2014-04-05 17.21.31

Jadi, Kopikina adalah coffee shop tempat Sherly kerja untuk saat ini. Kopikina ini letaknya di Jl. Abdullah Syafi’ie no.1 (Casablanca), Manggarai Selatan, Tebet, Jakarta, Indonesia. Coffee shop yang terletak di pinggir jalan ini buka mulai dari jam 6 pagi sampai jam 2 pagi, setiap hari. Dan menyediakan 60 biji kopi dari seluruh Indonesia.

IMG_20140322_115646

Foto di atas adalah foto pertama yang kuambil atas kedatanganku yang pertama di Kopikina. Waktu lagi jalan ke sana, aku sempat nyasar karena seorang bocah yang nggak jelas ngasih arahan jalan. Setelah muter balik beberapa kali, akhirnya aku sampai di sana dengan tampang blo’on.

Awalnya kukira Kopikina wujudnya nggak jauh beda dengan Coffee Toffee atau The Coffee Bean, coffee shop keluaran Indonesia. Lalu Sherly bilang, Kopikina tampilannya sederhana dan serasa kayak berada di desa. Bayanganku langsung ke Bumbu Desa atau semacamnya. Tapi begitu aku sampai di sana, rupanya penampakan Kopikina ya kayak di foto di atas.

Furniturnya terlihat sederhana, musiknya Jazz, ada kamera jadul di meja bar, ada buku-buku di atas CD player, tempatnya adem, dan nggak terlihat mewah. Entah kenapa aku nggak terlalu suka sama coffee shop yang tampilannya mewah.. Rasanya jadi canggung kalau datang ke sana, dan jadi berkesan hedon.

Dan untuk perokok sepertiku, Kopikina itu surga. Karena tempatnya merupakan smoking indoors. Hahahaha

.

Waktu aku datang ke sana dan nungguin Sherly kelar shift, aku melirik ke arah jendela Kopikina. Kaca jendelanya tipis dan begitu terekspos keluar. Jadi kalau siang, cahaya mataharinya masuk dan bikin panas yang duduk di meja samping jendela. Tapi, baru sebentar aku mikir begitu, tau-tau ada tukang gorden dateng buat masangin gorden.

20140329_182806

Foto di atas kuambil di hari kedua aku datang ke sana. Kali itu, aku main di sana sampai malam, menikmati hujan yang turun. Dan ternyata, begitu malam menjelang, suasana jadi semakin enak. Kalau kata owner-nya, tampilan Kopikina memang sederhana, tapi dengan memainkan lighting, suasananya jadi terlihat bagus. Dan emang iya.

Kopikina di malam hari
Kopikina di malam hari

.

Secara pribadi, aku suka coffee shop dengan konsep ini. Kayak yang udah kubilang, aku nggak suka coffee shop yang terlihat mewah kayak model The Coffee Bean (mungkin, karena target pasar Kopikina dan The Coffee Bean juga beda, makanya konsepnya pun beda). Buatku, coffee shop dengan konsep macam Kopikina gini lebih terlihat ‘seni’-nya. Soalnya, untukku, seni itu adalah ilmu mengindahkan sesuatu yang sederhana. Jadi, yaa, Kopikina itu adalah keindahan di dalam kesederhanaan.

2014-04-05 16.02.02

Untuk makanan dan minumannya, harganya standard. Nggak kemahalan dan nggak kemurahan juga. Aku kalau duduk-duduk di coffee shop juga biasanya cuma untuk ngopi, ngerokok, dan ngobrol sama teman. Jadi untukku, uang yang kukeluarkan pas membeli produk Kopikina, itu adalah uang yang kubayarkan untuk suasana yang kunikmati di sana. Dan bagiku, mengeluarkan uang segitu untuk 3 hal di atas, rasanya pas. Hahaha..

.

Waktu aku ke sana kemarin, aku dapat kesempatan juga buat nanya-nanya sama ownernya. Tentang tema Kopikina dan latar belakangnya. Owner nya baik dan sering datang ke Kopikina, katanya Sherly. Tapi ternyata, selain ngurusin cafe, owner juga kerja di tempat lain sebagai Geologist. Kaget juga pas tau ternyata owner-nya adalah Geologist.

Awalnya Kopikina nggak memiliki tema. Proses pembuatan Kopikina yang kutangkap dari mas Angga (ownernya) adalah proses pembuatan tight budget. Maksudnya, pembuatan yang menggunakan uang yang minim. Tapi kurasa, di situlah letak serunya. Proses gimana cara memanfaatkan apa yang ada dan membuatnya menjadi indah. Kalau kata ownernya, dinding Kopikina yang brick expose itu adalah hasil ngelotokin plesteran. Lalu, dia memainkan lighting yang ternyata membuahkan hasil cakep. <-(jatuh cinta sama lightingnya)

2014-04-05 17.33.29

2014-04-05 17.24.45

Di dinding Kopikina banyak banget foto hitam-putih yang dibingkai dan digantung di sana-sini. Waktu kutanya sama Sherly, rupanya itu adalah foto-foto karya ownernya. Which makes me realise why his coffee shop looks so artistic.

Owner
Owner
Selain anak muda, yang datang ke Kopikina juga ada yang 30 ke atas.
Selain anak muda, yang datang ke Kopikina juga ada yang 30 ke atas.
Ngeliat bapak-bapak ini, Kopikina jadi berasa warkop banget.
Ngeliat bapak-bapak ini, Kopikina jadi berasa warkop banget.

.

Sebelum aku menulis review ini, aku mencoba untuk ngajak Bernadeth dan Olga ke sini. Ajakanku ini, selain untuk hangout, juga untuk ngetes komentar-komentarku di atas supaya nggak berlebihan. Tapi nyatanya, kedua temanku ini juga suka dengan suasana Kopikina dengan komentar yang sama. Dua-duanya juga berencana ngerekomendasiin Kopikina ke temannya masing-masing. Hahaha..

.

Sekian aja komentarku tentang Kopikina. Buat yang merasa komentarku subjektif, boleh dicoba dateng ke sana dan ngerasain sendiri suasananya.

Buat yang mau tau lebih tentang Kopikina, bisa dilihat di page Facebook mereka.

Ciao!

4 thoughts on “Kopikina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s