Hari sabtu kemarin aku membeli sebuah novel karya Tere Liye yang berjudul Negeri Di Ujung Tanduk (NDUT). Negeri Di Ujung Tanduk adalah novel sekuel dari Negeri Para Bedebah (NPB). Awalnya aku beli novel Negeri Para Bedebah karena aku tertarik dengan judulnya yang ekstrim dan ilustrasi sampulnya yang sesuai dengan seleraku. Waktu awal baca, karena belum pernah baca karya-karyanya Tere Liye, aku berpikir kalau novel ini hanya akan menceritakan cerita monoton, entah itu tentang ekonomi atau politik, kayak novel-novel yang biasa kubaca. Tapi rupanya, nggak..

Semakin aku membaca novel NPB, semakin menarik ceritanya. Di mana bagian klimaksnya benar-benar diceritakan dengan cara yang sangat bagus.. saking bagusnya, aku sampai nggak napas beberapa detik pas baca adegan-adegan tegangnya. Dan jujur, selepas bagian klimaks, aku langsung lemes gara-gara nggak napas. #serius #iyaIniRancu

Lalu, setelah puas dengan NPB, Sherly memberitauku kalau NPB punya sekuel berjudul Negeri Di Ujung Tanduk, lusanya aku langsung beli novelnya. Dan beberapa malam terakhir ini, aku lagi nyicil baca satu bab-satu bab karena lagi dilanda badai tugas dan UTS. Sampai akhirnya malam kemarin, aku mendapatkan sesuatu yang menarik dari novel NDUT ini.. sama kayak yang kudapatkan pas baca NPB.

Kalau di NPB menceritakan tentang ekonomi, di NDUT Tere Liye menceritakan tentang politik (dari beberapa bab yang kubaca). Which is menarik, untukku, karena ekonomi dan politik itu saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Masing-masing dari mereka nggak bisa jalan sendiri-sendiri. Politik hancur, ekonomi hancur. Ekonomi hancur, politik hancur.

Hal menarik yang kutemukan di novel NDUT ini adalah tentang pasar dan pemasaran. Yaah, aku sih baru ngeh sekarang tentang hal ini juga. Mari kujelaskan apa yang kuanggap menarik.

.

Pasar.. menurut ilmu Ekonomi, pasar adalah sebuah tempat terjadinya transaksi jual-beli yang melibatkan seorang penjual dan pembeli dalam waktu dan tempat tertentu. Secara ilmu Marketing, pasar adalah sekumpulan orang yang memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja, serta keinginan untuk membelanjakannya.

Nah, di novel NDUT, diceritakan bahwa pemilu bisa disamakan dengan sistem pemasaran. Di dalam pemasaran, sebuah produk, jika ingin lebih unggul dari kompetitor, harus memenuhi kebutuhan pasar, memiliki keunikan, atau memiliki harga yang lebih murah dibanding kompetitor. Di dalam pemilu, produk yang dipasarkan adalah manusia dimana mereka nantinya akan dibeli dengan suara untuk menjadi pejabat negara. Tapi hal ini hanya berlaku pada negara-negara demokratis.

Hal ini membuatku berpikir, apa ada satu bidang non-bisnis yang dilakukan tanpa mementingkan sistem pemasaran? Kurasa, bahkan jaman sekarang kita nggak bisa melakukan apa-apa tanpa memikirkan soal bisnis. Hal sesimpel pertemananpun, kita masih memikirkan soal bisnis (kalau anda logis).

Tidak ada orang yang senang dirugikan dan mau dirugikan. Oleh karena itu, di dalam pertemananpun kita membutuhkan skill berbisnis yang bagus. Berbisnis dalam pertemananpun pasti akan kita lakukan meski tanpa sadar. Sistem jual-beli berlaku di sini. Apa yang anda jual akan menarik pembeli yang membutuhkan. Anda menjual keinginan anda untuk mendengar cerita orang lain, maka orang-orang yang butuh didengarkan akan datang kepada kalian. Orang yang punya banyak teman, menurutku, adalah orang yang pintar berbisnis.

Intinya, apapun di dunia ini tidak bisa dijalankan tanpa berbisnis.

.

Sebenernya masih banyak yang mau ditulis. Tapi masih terlalu random, jadi takut topiknya nyamber kemana-mana. Mungkin akan kutulis di lain waktu.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s