Masih inget Olga? Cewek yang kubilang udah kayak versi cewekku? Well, kemarin akhirnya kami dapat kesempatan untuk bertemu. Aku pergi ke kampusnya karena ada acara, dan kebetulan dia ada rapat jam 2 siang. Akhirnya, jadilah kami janjian dan ketemuan di CT fakultasnya dia.

Di saat mau ketemuan sama Olga, aku berada di dalam CT sambil ngobrol sama Sherly. Setelah itu, aku melihat ada cewek berbaju hijau belang putih di depan pintu sambil melirik-lirik ke dalam. Aku memang nggak kenal mukanya (karena Olga waktu itu pakai ava dan display picture foto dia pas masih SMA), tapi aku dapet feeling kalau itu Olga. Isi Whatsapp yang dia kirim ke aku juga membenarkan feelingku saat itu. Akhirnya, kami keluar dan menyapanya.

Kami duduk bertiga mengelilingi meja. Aku berhadap-hadapan sama Olga, Sherly berhadapan sama tembok CT. Pertama cuma salam, kenal-kenalan, terus diem dokem nggak tau mau ngomongin apa. Biasanya orang-orang pada nanyain aku, sekarang, nggak ada. Kenapa? Karena Olga kurang lebih mirip denganku. Which is, sukanya ditanyain juga, bukan nanya. Tapi, karena di sini kasusnya aku yang pingin ketemu dia dan kenalan, jadilah aku yang nanya-nanya.

Pertanyaan yang ada di otakku nggak lebih dari pertanyaan privasi. Tapi, karena dia bilang nggak apa-apa, akhirnya kulontarkan juga pertanyaan-pertanyaan itu. Mulai dari orang tuanya, keluarganya, sampai masa lalunya. Untungnya dia selow bae ditanyain hal-hal begini. Jadi aku nggak perlu merasa ‘kepo maksimal’ sama dia.

Selama di CT, obrolan kami keputus-putus. Canggung, lihat-lihatan, rokok terselip di antara dua jari, asap mengebul di udara. Awkward silence. Beberapa kali aku ngeliatin Olga, dia nanya ke aku dengan galaknya, “Ape lu?“. Dan di saat itu juga aku mikir, “Oooh, gini ya rasanya ngobrol denganku? Ya ya ya“.

Akhirnya, Olga nanya udah pada makan apa belum, dan akhirnya kami pindah ke kantin yang nggak jauh dari CT. Kami duduk, makan, lalu.. barulah obrolan yang intens dimulai. Mulai ngobrolin soal agama, soal negara, dan lain sebagainya. Obrolan rutin antara aku dan Sherly. Dan ini berlangsung cukup lama, menurutku.

.

Olga secara fisik mukanya manis, cantik, agak-agak chinese juga. Rambutnya panjang, badannya langsing. Kalau sikapnya cukup unyu. Kemaren malah jadi gemes sama dia gara-gara meluk-meluk lenganku dan terkesan manja-manjaan denganku. *berasa punya adek perempuan* *bejek Olga*

Setelah ketemuan begini, aku semakin yakin kalau Olga adalah versi cewekku. Kami sama-sama Agnostic dan bisex. Sama-sama punya background sebagai produk broken home dan sama-sama selow dalam membahasnya. Sama-sama narsis, sama-sama galak juga kalo tau-tau diliatin sama orang, dan sama-sama punya saudara yang gay (…maksa). Kami berdua juga sama-sama punya banyak teman di luar area kampus dan agak-agak nggak suka obrolan virtual kayak chat (lebih suka ngobrol langsung). Dan yang terakhir, dia sering berkumpul di antara cowok, sedangkan aku di antara cewek.. sama-sama dikelilingi lawan jenis.

Terlalu mirip.. terlalu mirip..

.

Oke, cuma segitu aja yang bisa kutulis. Tadinya mau nulis panjang lebar, tapi di tengah jalan konsentrasinya buyar. Jadi blognya berantakan gini. -_-“

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s