Saya dengan bangga mendeclare kalau SAYA BERHASIL NGGAMBAR REALISTIC (…sort of). Hal ini dibuktikan dari gambarku yang pertama. Yang merupakan gambar realistik grayscale dan diambil dari cetakan foto saya.

Ava

Well, gambarnya berhasil keliatan bagus sebenernya karena filter Instagram. Tapi ya udah lah ya. Close Enough.

Gambar ini dibikin bermula dari foto saya di photoshop. Habis itu add new filter, terus ditelusuri bentuk wajah dulu dan diwarnain dengan warna dasar. Setelah diwarnain dengan warna dasar, masih dalam ‘kandang’ Lasso, kita pasang shading-shading yang dibutuhkan. Mulai dari hidung (karena buat saya, hidung itu patokan porsi muka), dan dimulai dari warna yang sedikit lebih gelap dari warna dasar. Setelah jadi shading hidung, barulah dibikin shading rongga mata, pelipis, pipi, jaw-line, dan sebagainya. Shadingnya dimulai dari yang paling muda sampai ke yang paling gelap. Semua dibikin dengan opacity sekitar 11-13% (supaya gampang dipaduin). Setelah shading jadi, baru add detail.

Note: Buat saya, selain shading hidung, bentuk alis juga perlu. Tapi alis itu dibentuk pake lasso juga. Jadi usahain sebelum gambar bentuk muka, gambar alisnya dulu.

Setelah selesai shading muka sampai ke detailnya; kayak mata, lubang hidung, bentuk bibir, gigi, dll, barulah kita telusuri leher dan dilengkapi sama detail. Setelah leher, baru add yang lain. Kayak baju, kalung, dan sebagainya. Hingga yang paling terakhir adalah background.

.

Setelah berhasil nggambar ini, dan makin kelihatan realistis, barulah aku beralih ke gambarnya Kai. Tapi, karena Kai nggak ada fotonya, jadi saya pake foto saya.

Kai NasutionGambar ini kurang lebih pakai teknik yang sama. Tapi di sini saya agak bereksperimen. Eksperimennya terletak di shading jawline. Kalau yang sebelumnya saya shading masih di dalam ‘kandang’ Lasso, sekarang Lasso-nya saya matiin habis ngasih warna dasar. Add detail-nya juga sama. Dimulai dari hidung, lalu rongga mata, dst. Leher dan bajunya pun dengan eksperimen yang kurang lebih sama. Makanya di sini bentuk lehernya lebih halus dan nggak sekaku gambar yang sebelumnya.

.

Buat rambut, aku pakai Lasso juga. Tapi dengan imajinasi karena ngikutin line rambut yang plek banget itu biasa dipake di Vector Art. Model rambutnya Kai ini juga imajinasi dengan model rambut yang kuimajinasiin juga. Rambut aslinya Kai itu jatoh dan berponi. Ini kugambar efek kemarin aku nyuruh dia sibakin poni-nya ke belakang biar mukanya lebih cerah. Tapi nyatanya malah lebih seksi.

Awalnya aku depresi karena shading hidungnya Kai awalnya gagal karena terlalu ngeblur. Setelah kuperhatiin dengan mengubah posisi melihat layar, saya jadi tau salahnya dimana. Mungkin ini juga bisa dijadiin tips buat yang lagi nyoba nggambar realistik di media digital.

Karena dua gambar ini udah kubikin, maka kueditlah gambarnya.

Perbandingan

Ternyata gambarku lebih bagus kalo dikasih filter sebagai sentuhan akhir. Kenapa? Biar shadingnya lebih kelihatan dibandingkan tanpa filter. Curang? Nggak juga. Itu kan bagian dari trik. Hahaha..

Katanya Sherly sih, tatapan kami mirip. Yaah, maklum.. saya kembar dizigotik. Jadi nggak mirip-mirip amat. Jadi Kembaran Close Enough, jatohnya. *sedih*

.

Kai, aku bersyukur kamu gay. Jadi cewek-cewek yang kutaksir nggak diembat kamu. Walau kamu juga nggak niat ngembat.

Ciao!

Ps: Saya suka sama bibirnya Kai di gambar ini. Pertama kalinya saya berhasil nggambar bibir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s