Udah lama aku mau membahas soal pemerkosaan di blogku. Tapi rasanya, aku masih belum dapat cukup banyak referensi. Blog ini nggak akan dimulai dari apa itu arti ‘rape’. Semua orang udah tau lah, ‘rape’ itu secara kamus bahasa inggris, kalau dibahasaIndonesia-in, artinya pemerkosaan. Tapi kemarin aku baru menemukan arti lain dari ‘rape’. Rape adalah kata kerja untuk pendominasian, menjatuhkan harga diri, mempermalukan, dll.

Kalau kata expert, pemerkosaan itu ada banyak jenisnya. Aku juga nggak terlalu ngerti, oleh karena itu, aku akan membahasnya secara bahasa orang awam. Pemerkosaan bisa dilakukan siapa aja, nggak peduli gender, nggak peduli umur. Dan pemerkosaan bisa terjadi pada siapa saja, nggak peduli gender dan umur juga. Makanya, karena pemerkosaan bisa terjadi pada siapa aja, jenisnya jadi banyak (dan aku nggak ingat nama kerennya).

Pemerkosaan bukan hanya terjadi ketika korban mengatakan ‘tidak’ yang ditangkap sebagai ‘iya’ oleh pelakunya. Tapi juga ketika korban mengatakan ‘iya’ di bawah tekanan pelaku, ketika pelaku merasa sudah menjadi pasutri (pasangan suami istri) sehingga merasa hubungan sex mereka akan sah-sah saja meskipun salah satu dari mereka sudah mengatakan ‘tidak’, ketika korban tak sadarkan diri dan nggak bisa mengatakan ‘tidak’. Sex yang sah adalah ketika keduanya mengatakan ‘iya’ dan bukan di bawah ancaman, tekanan, keterpaksaan, atau apalah.

Sayangnya, kebanyakan pelaku pemerkosaan akan mengatakan kalau hubungan sex mereka didasari suka-sama-suka dan publik terlalu bodoh untuk mendengar kronologis dari perspektif korban. Penanganan kasus pemerkosaan disamakan dengan kasus kejahatan lain, kayak mencuri. Memang, di dalam kasus ini ada pencurian.. pencurian harga diri. Tapi bukan berarti penanganannya sama. Ketika pelaku mencuri harga diri si korban, korban ada di sana dan dia menjadi saksi mata. Kita perlu mendengarkan kesaksian korban dan sejujurnya, lebih bagus jika kita sedikit lebih percaya pada kesaksian korban. Toh, kalau memang ada keganjalan (misalnya korban ingin menjebak Si Tersangka), itu bisa ditindak lanjuti dengan apalah yang biasa dilakukan polisi.

Ada beberapa kali aku mendengar kesaksian (bukan cuma di Indonesia) yang mengatakan, “tapi dia mendesah, berarti dia suka kan?“, “tapi dia ereksi, berarti dia pingin kan?“, dll. Dan, entah benar atau nggak, banyak orang yang jadi berpihak pada pelaku karena alasan-alasan ini. Newsflash: Ereksi dan mendesah bukan berarti korban menginginkan adanya hubungan sex.

.

Oke, kalau kronologis kejadian, alasan, blablabla udah sering dibahas di manapun. Sekarang, mari kita bahas soal efek pemerkosaan terhadap psikologis korban. Beberapa hari yang lalu, aku mencari-cari tentang efek psikologis korban pemerkosaan karena korban pemerkosaan pasti akan mengalami guncangan psikologis yang hebat, apalagi kalau pelakunya sangat dekat dengan korban. Sekarang aku mau mengajak kalian memasuki isi pikiran korban pemerkosaan supaya kalian lebih mengerti gimana perasaan mereka.

Korban pemerkosaan adalah korban yang paling harus diperhatikan kondisi psikologisnya. Mereka melakukan hal-hal gila bukan karena ingin diperhatikan, tapi karena memang butuh diperhatikan. Dan dari pengalaman pribadi, memberi ceramah soal ‘bagaimana indahnya hidup’ bukanlah tindakan yang tepat. Korban pemerkosaan nggak butuh mendengar ceramah agama, ceramah tentang hidup, ceramah tentang dosa, dsb. Korban pemerkosaan butuh didengar, dipeluk, dan harus ditangani dengan kesabaran ekstra.

Efek psikologis korban pemerkosaan terlalu kompleks sampai-sampai aku nggak tau mau mulai darimana. Tapi, mari kita mulai dari kejadian pemerkosaan itu sendiri. Mereka ditelanjangi, tubuh mereka disentuh tanpa izin, bagian pribadi mereka ditonton, lalu dilakukan penetrasi. Rasa sakit yang mereka alami menjadi berlipat ganda. Sakit fisik, sakit mental, dan sakit batin. Itu kalau pelakunya satu orang. Gimana kalau ramai-ramai? You know the rest.

Setelah kejadian itu, korban akan merasa sangat sangat sangat sangat tidak berarti. Mereka akan benar-benar merasa terpuruk, sedih, marah, sakit, semua jadi satu. Mereka merasa harga diri mereka sudah dirampas dan dibuang begitu saja. Mereka merasa nggak berharga lagi dan nggak ada artinya di dunia ini. Dan ujung-ujungnya, mereka merasa tubuh mereka bukanlah milik mereka lagi.

Hasil dari perasaan-perasaan yang bercampur aduk itu adalah depressi. Kalau yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka bahkan nggak punya semangat untuk hidup, menarik diri dari sosial, merasa dirinya nggak pantas untuk bersanding dengan siapapun, merasa seperti sampah, merasa kotor, dll. Ujung-ujungnya, mereka meninggal. Ada yang meninggal perlahan karena depressi, ada yang meninggal cepat karena bunuh diri. Tapi, ada juga yang bertahan hidup. Ada yang bertahan hidup dan move on, ada juga yang bertahan hidup tapi jadi gila.. i mean, literally gila, kehilangan akal sehat, dll.

Mungkin, setiap malam mereka menangis penuh penyesalan, amarah, kesedihan, dan frustasi. Mendekam di dalam sebuah kamar, menyendiri, menenggelamkan diri ke dalam perasaannya, lalu bertindak gegabah. Mungkin, setiap malam mereka merasa betapa nggak berharganya mereka, nggak berartinya tubuh mereka, dan nggak ada gunanya hidup mereka. Mungkin, setiap malam mereka merasakan sakit yang teramat sangat sehingga salah satu cara untuk meredamnya adalah dengan membuat luka baru di tubuh mereka. Mungkin, setiap malam mereka merasa sangat tertekan dan nggak memiliki jalan keluar lain selain mati.

Mereka merasa diintimidasi, disakiti, didominasi, dan dipermalukan. Karena hal-hal ini, banyak korban pemerkosaan yang lebih baik menutup mulut daripada mengatakannya dan membangkitkan flashback mengerikan mereka. Sehingga, mereka yang menutup kasus ini justru bermasalah dengan diri mereka sendiri, menjadi depressi, frustasi, lalu bunuh diri.

Itu yang mereka rasakan.. itu yang mereka pikirkan.. itu yang kusaksikan.

.

Tapi, efek yang mereka dapat bukan hanya itu. Mereka juga mendapat efek terhadap seksualitas mereka. Ada yang tau-tau berubah orientasi seksualnya, ada pula yang menjadi parno terhadap seks, ada juga yang menjadi hiperseks.

Pemerkosaan itu bisa dibagi menjadi dua: pemerkosaan yang ‘nggak enak’, dan pemerkosaan yang ‘enak’. Pemerkosaan yang ‘nggak enak’ maksudnya adalah pure kekerasan, pemaksaan, dan segala yang buruk-buruk. Si pelaku benar-benar mengintimidasi korban, menyakiti korban, dan pure melakukannya demi kepuasan pribadi.

Sedangkan pemerkosaan yang ‘enak’ adalah ketika pelaku membuat korban merasa nyaman dengan tindakan si pelaku. Kalau yang umum kulihat, pelaku mengatakan hal-hal seperti “ayolah, kamu suka ini“, “enak kan?“, dll. Selain itu, pelaku bukan hanya melakukannya untuk kepuasan pribadi (orgasme sendiri), tapi juga korbannya dibikin orgasme. Sehingga rasa sakit dan enak itu bersatu, membuat rasa candu. Ini yang bahaya.

Di kemudian hari, korban dengan pemerkosaan yang ‘enak’ akan merasakan ‘rindu’ pada seks yang seperti itu. Tapi, bukan cuma itu alasan mereka menjadi hiperseks. Ada beberapa yang mencoba menghapus ingatan buruk mereka dengan mengajak pasangan seks mereka untuk mengulang kejadian pemerkosaan itu, dengan harapan wajah pelaku berubah menjadi wajah pasangan yang mereka kehendaki sehingga mereka merasa lebih baik. Ada pula yang ingin membuktikan dirinya kalau dia bisa mendominasi orang lain.

Nggak jarang dari mereka yang ‘hancur’ menangis ketika berhubungan seks, meskipun itu adalah seks yang mereka kehendaki. Semua terjadi karena flashback.. which is efek dari pemerkosaan.

Ada lagi efek yang diterima korban ketika mereka dipaksa menikah dengan pemerkosanya. Bayangkan saja, korban sudah membenci pelaku atas apa yang telah ia lakukan. Sekarang, mereka dinikahkan, which is korbannya harus melihat wajah pelakunya setiap hari. Apa kalian pikir bayangan buruk itu bisa pergi dengan cara seperti ini? Kubilang, kalau ada orang yang menikahkan korban dengan pelakunya, mereka adalah orang yang paling jahat di seluruh dunia.. apapun alasan mereka.

.

Hal yang kuceritain di atas mungkin bisa terjadi pada korban pemerkosaan sekali dengan pelaku satu orang. Bagaimana dengan yang berkali-kali atau beramai-ramai? Atau mungkin keduanya dalam waktu yang sama (berkali-kali dan beramai-ramai)? Silakan kalian gandakan penderitaan yang udah kuceritakan di atas.

Hal ini terjadi pada orang terdekatku. Dan aku melihat efek ini secara langsung. Jadi, aku yakin ketika menulis efek-efeknya.

Ketika kalian memutuskan untuk memperkosa seseorang, artinya kalian berurusan dengan seluruh hidup korban kalian. Dan kalian pikir, masalah akan selesai ketika korban meninggal? Kalian salah besar. Masalah ini akan terus menghantui kalian, keluarga kalian, hingga lingkungan sosial kalian. Dan kalian tau? Nggak ada orang yang mau bersimpatik pada pemerkosa. Lebih baik orang bersimpatik pada seorang pembunuh dibanding pemerkosa.

Pemerkosa adalah pembohong, pencuri, dan pembunuh ulung. Hanya dengan satu tindakan, kalian bisa melakukan segala kejahatan.

.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s