Sepanjang hidupku, aku sering denger orang bilang “Ih, dia jahat banget sih!” atau “Gue dijahatin sama dia“. Dan kebanyakan orang-orang yang mengeluh setelah dijahatin, nadanya sedih dan bener-bener serius mengeluh. Dan salah satu jawaban yang membekas dan paling nggak kusuka setelah kukasih saran adalah “Nggak ah. Itu kan jahat“.

I mean.. what the fuck, dude?

Lalu, tadi temanku membacakan broadcast message yang isinya, “Perbuatan jahat bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena orang baik diam aja“. Barulah aku mendapat ide untuk menulis postingan ini.

.

Kebanyakan temanku dijahatin karena memang merekanya diam aja. Aku memang masih toleransi kalau mereka mengeluh setelah berbuat sesuatu atas kejahatan yang mereka dapatkan. Tapi aku nggak terima kalau ada orang yang sok suci yang ujung-ujungnya ‘nggak melawan’, mengeluh demikian. Biasanya sih, orang yang begitu bakal kuacuhkan karena aku udah nggak tertarik atau merasa useless mendengarkan curhatan yang seperti itu.

Sebagian besar orang bakal berpikir aku jahat dengan berpikir dan berlaku demikian. Tapi aku punya alasan pribadi dan menurutku, alasanku ini logis. Jawabanku terhadap keluhan-keluhan itu adalah, “Kalau nggak mau dijahatin, ya jangan diem aja“. Jenis perlawanan yang paling kekanak-kanakan adalah bales jahatin. Tapi kalau kayak gitu, masalah nggak akan selesai-selesai. Makanya kita harus pintar-pintar dalam melawan.

Hal paling sederhana dalam ‘jahat’ yang kumaksud adalah bullying. Bully ada bukan karena mereka brengsek atau nggak dididik, tapi karena yang dibully diam aja. Kalau orang membantahku dengan bilang, “Lo nggak pernah merasakan apa yang kami rasakan“, maka aku bakal membantah balik mentah-mentah. Kata siapa dulu aku nggak pernah dibully? Aku pernah dibully di waktu SD karena kondisi keluargaku yang nggak bener. Dulu aku sempat depressi juga karena merasa dibenci. Aku berusaha untuk jadi baik, tapi tetap dibully. Aku juga sempat merasa kalau mereka yang jahat. Tapi ya, lama-lama aku sadar kalau pemikiranku salah. Aku dibully bukan karena mereka brengsek, tapi karena aku diam aja. Setelah itu, pas dibully, aku mencoba untuk melawan. Memang, dengan sekali melawan, hasilnya belum kelihatan jelas. Tapi setelah dua-tiga kali, mereka langsung berhenti membully.

Tindakan yang dulu kulakukan masih kekanak-kanakan. Begitu mereka mulai membully, langsung kuhajar. Aku kena masalah, diskors, sampai ayahku dipanggil ke sekolah. Tapi aku berusaha untuk nggak mempedulikan peraturan sekolah dan terus melawan. Sampai masuk SMA, aku jadi sering berantem dan diskors. Tapi toh, perjuanganku yang kekanak-kanakan ini membuahkan hasil. Aku nggak dibully lagi sampai saat ini.

Sekarang pun, kalau ada yang mencoba untuk membully, pasti langsung kuhentikan. Cuma caranya nggak sama dengan yang dulu. Kalau ada yang membully, paling kudinginin dan kusinisin. Kalau udah keterlaluan, baru main tinju.

.

Aku nggak bisa menjamin caraku ampuh 100%. Tapi aku bisa menjamin jalan logikaku ampuh: ‘kalau nggak mau dijahatin, jangan diam dan mengeluh‘. Kalau cuma diam, mayat juga bisa.. dan mayat bisa melakukannya lebih baik dari kalian. Kalau nggak mau ditindas, ya melawan. Melawan nggak mesti dengan kekerasan. Setiap orang punya caranya sendiri untuk melawan. Entah kalian bakal melawan kayak gimana.. itu urusan kalian.

Kenapa kusuruh lawan?

Melawan itu bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih dominan dan siapa yang nggak. Melawan itu menunjukkan kalau kita bukan barang yang bisa diperlakukan dengan seenak jidat. Ibarat bilang, “Situ jahatin saya, saya juga bisa jahatin situ“. Melawan itu tindakan yang mempertahankan harga diri. Kalau nggak mau jadi sasaran empuk kejahatan, ya lawan.

.

Banyak orang yang mengatakan untuk melawan. Tapi nggak banyak yang mengerti bagaimana caranya. Untuk melawan dengan cara yang dewasa, kau harus menggunakan otak. Karena kadang orang jahat ada yang bebal, jadi nggak mengerti kalau yang kalian lakukan itu adalah perlawanan. Dan orang jahat itu banyak yang pintar. Jadi kita mesti hati-hati dalam melawan. Kata-kata noraknya sih, “Lawanlah bully dengan cara yang smart“. #TSAH!

Bentuk perlawanan untuk masing-masing bully (orang jahat) nggak selalu sama. Ada yang cuma bisa dilawan dengan kekerasan, ada yang bisa dilawan dengan otak, ada yang bisa dilawan dengan attitude, dll. Tergantung bully-nya. Tapi yang jelas, melawan dengan diam dan mengeluh nggak akan menyelesaikan masalah. Itu cuma menunjukkan kalau kalian adalah sasaran empuk untuk dibully. <-(yang sendirinya suka ngebully orang yang diem-diem aja)

.

Udah, segitu aja pidatonya.. Semoga habis ini nggak ada yang ngeluh lagi. Sesungguhnya, orang-orang tukang ngeluh itu sangatlah annoying.

Ciao!

7 thoughts on “Brengseklah Sebelum Dibrengsekin

    1. I was looking through old comments and start to wonder, “Where the fuck is this guy?”. Kabarnya udah nggak pernah kedengeran.. padahal komen2nya selalu dinanti.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s