Pengalaman tinggal di Indonesia benar-benar mengasah kemampuan saya sebagai orang licik. Di manapun aku berada, orang licik tetap ada dan akan terus bertambah. Mulai dari yang kelas teri sampai yang kelas kakap. Mulai dari yang berkaos sampai yang berdasi. Orang licik ada di mana-mana. Dan ini artinya aku harus terus mengasah kemampuan licik supaya nggak tepar berhadapan sama orang licik.

Unfortunately, akan selalu ada orang-orang naive yang membenci orang-orang seperti saya. So far, ada dua yang kuketahui membenci sifat licik dan brengsek ini. Salah satunya rela-rela aja berteman dekat denganku. Ada aja yang bilang kesel karena saya brengsek, pinter ngeles, dsb dst dll. But wait, sebenernya, siapa yang situ benci?

(ngamuk alert)

Kalau jawabanku, mereka yang berhasil kulicikin sebenarnya marah sama dirinya sendiri tanpa mereka sadari. Kenapa? Well, menjadi licik itu harus memiliki kemampuan yang tinggi dan kepintaran di atas rata-rata. Harus pinter cari alesan dan sebagainya. Tapi, alasan yang dipakai juga bukan sembarang alasan. Harus alasan yang logis biar menang terus. *brengsek*

Pembelaanku terhadap kebencian mereka adalah: siapa suruh bisa dibohongin/dilicikin/dll?

Iya, kan? Kalau kalian pinter dan licik, pasti nggak akan kemakan sama kelicikan orang lain. Kalian marah karena kalian (antara) membiarkan diri kalian dilicikin atau memang kurang pintar mengatasi kelicikan. Yang kalian benci itu adalah diri kalian sendiri. Tapi karena kalian terlalu pengecut mengakui kebodohan, makanya nyalahin orang lain. Orang licik sebenarnya hanya mencari celah untuk menguntungkan dirinya sendiri. Tapi kadang, memang ada hasil perbuatannya yang merugikan orang. Sayangnya, saya (semoga) nggak pernah merugikan orang lain. Jadi bagi saya, kebencian kalian hanyalah tindakan pengecut.

Salah satu orang ini membenci sifat saya yang kayak gini. Ngomel-ngomel dan bersumpah supaya nggak brengsek kayak saya. Yaah, semoga nggak menjilat ludah sendiri, ya. Dan ada satu masukan buat situ: Dibanding marah, mending situ belajar lebih banyak biar nggak dilicikin, karena orang licik ada di mana-mana. Untung aja situ ketemu orang liciknya kayak saya. Kalau saya haus harta, situ udah miskin dari dulu.

.

Dulu juga aku sering marah karena selalu berhasil dibohongin. Tapi lama-lama sadar juga kalau yang kumarahi itu sebenarnya adalah diri sendiri. Mau-maunya saya dilicikin atau membiarkan diri saya dilicikin. Dan belajar dari pengalaman, saya mempelajari teknik biar jadi licik supaya di masa mendatang saya nggak dilicikin lagi. Dibanding marah-marah, belajar dari kesalahan lebih menguntungkan.

.

Sorry kalau blog ini kedengerannya kayak ngeflame dan nyombong. Kata-kata di atas memang didasari oleh emosi karena merasa ada beberapa orang yang berpikir kalau dirinya sangat suci kayak saint. Hal di atas juga sebagai pembelaan diri karena nggak terima dicaci-maki karena kesalahan si pencaci-maki. Dia yang salah, kok nyalahinnya saya. Dasar orang aneh. – -“

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s