Comfort zone.. siapa yang nggak tau makna dari comfort zone? Pasti tau lah ya. Comfort zone artinya ‘zona nyaman’. Kalau di kehidupan, zona nyaman mungkin bisa dilihat dari kondisi ekonomi yang stabil, dimana setiap kegiatan atau up coming event di dalam hidup sudah terprediksi dan sudah pernah dilalui sehingga hasilnya juga mudah diprediksi.

Setiap orang memiliki Comfort-zone nya masing-masing yang artinya zona nyaman seseorang belum tentu dipandang nyaman oleh orang lain. Umumnya, terlalu lama berada di dalam comfort zone tidak baik. Setiap orang juga memiliki durasi masing-masing untuk berdiam diri di dalam comfort zone. Tapi umumnya, semakin lama berada di zona nyaman, akan semakin buruk.

Tubuhku memiliki alarm tersendiri yang memberitau diriku kalau aku sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Entah tanda-tanda ini sama untuk setiap orang atau nggak, tapi berikut tanda-tanda yang kurasakan: mudah bosan, timbul rasa malas, merasa hidup begitu dull, semangat hidup menurun, insting menumpul, hingga berujung pada badmood dan depressi. Inilah tanda-tanda yang kurasakan kalau aku sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Dan hal-hal inilah yang mulai kurasakan akhir-akhir ini.

.

Kenapa aku menulis tentang comfort zone ini? Well, karena beberapa waktu yang lalu Kai bertanya padaku tentang rencanaku di masa depan. Karena dia akan menikah dan tinggal bersama pacarnya entah dimana, dia pun akhirnya menanyakan tentang rencanaku (mungkin kita bisa sejalan nantinya). Lalu, aku katakanlah rencana-rencanaku di masa depan. Dimana aku akan bekerja, dimana aku akan tinggal, apa yang akan aku lakukan, kapan aku menikah, dan segala macamnya.

Rencananya di masa depan aku ingin pindah dari rumah ini dan mencari tempat tinggal sendiri. Karena aku ingin tetap tinggal di Jakarta (karena pulang ke Jepang rasanya sudah mustahil), maka aku akan memilih rumah vertikal. Dengan keadaan ekonomi yang pastinya akan pas-pasan karena baru bekerja, jadi aku ingin membeli apartemen 2 kamar tidur 1 kamar mandi dengan harga yang murah (karena menyewa rasanya terlalu berat). Dan untuk memudahkan pembelian tempat tinggal, enaknya kalau aku belinya patungan dengan teman. Untuk menikah, aku masih belum ada rencana sampai umur 30 nanti.

Mendengar rencana ini, Kai jadi bingung dan bertanya balik seputar rencanaku: “Kenapa pindah ke tempat yang lebih kecil sementara rumah ini jauh lebih besar dan nyaman?“, “Kenapa harus repot-repot mencari rumah baru kalau belum ada rencana menikah sampai umur 30 nanti?“, dll dst dsb.

Berdasarkan pertanyaan ini, kujelaskan padanya tentang zona nyaman.

Saat ini, aku sedang berada di zona nyaman. Apapun yang aku butuhkan tersedia dan bisa kudapatkan tanpa usaha keras. Karena segalanya menjadi mudah, instingku menumpul dan aku berubah jadi pemalas. Mimpi-mimpi besarku hilang entah kemana karena aku merasa segalanya sudah ada di depan mata. Dan karena sifatku yang mudah bosan dan harus selalu ditantang, maka aku berubah jadi lebih sensitif dan mudah marah.

Setelah kejadian terakhir, aku merasa diriku sebagai ‘a big loser‘ dimana aku menjadi seorang pemalas akut dan tidak memiliki mimpi apapun. Aku benar-benar pemalas.. bahkan untuk menulis blogpun, aku sampai malas berpikir. Untuk kuliah, aku jadi malas dan suka mengeluh. Sifat-sifat yang paling kubenci lambat laun mulai bermunculan and I wondered why. Setelah kuteliti, rupanya aku sudah terlalu lama berada di dalam zona nyaman dan aku ingin segera keluar dari sini.

Apa yang bisa membuatku keluar dari zona ini? Pertaman aku harus membuat kebutuhan atau keinginan (mimpi) baru yang membutuhkan usaha untuk mendapatkannya. Tapi, tidak berhasil karena aku masih terjebak dengan sifat malasku. Lalu aku beralih dengan melihat ke cermin dan mengatakan kalau aku manusia pemalas.. intinya, memaki-maki diriku di depan cermin sebagai pecut untuk diri sendiri. Tapi, aku malah semakin terpuruk.

Kemarin-kemarin, aku lupa akan hal-hal yang membuatku semakin merasa hidup, yaitu teman-temanku. Karena kemarin aku libur sampai sebulan, aku jadi jarang bertemu teman-temanku. Ditambah lagi kelasku dengan beberapa teman sekampusku berbeda.. aku semakin jadi pendiam di kelas. Tapi aku terus mencoba untuk berkumpul dengan teman sebisa mungkin untuk menumbuhkan semangatku.

Untungnya, semangatku mulai tumbuh perlahan-lahan. Aku sudah mulai bermimpi lagi, berusaha lagi, percaya diri, jadi awesome lagi. Dan nggak ada yang lebih menyenangkan dari kembali ke diri yang semula.

.

Memang, segala yang kubutuhkan bisa kudapat dengan mudah, sekarang. Tetapi ini bukan berarti aku harus berdiam diri karena semua sudah stabil. Untuk orang-orang seperti aku (yang sangat suka tantangan dan mudah bosan), ada baiknya untuk selalu keluar dari zona nyaman. Menikmati zona nyaman boleh, tetapi jangan terlalu lama.

Buat yang pingin mencoba keluar dari zona nyamannya sekarang tapi nggak tau caranya, bisa nyoba mencari tantangan-tantangan baru dalam hidup. Tantangan yang kecil-kecil aja dulu.. kayak mencari pekerjaan (kegiatan) di bidang baru, ikut kompetisi, atau bisa juga ikut olahraga ekstreem untuk meningkatkan adrenalin sebelum beralih pada tantangan yang bisa merubah hidup. Intinya sih, mencari hal-hal positif yang baru di dalam hidup.

.

Udah, segitu aja..

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s