boleh. Tante bawa mobil? Mau kita iring-iringan saja? Karena saya bawa motor.”

“Tidak perlu. Saya ke sini naik taksi, kok. Saya naik motormu saja.”

Nathan membatu. “Ta-tapi, motor saya motor butut.”

“Lalu, kenapa?”

“Bu-bukan kenapa-napa. Hanya saja.. rasanya Tante tidak cocok naik motor butut saya. Nanti citra Tante jadi jelek.”

“Ahaha, Nathan. Kamu anak yang baik. Tapi, untuk wanita yang usianya hampir berkepala lima, citra sudah tidak diperlukan lagi.”

Mata pemuda itu terbelalak. “Kepala lima?! Tante umurnya berapa, memang?” Tanya Nathan spontan.

“Tahun depan saya menginjak lima puluh.” Jawab Mariana dengan senyuman lembutnya. “Memang, kamu kira umur saya berapa?”

Nathan terkekeh bodoh. “Ti-tiga puluhan.”

Mariana tersipu. Wajah yang tadinya seputih bedak kini merona merah. Membuat jantung Nathan berhenti satu detakan.

“Habis, Tante cantik sekali. Begitu anggun dan berkelas. Saya sempat merasa minder karena Tante adalah pelanggan pertama saya yang memiliki kecantikan sedahsyat ini.” Merasa mampu menguasai percakapan, Nathan menunjukkan rasa percaya dirinya dengan memuji pelanggannya.

Wanita cantik itu tertunduk malu. “Bagaimana kalau kita langsung ke rumah saya saja? Saya bareng kamu saja.”

Nathan tersentak kaget. Bukan hanya karena terlalu cepatnya wanita itu mengajak pergi, tetapi juga karena ia harus memboncengi seorang wanita cantik dengan motor bebek bututnya. “Tapi Tante, saya cuma pakai motor butut.”

“Lalu?”

“Y, yaa, masa wanita secantik Tante naik motor butut?”

“Tidak masalah, kan? Lagipula saya sudah lama tidak naik motor. Terakhir kali saat saya SMA, dengan pacar saya waktu itu.” Ucapnya sembari menerawang ke arah Nathan. “Aha, masa-masa itu..”

 

 

TO BE CONTINUE

6 thoughts on “Jonathan: Kisah Seorang Gigolo Muda (Lesson 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s