Yo, udah lama nggak ngepost. Balik-balik ke blog views udah 11 ribu aja. Hahaha.. (yaah, walau kebanyakan cuma datang untuk baca cerita gigolo buatanku. *sedih*)

Anyway, ada beberapa hal yang mau kuceritakan di sini. Alasan kenapa aku jadi jarang ngeblog, kenapa jumlah tweetku per hari menurun drastis, dan kenapa aku kalo ngomong akhir-akhir ini jadi ngawur dan penuh emosi. Walau nggak penting-penting amat buat pembaca kritis di luar sana, tapi saya akan tetap berbagi. Mari kita tetap berbagi walau annoying. HIDUP CURHAT!!!

Oke, ada beberapa alasan kenapa aku jadi jarang nongol. Kalopun nongol, cuma ngobrol sama Tante #1 di fesbuk.. selain itu? Udah, cuma mandangin twitter dan blog yang viewsnya makin meningkat. Salah satu penyebabnya adalah depressi. Aku menyadari kalau aku mengalami depressi salah satunya karena waktu tidurku bertambah, kehilangan nafsu makan, lebih suka di luar rumah daripada di dalam (gampang kesepian), dan daya juangku menurun. Alasan (kira-kira) kenapa aku bisa depressi juga bervariasi.. tapi untuk alasan utamanya, aku nggak bisa bilang. Hehehe..

Beberapa faktor yang bikin aku makin depressi adalah ngeliat nilai yang terjun bebas, kegiatan kuliah, kegiatan organisasi, dan libur panjang. Untuk yang terakhir emang kedengeran aneh.. tapi emang aku kalau liburnya kepanjangan bisa badmood. Tapi baru kali ini aku libur panjang bisa jadi depressi. Mungkin depressinya sebenernya udah ada dari sebelum libur. Nggak tau juga.

Kalau boleh jujur, yang menyadarkan aku akan ‘fenomena depressi’ ini adalah munculnya keinginan untuk bunuh diri. Aku sempat berpikir untuk loncat dari gedung kampusku, sempat kepikiran untuk minum racun, dan sempat kepikiran untuk menyayat nadi sampai kehabisan darah. Awalnya aku pikir ini cuma pikiran spontan sebagai bahan candaan. Tapi lama-lama, aku benar-benar merasa ingin melakukannya. Ucapan ini juga sempat terlontar ke teman-temanku, tapi kebanyakan menganggap aku lagi bercanda (karena aku juga mengucapkannya dengan nada canda).

Begitu aku sadar tentang apa yang kurasakan, akupun cerita ke orang yang selalu denger curhatanku.. Kai. Aku cerita ke Kai soal aku yang mendadak punya perasaan buat bunuh diri, minatku untuk belajar turun drastis, aku berubah jadi pesimis, dll. Dia pun juga kaget mendengar apa yang kukatakan dan malah jadi khawatir kalau aku ngapa-ngapain. Sampai akhirnya minggu kemarin Kai minta cuti kerja cuma buat gantiin aku kuliah. Kami sampai berantem karena permintaan dia terlalu aneh.

Sebelum pertengkaran itu, Kai sempat menyarankan aku untuk melakukan berbagai hal. Mulai dari mengalihkan perhatian dengan menenggelamkan diri di banyak kegiatan sampai makan makanan yang bisa mengurangi stress. Hasilnya nihil. Akupun mulai mengatasi depressi ini dengan rokok. Rokok yang tadinya rokok putih, berubah jadi kretek non-filter. Harapannya ngisep kretek cuma satu: tau-tau dapet ide buat ngeblog sebagai bentuk kegiatan pengalih perhatian. Tapi, tetep aja, nihil.

Puncak depressi ini adalah malam Sabtu kemaren. Di malam itu, aku meledak. Aku marah-marah, banting kursi, nonjok dinding, dan segala hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Kai cerita malam itu aku begitu mengerikan sampai-sampai Dokter aja diam karena kubentak. Aku nggak begitu ingat apa-apa karena mataku gelap pas marah-marah.

Begitu selesai marah, aku terduduk lemas di kamar, di depan laptop. Aku sempat terdiam, merenung, mengingat-ngingat apa yang barusan kulakukan. Aku nggak ingat apa yang kukatakan, tapi aku ingat wajah Dokter dan Kai yang kicep ngeliat aku marah-marah. Yang paling epik cuma satu: aku ngebentak Dokter. Iya, Dokter yang super creepy itu bisa diem karena kubentak. Waktu itu aku berpikir, “Semoga aku nggak diotopsi gratis sama dia“.

Nggak berapa lama, aku tidur dan bangun dengan perasaan yang sangat amat lega. Rasanya plong, kepalaku ringan, dadaku nggak sesak lagi, aku semangat lagi ke kampus walau agak males-malesan nginget dosen yang rese.. Begitu sampai di kampus, aku sadar akan satu hal: aku udah nggak depressi lagi. Entah apa hubungan marah-marah itu dengan depressi, tapi setelah aku ngamuk-ngamuk, aku jadi lega.

Apa yang kukatakan? Aku nggak ingat. Yang pasti, di masa-masa ngamuk itu aku mengeluarkan seluruh isi hati dan pikiranku sampai bisa selega ini. Hahaha..

.

Sekarang aku kembali lagi jadi kayak dulu. Semangat lagi ke kampus walau dosennya killer, optimis lagi, dan bisa senyum lagi. 🙂

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s