Sudah dua orang yang kukenal mengeluh tentang jati diri mereka. Kasusnya sama kayak Glo, keduanya sama-sama lagi krisis jati diri. Sama-sama lagi mencari apa yang menjadi passion mereka, sehingga menggambarkan apa yang akan mereka lakukan di kemudian hari.

Entah memang krisis jati diri lagi jadi trend atau apa, tapi cukup banyak orang yang mengalami krisis jati diri. Umumnya mereka yang berpikiran jauh ke depan, atau yang memikirkan masa depan. Aku dan Sherly mungkin termasuk salah dua dari yang nggak mengalami krisis jati diri. Sherly sudah berada di jurusan yang sesuai dengan keinginannya, serta kerja di bidang kesukaannya (koki). Sedangkan aku lagi berada di jurusan yang sangat baru untukku.. dan untungnya, aku memiliki ketertarikan tinggi dalam bidang Ekonomi dan Politik. Jadinya, aku nggak salah jurusan amat.

.

Karena aku suka nggak tahan lihat orang terbelenggu di dalam masalah berlama-lama dan karena aku hanya bisa memberi contoh mengenai diriku (karena aku tau seluk-beluk kehidupanku), maka aku akan memberi contoh dan saran sesuai dengan apa yang kupikirkan dan apa yang kualami.

Salah satu keluhan yang kuingat adalah “Aku suka banyak hal, tapi aku mau fokus. Jadi, inilah yang bikin aku pusing“, kira-kira begitu. Aku kurang lebih memiliki banyak minat kayak yang curhat ini. Aku suka segala hal kayak seni, sains, bahasa, politik, bisnis, dll. Aku suka terlalu banyak hal sehingga aku sendiri juga sempat bingung apa yang akan kulakukan di kemudian hari.

Tapi, seperti biasa, ketika aku bingung, aku berhenti bingung dan menjadi awesome (#pengikutSetiaBarneyStinson). Aku mengatakan pada diriku, “Aku bersyukur aku memiliki banyak minat. Sehingga di kemudian hari, aku bisa menjadi apapun yang kumau dan bisa melakukan apa saja yang dibutuhkan orang lain“. Kira-kira begitu.

.

Sebenarnya, apa yang membuat orang jadi stress akan jati dirinya adalah keterbatasan. Orang yang stress adalah orang yang tertekan, orang yang nggak bebas. Ketidakbebasan ini diakibatkan oleh adanya tanggung jawab, pendapat publik yang memukul rata setiap orang, dan yang lebih fatal, pemikiran atau pendapat pribadi tentang dirinya sendiri. Aku tau dan mengerti karena aku pernah mengalaminya.

Aku ambil contoh Glo.

Dia stress dan mengalami krisis jati diri karena merasa berada di lingkungan yang salah. Tetapi di lain sisi, dia nggak bisa keluar dari lingkungan tersebut karena terbelenggu tanggung jawab terhadap orang yang sudah berusaha untuk memasukannya ke perusahaan tempat dia kerja sekarang. Selain itu, mencari pekerjaan nggak segampang membalikkan telapak tangan. Dan dengan usianya yang sudah menyentuh 22 tahun, tanggung jawabnya sebagai seorang sarjana adalah untuk mencari pekerjaan dan mendapat income.

Kalau memang nggak terbelenggu tanggung jawab, mungkin kita bisa dengan mudah resign dan mencari pekerjaan lain yang dirasa cocok dengan diri kita. Tetapi, dengan keadaan Glo yang seperti ini, nggak ada jalan lain selain menikmati apa yang sudah didapat. Dengan kata lain, merubah pola pikir kita.

Kebanyakan orang hanya tau ‘do what you love‘, tapi nggak banyak orang yang tau ‘love what you do‘. Sehingga, nggak heran kalau banyak orang yang stress dan luntang-lantung mencari pekerjaan yang sesuai dengan selera. Daripada repot-repot begitu, bagaimana kalau merubah pola pikir dengan mencoba mencintai apa yang sedang kita lakukan/kerjakan? Setiap waktu, setiap tempat, setiap saat, pasti ada pelajaran berharga yang bisa diambil. Cara yang paling enak merubah sesuatu yang ‘kurang sreg’ menjadi ‘sreg’ adalah dengan mencoba mempelajari apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Setelah tau apa yang sedang terjadi, cobalah untuk berbaur/fit in. Lalu, cobalah untuk mencintai apa yang sudah kalian lakukan selama ini.

Contoh sederhana keberhasilan teori itu terjadi padaku. Aku bukanlah orang yang ‘ekonomi’ banget. Aku justru sebaliknya.. aku orang yang IPA banget dan seni banget. Tapi, karena dulu kuliah apapun jadi asalkan kuliah, aku terima-terima aja masuk Akuntansi. Memang, menjalani sesuatu yang nggak kita sukai itu berat. Tapi toh, karena aku nggak ada jalan lain selain ‘merubah pola pikir’, maka aku sebisa mungkin mencintai apa yang sedang kupelajari. Dan sampai sekarang, aku berhasil menyukainya meskipun dunia Akuntansi bukan duniaku.. tapi aku berhasil merubahnya menjadi bagian dari duniaku.

Aku juga merupakan orang yang bebas. Aku dari kecil biasa tinggal sendiri tanpa orang tua. Aku juga bukan orang yang suka mematuhi peraturan, aku pembangkang kelas kakap. Apapun yang dikatakan orang, maka aku akan melakukan sebaliknya. Karena aku percaya aku adalah orang yang bebas, makanya aku nggak membiarkan apapun membelenggu diriku. Tapi, membebaskan diri bukan selalu berarti ‘keluar dari lingkungan’ atau ‘menghindar’. Aku membebaskan diriku dengan cara merubah pola pikir. Aku mati-matian memikirkan cara agar aku bisa menaklukkan dunia Akuntansi (karena aku benci ditaklukkan).

Pola pikirku begini: Aku benci kalah. Aku sangat benci kalah.. aku selalu pingin menang. Menang dari apapun.. termasuk dari takdir atau nasib. Aku nggak suka dikalahkan oleh nasib. Karena aku nggak suka, makanya aku berusaha keras untuk menang. Iya, yang aku lakukan selama ini adalah berusaha mengalahkan nasib. Kalau aku nggak suka dengan kondisiku sekarang, berarti nasib yang menang. Kalau aku berhasil menyukai kondisiku sekarang, artinya aku menang. Sesimpel itu pola pikirku.

.

Seperti yang kubilang, aku adalah orang yang bebas. Oleh karena itu, aku nggak takut akan masa depanku karena aku bisa jadi apa saja yang kumau. Toh, kalau pada akhirnya aku nggak mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan bayanganku, aku bisa merubahnya seenak jidat. Aku sudah berhasil merubah pola pikirku terhadap Akuntansi, kenapa aku nggak bisa melakukan hal yang sama terhadap masa depanku?

Kalau memang kita adalah orang yang benar-benar bebas, seharusnya masa depan nggak membuat kita takut. Justru kita harusnya excited terhadap masa depan. Karena kita tau, nggak ada yang bisa menghalangi kita, nggak ada yang bisa membelenggu diri kita, dan nggak ada yang bisa mengalahkan kita.

Orang yang bebas adalah orang yang rasa percaya dirinya tinggi. Kalau memang kita adalah orang yang bebas, maka kita harus percaya kalau kita bisa menjadi apapun di masa depan. Aku termasuk orang yang begitu. Aku orang yang bebas dan aku nggak suka kalah. *bocah*

.

Oke, segitu aja.. Semoga postingan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan. *manggut-manggut*

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s