Dari kemaren aku ngeliat ada postingan-postingan tentang Suicidal Awareness Day.. atau apalah namanya itu (). Hari kewaspadaan terhadap tindak bunuh diri. Suicidal di sini maksudnya jelas orang-orang yang selalu berpikir untuk bunuh diri karena (umumnya) tekanan sosial atau lebih spesifik lagi, peer pressure.

Kebanyakan orang-orang yang kutau memiliki keinginan untuk bunuh diri biasanya memiliki self-esteem yang sangat rendah. Mereka cenderung menarik diri dari sosial (atau bisa juga jadi sangat menonjol), merasa tidak berharga/berguna, merasa lelah secara batin, dll. Tapi kurasa, nggak semua orang-orang dengan ciri-ciri di atas memiliki keinginan untuk bunuh diri.

.

Aku hidup bersama adik yang sangat suicidal. Kalau ditanya capek apa nggak berhadapan sama dia, jujur, aku capek. Tapi, bukan berarti karena aku capek aku harus mengabaikan dia. Kebanyakan kesalahan orang-orang yang berhadapan dengan orang yang suicidal adalah kurang memiliki kepekaan, kurang memiliki kesabaran, dan sulit menyesuaikan diri dengan kondisi mereka.

Kesabaran memang terbatas. Tapi, menyikapi habisnya kesabaran kita terhadap mereka nggak bisa sembarangan. Mungkin kalau dengan orang biasa, kita bisa menunjukkannya dengan marah-marah, nyuekin, atau menjauhi mereka untuk sementara waktu. Tapi, untuk orang yang suicidal, nggak bisa. Dari apa yang kupelajari selama ini, aku nggak bisa menunjukkan kondisiku yang kesabarannya sudah habis. Jangankan menjauhi, marah-marahpun aku nggak bisa.

Kai orangnya sangat sensitif. Dia sangat sensitif dengan ekspresi wajah orang, nada bicara, perlakuan, dan isi ucapan. Sekali saja ada yang menyinggung atau apa, dia bisa berpikir macam-macam. Aku nggak tau apa semua orang yang suicidal seperti itu apa nggak, tapi aku bakal bicara dengan Kai sebagai objek.

.

Selama aku berhadapan dengan Kai, aku banyak belajar tentang orang yang suicidal; baik dari internet maupun dari buku. Dan setelah sekian tahun aku berusaha menerka-nerka isi pikiran Kai ketika dia sedang mencoba untuk bunuh diri, akhirnya Kai mau membeberkan isi pikirannya. Beberapa minggu yang lalu Kai akhirnya memberitahuku apa saja yang ia pikirkan ketika ia sedang mencoba atau apa saja pikiran yang bisa memicunya untuk bunuh diri.

  • Merasa tidak berguna/tidak dibutuhkan

Salah satu pemicu untuk Kai adalah pikiran dimana ia merasa tidak dibutuhkan atau tidak berguna. Dia bilang, dia mulai merasa begitu ketika dia sedang mencoba melakukan sesuatu yang dia anggap dapat membantu orang lain, tapi pada akhirnya ia malah membuat sesuatu menjadi tambah rumit. Hal lain yang bisa membuatnya berpikiran demikian adalah ucapan ‘dasar nggak berguna’ atau ‘dasar sampah’ dari orang lain.. bahkan yang nggak ia kenal sekalipun.

  • Merasa tidak berharga/tidak dihargai

Kai sering merasa tidak berharga atau tidak dihargai. Pemicu pikiran ini biasanya karena ada beberapa orang yang mimiknya seperti melecehkan dirinya, karena dia tidak didengarkan, dll. Kai bilang, hal yang lebih cepat memicunya untuk melakukan percobaan bunuh diri adalah pikiran dimana ia tidak dihargai atau merasa tidak berharga.

  • Merasa sendirian

Salah satu faktor umum yang sering memicu orang lain untuk bunuh diri adalah rasa kesepian. Rasa kesepian yang Kai rasakan biasanya ketika ia merasa tidak memiliki orang lain untuk dicurhatin. Setertutup-tertutupnya orang, pasti mereka memiliki keinginan untuk menceritakan rahasia atau kehidupan mereka kepada seseorang. Tapi seseorang itu nggak sembarangan, orang yang menjadi pendengar adalah orang yang bisa dipercaya. Dipercaya dalam hal apa? Mungkin, dalam menjaga kerahasiaan ceritanya, atau mungkin juga mereka ingin si pendengar nggak men-judge mereka membabi buta karena isi pikiran mereka yang cenderung ekstrim.

.

Banyak orang yang terbelenggu dalam kesendirian. Ada yang bisa menyikapi kesendirian dengan online, ada yang dengan mencari kehidupan malam, ada yang dengan narkoba, ada juga yang dengan tindakan suicidal. Setiap orang butuh didengar dan cukup banyak pula orang yang memiliki inisiatif untuk mendengar. Sayangnya, sebagian besar dari orang-orang itu nggak memiliki kualifikasi untuk menjadi pendengar yang baik.

Nggak bisa disalahkan juga.. setiap orang punya masalah masing-masing.

Untuk yang punya teman yang selalu memiliki keinginan untuk bunuh diri, aku punya beberapa tips yang bisa dipakai untuk membantu mereka. Semua tips kudapat dari pengalamanku berhadapan dengan Kai. Jadi mungkin ada yang cocok dengan mereka, ada yang nggak. Boleh dicoba dan boleh langsung dihentikan kalau hasilnya buruk.

  • Jadilah pendengar yang baik.

Mengatakan atau menawarkan diri untuk menjadi pendengar adalah hal yang mudah. Apa susahnya, hanya duduk dan mendengarkan seseorang berceloteh ria di depan kita? Eits, jangan meremehkan profesi ‘pendengar’. Menjadi pendengar nggak semudah yang kalian bayangkan. Ketika kalian menjadi pendengar bagi seseorang, kalian sebenarnya berhadapan dengan masalah orang lain.

Ketika mereka hanya meminta untuk mendengarkan, maka duduk, diam, dan dengarkanlah mereka berceloteh. Ketika mereka meminta saran, duduk, diam, dengarkan mereka sampai habis, lalu jawablah pertanyaan mereka dengan menempatkan diri pada posisi mereka dan sesuai dengan kemampuan mereka. Untuk melakukan ini, jelas kalian harus menjadi sahabat dari si pembicara.. harus tau seluk beluk mereka, latar belakang mereka, dan pola pikir mereka. Kalau nggak, nggak akan nyambung dan saran kalian cuma jadi angin lalu.

  • Jangan paksa mereka berbicara.

Ketika mereka kelihatan ada masalah, tunjukkan perhatian kalian dengan bertanya: “Lagi ada masalah?“, yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, “Mau cerita ke gue?“. Kebanyakan orang pasti langsung menggeleng dan mengatakan kalau mereka baik-baik saja. Kalian boleh bertanya sebanyak tiga kali untuk meyakinkan mereka, apa mereka mau cerita atau nggak. Kalau di pertanyaan ketiga kita masih mendapat jawaban yang sama, maka sebaiknya kita diam dan jangan memaksa mereka untuk berbicara. Apalagi setelah memaksa, kita hanya berkata “Oooh” lalu melengos pergi.

  • Tawarkan badan.

Kebanyakan dari mereka nggak akan mau cerita tentang masalah mereka. Biasanya ada beberapa pemikiran ketika menolak untuk bercerita; merasa ceritanya sepele, takut/malu untuk menceritakannya kepada orang lain, dan tidak sanggup untuk bercerita karena takut menangis atau terlihat lemah. Lebih dari ini, mungkin mereka punya alasan masing-masing yang lebih pribadi.

Untuk keadaan seperti ini, kalian nggak bisa menawarkan telinga. Oleh karena itu, tawarkanlah badan kalian untuk mereka. Kalian bisa menawarkan tubuh dengan menemani mereka bergalau ria, atau ajak mereka ngobrol untuk mengalihkan perhatian mereka sementara dari masalah. Ini adalah hal yang minimal bisa kita lakukan sebagai kenalan mereka.

Selain menemani, kalian bisa menawar lebih.. yaitu menyediakan bahu kalian untuk ditangisi. Nggak banyak orang yang bisa cerita supaya mereka lega, tapi banyak orang yang menangis untuk melegakan hati. Nggak apa-apa mereka nggak mau cerita, asalkan mereka mau menangis. Tapi hal ini juga nggak bisa dipaksakan.. tergantung orangnya bisa menangis di depan orang lain apa nggak. Tawarkan saja kepada mereka untuk menangis.. entah di depan kalian, atau menangis sendirian di kamar mandi. Percaya apa nggak, menangis itu lebih ampuh dari curhat.

Pernah aku mempraktekan kedua hal ini untuk Kai ketika kami baru-baru beranjak dewasa (dimana aku baru dekat dengan Kai setelah sekian lama tinggal bersama). Kai dulu adalah tipe orang yang sangat sangat sangat sangat sulit untuk bercerita. Dia bilang, dia nggak mau cerita karena merasa ceritanya sangat sepele (jadi dia takut di-judge). Karena dia nggak mau cerita, akhirnya aku duduk nemenin dia. Aku kasih dia rokok, dan tau-tau.. dia nangis. Nangis out of nowhere. Berusaha supaya nggak panik, akhirnya dia kutawarin bahuku untuk ditangisi. Dia nggak sempet jawab, udah kupeluk.

Di awal-awal kedekatan kami, Kai nggak pernah cerita apa-apa padaku. Dia cuma nangis dan aku menyediakan bahu untuk ditangisi. Setelah dia puas nangis, dia bakal pergi dan beraktifitas kayak biasa. Terus lama-lama, kami jadi dekat dan dia mulai bisa cerita banyak hal padaku. Padahal dulu modalku cuma bahu, bukan telinga.. dan dia jadi seceria sekarang.

  • Jangan menjanjikan hal yang nggak bisa kau tepati.

Pengalamanku sama Kai yang sensitif, orang-orang seperti dia nggak bisa dijanjikan sesuatu yang nggak bisa kita tepati. Kenapa? Karena rasa kepercayaan mereka tipis. Untuk menjadi dekat dengan orang-orang kayak Kai, kebanyakan mereka mengucap klise yang indah, menjanjikan banyak hal, tapi pada akhirnya janji-janji itu dilanggar dan ucapan-ucapannya hanyalah omong kosong. Untuk mempercayai seseorang, mereka harus meruntuhkan tembok mereka satu per satu. Bagi mereka, berat rasanya untuk mempercayai seseorang. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam berjanji. Sekali mereka kecewa, impactnya sangat besar.

.

Peduli dan kepo itu beda. Jika kalian sudah memiliki rasa-rasa untuk memaksa seseorang untuk bercerita karena penasaran, itu artinya kepo. Kalau kalian menghargai kebungkaman seseorang dan mengganti kontribusi telinga kalian dengan bahu atau kehadiran kalian, berarti kalian peduli. Jangan jadi orang kepo yang seperti itu.. terutama sama orang-orang yang suicidal. Tarohannya nyawa.

.

Oke, segitu aja.. Semoga bermanfaat~

Ciao!

2 thoughts on “Suicide

  1. ”kaii.. Hidup lo sangat berharga T.T lo mungkin Hanya seseorang, tp bagi seseorang lo adalah dunianya.” #maapsotoy haha..
    kyle..sampein slm gw buat kai.. πŸ™‚

    Kai pasti bangga punya brader kayak lo.. πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s