Akhir-akhir ini aku lagi sensian dengan kata-kata ‘anak kecil’. Entah itu orang bilang aku kayak anak kecil, entah itu ada orang lain yang bersikap layaknya anak kecil, atau ada anak kecil yang sok-sok dewasa. Pokoknya, kemarin ini aku benar-benar nggak bisa berhadapan dengan sesuatu yang berunsur anak kecil. Which is egois, naif, cengeng, dll.

(ngamuk alert)

Dimulai dari minggu kemarin dimana aku merasa emosiku meledak-ledak. Ada perasaan nggak ingin mengalah, ingin kemauanku dipenuhi detik itu juga, dan perasaan uring-uringan karena nggak ngerti aku kenapa. Udah berkali-kali marahin diri sendiri kalau itu anak kecil banget, tapi tetep aja nggak bisa dibendung. Ngeliat hal nggak memuaskan dikit, marah, ngambek, atau apalah. Itu malu-maluin banget. Hahaha..

Lalu, ketika fase ini mereda sedikit. Hanya mereda, bukan menghilang. Aku masih begitu, tapi nggak lagi menyangkut keinginan atau kemauan. Sekarang, menyangkut orang lain. Kali ini, aku ‘anak kecil teriak anak kecil’. Ada orang bersikap kayak anak kecil dikit, langsung dikomentarin dengan sinis dan kubetein. Padahal sendirinya juga lagi kayak anak kecil. Malu-maluin banget..

.

Jadi, di fase ini, aku menyadari teman-teman lamaku banyak yang mengelu-elukan idealismenya. Pemikiran mereka naif, menurutku. Dan ini bukan kusadari saat ini aja. Tapi udah dari dulu. Cuma sekarang aja aku baru berani mengomentari karena udah menyadari apa yang kupandang salah.

Awalnya kupikir, aku doang yang berpikir begitu. Rupanya, ada temanku yang bisa mengubah perasaanku menjadi sepotong kalimat: That’s how the world works. Iya, begitulah dunia. Kalian mau menjerit sampai ke langit, memaki-maki, dan mengelu-elukan ketidaksetujuan kalian, dunia akan tetap begini. Kalau kalian nggak mau melihat dunia yang seperti ini, jangan menjerit-jerit, jangan memaki-maki, jangan mengemukakan omong kosong. Lebih baik kalian diam, lalu ubah dunia ini sesuai kemauan kalian. Kalau kalian nggak bisa, then shut the damn up. Berisik.

Dibanding terlihat seperti orang benar, kalian lebih terlihat seperti anak kecil yang terlalu dimanja. Berisik, nggak tau apa-apa, dan tukang ngeluh. Kalian ingin diperlakukan seperti orang dewasa, tapi sikap kalian nggak menunjukkan kedewasaan. Kalau kalian ingin diperlakukan seperti orang dewasa, bersikaplah kayak orang dewasa: duduk dan perhatikan. Kalau kalian begini terus, kalian nggak akan berkembang. Dan jujur, diajarkan oleh dunia itu lebih pahit dibanding diajarkan sama orang yang lebih berpengalaman.

Kalau kemarin, aku mendiamkan kalian karena kalian masih terlalu kecil untuk mengerti. Tapi sekarang, sudah saatnya kalian jadi dewasa. Perluas wawasan biar ngerti kenapa aku ngomong gini. Jangan terlena di comfort-zone kalian, di dunia anak-anak dimana kalian pikir semuanya akan baik-baik saja meski kalian nggak melakukan apa-apa. Dunia akan terus berputar dan akan semakin kejam. Kalau saat ini kalian bisa berpikir ‘dunia tidak adil’, bayangkan tahun depan, tahun berikutnya, dan tahun berikutnya lagi. Nggak akan ada orang yang mau memberi simpati pada kalian.

Nggak ada yang gratis di dunia ini. Gratis bukan cuma dalam artian uang, tapi juga usaha dan sebagainya. Kalian memang tau soal ini. Tapi, apa kalian mengerti? Tau dan mengerti adalah dua hal yang berbeda.

.

Selain masalah ini, aku juga baru membaca blog punya temanku yang kurasa agak kekanak-kanakan juga. Mungkin dia udah pulih dari dilemma-nya, mungkin juga belum. Oleh karena itu, aku mau menyelipkan sebuah komentar di sini. Semoga kau nggak tersinggung. Aku cuma mau mengemukakan pendapatku aja.

Kalau aku baca blogmu, kurasa kau belum begitu mengerti apa yang dimaksud dewasa dan anak kecil. Menjadi dewasa bukan berarti menjadi kuat dan baik. Baik itu relatif. Ketika kau melakukan sesuatu kepada dua orang, belum tentu keduanya memiliki pendapat ‘kau adalah orang yang baik’. Baik menurutmu belum berarti baik menurut mereka.

Menjadi dewasa berarti mengetahui apa yang kau inginkan dan apa yang kau butuhkan. Menjadi dewasa berarti bisa menentukan mana yang salah dan mana yang benar, terlepas dari pendapat orang lain. Menjadi dewasa bukan berarti kau menekan ego-egomu secara berlebihan. Justru dengan menjadi dewasa, kau harus tau ego apa yang harusnya kau keluarkan di saat-saat tertentu dengan takaran yang cukup.

Menjadi dewasa, kau berhak marah, kau berhak sedih, kau berhak tertawa, dan kau berhak mengeluarkan emosi-emosimu yang lain. Apa yang nggak boleh adalah terlalu mengedepankan emosi tanpa alasan yang jelas dan tentunya sampai merugikan orang lain.

.

Dunia itu nggak seindah dunia dongeng. Kau berbuat baik sama orang lain, belum tentu mereka akan membalasnya. Nggak usah sedih kalau kalian dimaanfaatkan oleh orang lain, balas aja dengan memanfaatkan dia balik. Nggak usah kesel dibackstab sama teman sendiri, cari cara biar dia kapok.

Hidup di dunia udah susah. Jangan ditambah susah dengan menempatkan diri sebagai korban dari kejahatan-kejahatan rekan yang sebenarnya nggak segitu jahatnya. Tinggal bales, apa susahnya. Kalau nggak tau caranya, ya belajar. Kalau nggak mau belajar karena situ ngerasa suci, ya udah, mati aja. Selesai perkara.

Orang mah kesel kalau ditindas, ini malah seneng ditindas. Dasar cengeng. -_-“

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s