Halo~ Udah lama nggak nulis blog serius. Hahaha..

Kali ini aku mau ngebahas soal istilah ‘banyak jalan menuju Roma’. Istilah yang udah nggak asing untuk didengar. Aku jadi pingin nulis tentang ini karena mengingat aku pernah punya konflik dengan seseorang yang (menurut saya) punya pandangan yang kontras. Tulisan ini juga nggak bisa dilihat sebagai tulisan netral karena pasti akan berisi pembelaan terhadap diri saya.. tentang kenapa saya berpikir demikian, tentang saya yang bersikap demikian.. sikap-sikap yang dipandang (mungkin) annoying untuk orang itu.

Enjoy my objective view~

.

Jadi, kalau yang aku dengar dari orang itu, saya terkesan gegabah karena asal mengambil langkah dan dianggap terlalu bermimpi. Well, memang saya akui, saya memang pemimpi.. tapi saya nggak gegabah dalam mengambil langkah. Perbedaan di antara kami hanya satu: dia pesimis dan aku optimis. Walau kepribadian kami mirip, kami jelas punya pandangan berbeda dalam hidup. Dan karena ini, kami sering berantem. Walau berantemnya cuma via chat yang sering terjadi salah paham.

Waktu itu kudengar dari Kai kalau aku dibilang terlalu berpikir aku adalah ‘siapa-siapa’, pada nyatanya, saya ‘bukan siapa-siapa’. Dan jujur, saya nggak bisa menerima komentar itu dari orang seperti dia. In my defence, pandangan hidup kami beda, saya punya hak untuk menentukan siapa diri saya, dan terlebih (pandangan objektif saya), saya memang nggak suka dia dari dulu karena suatu hal. Jadi, semua komentar dia terdengar invalid di telinga saya.

Kata dia, saya memaksakan kehendak saya ketika berdebat. Well, in MY defence, itulah cara berdebat. Pandangan saya sudah saya anggap benar dan tugas saya adalah menyampaikan pendapat saya untuk diperdebatkan dengan tujuan UNTUK DITERIMA. Jadi, tugas lawan debat saya adalah mematahkan pendapat saya supaya pendapat dia yang diterima. Begitupun tugas saya sebagai lawan debatnya.. mematahkan pendapatnya supaya pendapat saya diterima. Tapi, mungkin cara saya dianggap terlalu ekstrim olehnya sehingga saya dipandang nggak menghargai pendapatnya.

.

Oke, mari membicarakan kenapa saya memilih ‘banyak jalan menuju Roma’ sebagai judul.

Seperti yang udah saya bilang, saya orangnya optimis. Dan keoptimisan saya di dalam mengambil keputusan dianggap gegabah oleh orang itu. Sebenarnya, bukannya saya nggak memikirkan resiko.. saya sudah memikirkan resiko setiap pilihan matang-matang. Tapi, memang saya memikirkan resiko dalam waktu yang sangat singkat, sehingga kelihatan nggak berpikir.

Tapi, setiap pilihan memang ada resiko. Jadi untuk saya, memikirkan resiko mana yang paling kecil sebelum melangkah itu buang-buang waktu. Semakin banyak keuntungan yang saya dapat, semakin besar juga resiko yang akan saya hadapi. Mencari resiko yang paling kecil untuk melangkah sama saja saya mengurangi keuntungan yang saya dapat. Kalau menurut saya, memilih dengan langkah begitu akan membuat saya rugi besar. Langkah yang saya buat tidak begitu berarti dan saya masih harus berhadapan dengan resiko.

Nah, kalau orang bilang, banyak jalan menuju Roma karena Roma letaknya ada di tengah-tengah, sehingga dapat diakses dari negara manapun. Sama seperti tujuan saya. Tujuan berada di tengah-tengah dan ada banyak jalan untuk mencapainya.. dengan resiko yang berbeda-beda, jangka waktu yang berbeda-beda, dan keuntungan yang berbeda-beda pula. Buat saya, memikirkan jalan mana yang harus saya tempuh untuk menuju Roma nggak perlu memakan waktu lama. Saya hanya perlu melihat apa yang akan saya dapatkan dan resiko bisa saya atasi selama perjalanan. Singkat, padat, dan pasti.

.

Sebenarnya, menghindari resiko untuk mencapai sebuah tujuan tertentu adalah tindakan pengecut. Menghadapi resiko juga sebenarnya bisa melatih pribadi kita dalam berpikir sistematis dalam menghadapi masalah, melatih kita untuk rentan terhadap stress, dan terlebih, bisa memperkaya pengalaman kita. Kemampuan-kemampuan di atas nggak akan bisa didapat dari buku, dari orang lain, apalagi datang dengan sendirinya. Kemampuan seperti itu hanya bisa didapat kalau kita melatihnya.. melatih diri kita sendiri.

Saya orang yang optimis dan percaya diri. Jadi menurut saya, saya akan selalu bisa menghadapi resiko yang saya hadapi. Walau memang akan terjadi lika-liku, benturan-benturan, saya yakin bisa menghadapi apa yang sudah menjadi pilihan saya. Kalau bahasaku, itu artinya bertanggung-jawab. Semakin kecil resiko yang saya tempuh, semakin kecil pula tanggung jawab saya. And it is bad. Kenapa? Karena dengan begitu, kau nggak ada bedanya dengan anak kecil.. bisa kusebut manja.

.

Sebenarnya, ini pilihan masing-masing untuk mengikuti cara saya apa nggak. Waktu itu saya berlagak sebagai ‘siapa-siapa’ karena saya memang menganggap diri saya sebagai ‘siapa-siapa’. Saya menganggap diri saya sebagai orang yang berani bertanggungjawab dan mengambil resiko. Yang menentukan saya ‘siapa-siapa’ bukanlah orang lain.. tapi diri saya sendiri. Dan saya berani melakukan ini karena saya tau saya memiliki arti. Saya optimis saya akan menjadi ‘siapa-siapa’ untuk diri saya dan orang lain. Dan saya mau menjadi ‘siapa-siapa’ untuk diri saya dan orang lain.

Itulah yang saya pikirkan ketika saya bicara dengannya. Kenapa saya berlaku sampai sejauh ini? Well, mungkin, jauh di lubuk hati.. walau saya membencinya, saya masih memiliki rasa ‘sayang’ terhadapnya. Ada perasaan ingin merubahnya dan nggak mau dia hidup dalam keterpurukan sebagai seorang pesimis. Saya ingin dia tumbuh menjadi orang yang optimis dan percaya diri. Ditambah lagi kepribadian kami mirip.. yang menurutku sangat disayangkan apabila kepribadian itu dikendalikan dengan pola pikir pesimis.

Jatuh? Pasti akan jatuh. Tapi bukan berarti kita harus berhenti berjalan supaya nggak jatuh. Bukan artinya kita harus berjalan selambat mungkin untuk mengurangi resiko jatuh–sudah jalan lambat, masih bisa jatuh pula.. rugi dua kali. Ada masanya kita harus berlari dan berjalan. Dan kita harus membiasakan diri mengambil resiko untuk mengetahui timing yang pas. Ibaratnya, kita harus berani jatuh dulu, baru kita bisa berjalan di jalan yang benar dengan cepat.

.

Oh iya, salah satu alasanku kenapa aku memaksakan pola pikirku padanya adalah karena dia pernah mengatakan kalau dia benci dibilang manja, nggak suka dibilang berkepribadian lemah, dan sebagainya. Pada nyatanya, apa yang dia lakukan dan apa yang dia tunjukkan padaku menggambarkan apa yang dia benci. Mencari resiko paling kecil bukan berhati-hati.. tapi itu manja dan berkepribadian lemah. Berhati-hati nggak bisa dilakukan di awal sebelum melangkah memasuki suatu jalur (mau hati-hati sama apa? Berhadapan sama bahaya aja belom). Berhati-hati bisa dilakukan ketika sudah memasuki jalur dan menghadapi resiko.

Oleh karena itu, aku dulu berusaha keras untuk merubahnya supaya dia nggak munafik terhadap dirinya sendiri. Tapi pada nyatanya, dia nggak menginginkan pertolonganku. Entah caraku selalu dipandang salah, entah aku dipandang terlalu keras kepala, entah aku dipandang terlalu tinggi memandang diriku (memang aku memandang tinggi diriku. Kalau bukan aku yang meninggikan diriku, siapa lagi? Aku nggak sudi direndahkan dan diinjak-injak), entah apa yang dia inginkan. Yang pasti, I’m out. I’m done trying. I’m not giving up.. I just simply dont want to waste my time and energy on this kid.

.

Itu yang seharusnya kukatakan. Tapi pada nyatanya, aku masih berusaha.. postingan ini buktinya. Hahaha..

Ciao!

ps: Saya bukan penganut ‘hati-hati sebelum melangkah’. Saya penganut ‘hati-hati ketika berhadapan dengan masalah’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s