Mendadak aku kepikiran untuk bikin blog tentang jurnal dan surat-menyurat. Nggak, bukan jurnal kayak di Akuntansi. Memang sama-sama berhubungan sama pencatatan, tapi bukan itu maksudku.

Jurnal biasa disebut Diary. Cuma kalo nyebut Diary, kesannya jadi gimana gitu. Apalagi yang nyebutin cowok. Jadi, lebih baik aku sebutnya Jurnal, yang lebih netral dan nggak menjurus pada femininitas. #apaItuFemininitas

Kyle's

.

Well, beberapa hari yang lalu Dokter menyuruhku untuk membeli sebuah buku kosong. Dia bilang, itu adalah buku jurnal yang akan diisi olehnya. Pas lagi ngebeliin, Dokter menyarankanku untuk membelinya juga. Lumayan buat latihan konsentrasi dan latihan konsisten. Maklum lah ya, saya orangnya hiperaktif.. jadi susah konsen.

Akhirnya, aku membeli sebuah buku kosong yang kuanggap enak buat dipake nulis, lalu di hari yang sama, aku mulai menulis jurnal atas kegiatanku sehari-hari. Buku itu dibeli pada tanggal 1 April, barengan sama bukunya Dokter. Di awal bulan, aku masih bisa mengisi dengan konsisten. Tapi yang kutulis cuma itu-itu aja.. nggak ada kejadian menarik. Cuma ada rutinitasku sebagai mahasiswa. Lalu, begitu aku mendapatkan sebuah kisah menarik untuk diceritakan, aku langsung berhenti menulis. Kalau nggak salah, terakhir kali aku mengisinya adalah tanggal 5 atau 6 April kemarin. Iya, udah sekitar 10 hari kurang aku nggak mengisinya.

Bukannya aku lupa, tapi aku malas. Entah kenapa, ketika ada kejadian menarik, aku langsung malas menuliskannya. Rasanya tangan pegal karena harus menuliskan rentetan kejadian dan rincian peristiwa yang terjadi di dalam satu hari penuh. Ngebayanginnya aja udah bikin tangan cenat-cenut kayak lagunya Sm*sh. Jadi.. sampai sekarang aku nggak nulis lagi.

Padahal, di tanggal-tanggal sebelumnya, aku mengeluh karena nggak ada kejadian menarik untuk ditulis. Tapi sekalinya ada, aku malah males. Salah satu kejadian menarik yang nggak kutulis adalah tanggal 9 April kemaren dimana aku dan Duo Tante Binal pada ngebolang ke Bogor. Itu kejadian yang menarik, menurutku. Kejadian di luar rutinitasku sebagai mahasiswa dan sebagai brondong sejati. Tapi ya.. itu.. rasanya malas kalau harus menuliskan rentetan kejadian secara rinci.

.

Sementara aku malas-malasan menulis, Dokter justru rajin banget mengisi jurnalnya. Jurnal yang kubeli langsung diisi dengan tulisan dewa-nya dia. Tulisan sambung ala bangsawan Inggris abad 17-an. Cakep banget itu tulisan.. bikin minder, kalau kata Kai.

Aku sempat tanya sama Dokter kenapa dia bisa serajin itu mengisi jurnal. Aku udah memperkenalkan sistem blog sama dia supaya nggak usah repot-repot mencatat kegiatan sehari-hari di atas selembar kertas. Terus dia bilang, “Kyle, apa yang hilang dari generasimu adalah tradisi menulis. Semua tergantikan dengan teknologi. Mau menulis jurnal, sudah ada blog. Mau menulis surat, sudah ada email. Jadi, segala sesuatu yang ada pada generasimu sangat instan. Sementara di generasi saya, semua serba manual dan membutuhkan perjuangan untuk menyelesaikannya. Terima kasih sudah memperkenalkan blog kepada saya, tetapi saya ingin melanjutkan tradisi menulis saya.” gitu katanya.

Aku, sebagai pemuda yang datang di satu generasi di bawah dia, jadi minder ngeliat Dokter yang masih suka menulis jurnal. Dan bukan cuma jurnal yang dia tulis.. tapi juga surat. Saking nggak ada yang bisa disuratin sama dia, dia sampai menitipkan surat padaku buat Glo dan Sherly. Buat postingan soal suratnya Dokter bisa dilihat di blognya Sherly. Isinya apa? Aku juga nggak tau sampai sekarang. Tapi palingan nggak lebih dari surat bapak-bapak yang mengayomi anaknya, sih. Hahaha

Alhasil, tulisannya Dokter itu benar-benar rapi dan cakep banget. Mungkin karena tulisan mereka akan dibaca oleh orang lain, makanya mereka bikin tulisan yang sebagus mungkin. Atau bisa juga tulisannya jadi bagus karena rajin menulis. Either way, aku tetap kagum sama tulisannya Dokter yang maha dewa itu.

.

Selain itu, aku jadi takjub sendiri mendengar jawaban demikian dari Dokter pas kuperkenalkan tentang blog. Aku juga baru kepikiran kalau jaman sekarang, semua serba instan. Mau bikin jurnal, tinggal ketik di blog. Kalau ada yang salah, tinggal neken tombol ‘delete’.. nggak pake tip-x, nggak pake penghapus. Terus kalau mau bikin surat, tinggal kirim email. Asal tau alamat email, udah bisa kirim. Kalau jaman dulu, mereka harus bikin surat dengan tulisan yang rapi supaya bisa dibaca sama penerima, harus diamplopin (sekarang mah, pas nerima amplop, berharap isinya duit mulu), harus ditempelin prangko, harus nunggu berhari-hari sampai dapat balesannya.

Jaman sekarang, semua serba instan. Dan kurasa, karena dunia yang serba instan ini pula makanya daya juang anak-anak muda di seluruh dunia jadi menurun. Karena udah kebiasaan hidup enak, makanya pas ketemu yang susah jadi menyerah. Padahal awalnya inovasi-inovasi ini dibuat untuk memudahkan dan supaya efisien. Tapi, sama kayak obat, inovasi punya efek samping. Efek sampingnya ya munculnya generasi-generasi yang nggak terbiasa dengan perjuangan dan kesabaran.

Menunggu balasan surat dan menulis jurnal itu membutuhkan kesabaran, loh. Coba, jaman sekarang kalau pacarnya nggak jawab chat-nya dengan kilat, kita udah bete. Padahal cuma telat beberapa menit. Gimana kalau mereka ditempatkan di jaman dahulu? Dimana buat menerima balasan surat, kita harus menunggu setidaknya 3 hari sampai seminggu. Mungkin sekali sampe, surat yang kita terima ada bejibun.. dengan isi yang nggak jauh-jauh dari keluhan manja sang pacar: “Kamu udah makan, belum?“, “Kamu lagi apa?“, “Kok kamu lama balesnya sih?“, “Kamu lagi dimana? Jawab A.S.A.P, ya..“, “IH!! KAMU BALESNYA LAMA BANGET. KAMU SELINGKUH YA?!?!“.

.

Jaman sekarang semua serba instan. Ada baiknya kalau budaya membuat jurnal dan menulis surat dilestarikan. Budaya sabar dengan menunggu balasan surat, budaya ketekunan dengan rutinitas menulis jurnal. Budaya menulis.. budaya menggoreskan pena, bukan menekan tombol. Budaya leluhur yang terlupakan.

.

Udah, segitu dulu..

Ciao!

2 thoughts on “Jurnal Dan Surat-menyurat

  1. Soal surat menyurat, eke belum sempet nyeritain tentang surat dari kalian. Mau banget dimasukin ke blog nanti. Terus kemaren ada kejadian lucu yaitu kakak gw dapet surat dari muridnya yang baru duduk di bangku TK B. Isi suratnya gini:

    Miss Lening lagi ngapain? _________
    Aku lagi santai santai aja kok. _______________ (gak ada yg nanya dia jawab sendiri –‘)
    Aku kangen miss Lening ______________

    Udah, cuma segitu isi suratnya. Padahal mereka KETEMU SETIAP HARI. Hhahahaha

    lucu tapi menyentuh kalbu :3

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s