Akhir-akhir ini kebrengsekan saya meningkat sehingga mampu menciptakan phrase seperti judul blog ini. Orang-orang bilang, sirik tanda tak mampu. Lalu, apa yang menandakan seseorang itu mampu? Jawaban bego saya adalah ‘sombong’. Iya, di kamus saya, sombong adalah tanda mampu. Kan capek dicap nggak mampu terus.

.

Berikut ini adalah klasifikasi sombong menurut kamus saya:

Kingdom: Sifatius

Phyllum: Negativium

Classis: Sombongeae

Ordo: Sombongeae bangetes

Sombong itu sah-sah aja kalau Si Sombong mengesahkan. Dan sombong itu ada dua jenis: Sombong atas milik orang lain dan sombong atas milik sendiri. Sombong atas milik orang lain jelas adalah hal yang paling menyebalkan. Contohnya, anak yang sombong atas kekuasaan orang tuanya, sombong atas harta orang tuanya, dll. Dalam Perkumpulan Manusia Sombong (PMS), sombong yang seperti ini adalah sombong familia paling rendah, sesuai dengan kekuatan dalam pertahanan dirinya.

Sombong yang saya maksud di blog ini adalah sombong atas milik sendiri. Banyak orang yang akan kontra dengan apa yang akan saya tulis, karena memang moral saya selalu lawan arus.

.

Bagi saya, sombong itu adalah suatu hal yang penting. Selain untuk membanggakan diri sendiri, hal ini juga saya gunakan untuk menjual diri saya kepada publik. Kalau di bahasa Akuntansi, sombong jenis ini adalah sombong yang bisa dikategorikan sebagai pelaporan aset.

Banyak orang yang merasa mereka harus merendah ketika membahas tentang dirinya sendiri. Tapi saya merasa nggak harus merendah karena hal yang sudah saya sebutkan tadi. Yeah, I’m an obnoxious little bitch.

Orang bilang, kalau memang benar-benar bisa/keren/etc, pasti lama kelamaan orang lain akan melihat hasil kerja kita. Tapi, jaman sekarang, dimana 24 jam dalam sehari tidak cukup, dimana orang-orang sudah tidak memiliki waktu untuk berhenti dan melirik, diam saja sambil menunggu di-notice akan memakan waktu yang sangat amat lama. Mungkin kita keburu mati sebelum di-notice. Makanya, daripada saya keburu mati sebelum diri saya terjual, lebih baik saya menawarkannya kepada mereka. Semacam pasang iklan.

Banyak yang mengartikan ‘sombong’ di sini adalah merendahkan orang lain. Perlu saya klarifikasi, bahwa sombong yang saya maksud adalah ‘menjual’ diri. Sombong yang saya katakan adalah menjelaskan apa keahlian kita, menarik perhatian orang lain, atau apalah you name it. Oleh karena itu saya bilang, sombong atas milik sendiri itu perlu.

.

Ada banyak orang yang memilih untuk menjadi ‘diam-diam menghanyutkan’ dan ada yang memilih untuk menjadi seperti saya. Mana yang lebih baik? Penilaian subjektif saya, jelas menjadi seperti saya.

Seperti yang kukatakan tadi, dunia tidak memiliki banyak waktu. Bahkan, 24 jam dalam sehari dianggap kurang untuk melakukan segala aktifitas. Dalam dunia yang semakin sibuk, tidak ada orang yang mau berhenti sejenak untuk melirik manusia-manusia baru dengan kemampuan yang sesuai standard atau melebihi standard. Makanya, orang yang diam-diam saja tidak akan mendapatkan perhatian sebanyak orang yang menyeruak dan memberikan boom effect kepada orang lain. Dengan kata lain, orang yang diam-diam saja akan memakan waktu lama untuk terjual, sedangkan orang-orang yang menyodorkan hasil kerjanya akan lebih cepat terjual.

Analogikan saja pada produk minuman. Ada minuman A dan ada minuman B. Minuman A menjual produknya tanpa advertisement atau iklan. Mereka hanya memajang produk mereka di rak supermarket atau minimarket. Sedangkan minuman B menjual produknya dengan mengeluarkan advertisement.. entah itu di TV, media cetak, billboard, atau apapun. Kalau kalian menjadi konsumen, mana yang akan anda beli? Minuman yang selalu muncul di media, atau minuman yang tau-tau ada di rak supermarket? Rasanya sama-sama enak.. tapi, mana yang akan kalian beli?

Secara praktek, orang-orang jelas akan membeli produk minuman B yang sudah mengeluarkan iklan dimana-mana. Budget yang mereka keluarkan untuk memasang iklan aja udah besar, masa membiayai produk mereka untuk lebih berkualitas aja nggak bisa? Iklan-iklan yang dipasang minuman B bukan cuma untuk mencari perhatian, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk mereka.

Sama hal nya dengan sombong yang saya jelaskan. Siapa yang mau memilih ‘no body’ untuk diajak bekerja sama? Siapa yang mau memilih orang nggak jelas untuk diajak kerja sama? Siapa yang akan dipilih, orang yang menghabiskan waktu dengan merendah atau orang yang langsung mengatakan ‘saya bisa mengerjakannya’?

.

Bukannya aku nggak suka dengan orang yang merendah. Tapi di dunia nyata, nggak ada orang yang memiliki waktu untuk basa-basi. Kalau ditawarkan harus segera mengatakan ya atau tidak. Hasil akhirnya bagaimana, itu tergantung dari setiap individu. Kalau aku biasanya mengerjakan pekerjaan sesuai tanggung jawab. Kalau saya bilang hasil pekerjaan yang saya kerjakan pasti memuaskan, ya saya akan berusaha sekeras mungkin untuk menghasilkan kerjaan yang memuaskan.

Sirik tanda tak mampu, sombong tanda mampu.

Penjualan anda tergantung bagaimana anda menjualnya.

Mana yang lebih baik, it’s up to you.

.

Sekian~

Ciao!

ps: Maaf, aku ngomongnya kayaknya terlalu bertele-tele..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s