Okay, that’s my limit. Dari kemaren denger berita pelecehan seksual terhadap anak, nggak kelar-kelar. Belum ada kasus JIS kelar, udah muncul kasus baru di Aceh. Hasilnya, tangan gatel buat nulis sebuah artikel tentang pelecehan seksual. Tapi artikel yang ini mungkin fokus ke pelecehan seksual terhadap anak.. sesuai dengan topik yang lagi panas saat ini.

.

Denger kasus-kasus yang muncul di TV bikin aku ngeri. Ngebayangin anak kecil yang nggak tau apa-apa sekarang udah nggak memiliki keamanan lagi. Bahkan di dalam sekolah internasional yang penjagaannya ketat gitu. Begitu banyaknya predator seks di luar sana yang pingin banget ku-kebiri satu per satu pakai gunting kuku.

Bergantung sama badan hukum, percuma. Mereka sama useless-nya kayak kaos kaki basah. Dan orang tua nggak mungkin menyembunyikan anaknya di dalam brankas sampai mereka cukup umur untuk dilepas ke dunia luar. Satu-satunya jalan adalah dengan memberikan anak pendidikan seks dari kecil.

Pendidikan seks bukan berarti kita mengajari mereka tentang posisi-posisi erotis ataupun mendukung mereka untuk melakukan seks bebas. Di dalam pendidikan seks bebas, orang tua harus menjelaskan tentang dua alat kelamin manusia. Jelaskan pada mereka bagaimana cara membersihkan alat kelamin mereka dan bagaimana cara menjaganya. Ajarkan pada mereka betapa alat kelamin mereka adalah bagian tubuh yang paling sakral untuk disentuh sembarangan oleh orang lain. Ajarkan pada mereka untuk terbuka dengan orang tua atas apa yang terjadi dengan alat kelamin mereka (misalnya: merasa nyeri, gatal, dsb).

Pendidikan seperti ini sangat dibutuhkan, bukan oleh anak-anak saja, tapi juga orang dewasa. Apalagi dalam situasi dimana banyak sekali pemberitaan pelecehan seksual (khususnya pada anak-anak, untuk saat ini). Dan dalam pengajarannya, orang tua harus bersikap profesional.. dalam artian ‘nggak ada pikiran yang menjurus pada hubungan seks’.

.

Selain mengajarkan anak pada sex education, orang tua juga harus memperhatikan perubahan sikap pada anak. Perubahan sikap biasa terjadi pada korban pelecehan seksual (nggak tergantung umur dan jenis kelamin korban). Umumnya korban pelecehan seksual akan terlihat lebih ketakutan/paranoid, tidak bisa/tidak berani melakukan kontak mata dengan orang lain, terlihat depressi, dan self-esteem menurun drastis. Kasus pada anak-anak akan lebih mudah diketahui karena biasanya mereka akan mimpi buruk dan mengigau. Mereka juga biasanya lebih polos sehingga akan mengadu apabila merasa nyeri di bagian kelamin dan/atau anus.

Kasus pelecehan pada orang yang usianya lebih dewasa (remaja ke atas) akan lebih susah diketahui tanpa memperhatikan perubahan sikap mereka. Mungkin karena korban sudah bisa berpikir lebih logis dan memahami lingkungannya (takut dianggap aib). Korban dengan usia segitu biasanya akan lebih bungkam terhadap kondisinya, sehingga mereka lebih memilih untuk memendam peristiwa menyakitkan itu sendirian.

Justru ini yang lebih bahaya. Ketika seseorang menjadi korban pelecehan dan memilih untuk bungkam, maka efek psikologisnya akan mematikan. Kenapa korban memilih untuk bungkam? Umumnya korban menjadi bungkam karena merasa malu, merasa sudah nggak berharga lagi, merasa menjadi aib.. sehingga ujung-ujungnya mereka jadi suicidal dan akhirnya bunuh diri.

.

Sebagai orang tua dan sebagai orang terdekat dengan korban, sudah seharusnya kita memberi dukungan kepada korban. Dukungan itu bisa berupa perlakuan kita terhadap korban. Buatlah korban merasa nyaman ketika menceritakan kisah pahitnya, dengarkan korban hingga selesai bercerita, kalau perlu, lakukan kontak fisik seperti memeluk atau mengelus punggung korban.

Selain perlakuan, perkataan kita juga harus dijaga. Korban pelecehan seksual itu sangat sangat sangat sangat sangat sangat sensitif. Jadi, sebisa mungkin kita menjaga ucapan kita, baik di depan mereka maupun di belakang mereka. Jangan justru membuat korban jadi semakin terpuruk sehingga memperburuk keadaan psikologisnya.

Di salah satu artikel di internet, aku menemukan 7 kisah survivor pelecehan seksual. Salah satu korban mati-matian memberanikan diri untuk menceritakan keadaannya, tapi ternyata dia justru disuruh bungkam karena dianggap aib dan barang rusak oleh keluarga. Perlu diingat, korban pelecehan seksual itu juga manusia, mereka bukan barang.

Di berita-berita, aku sering mendengar orang tua korban mengatakan “Kesucian anak saya dinodai“. Saranku, sebisa mungkin jangan pernah sekali-sekali mengatakan hal tersebut. Dengan mengatakan kalimat itu, sama saja anda mengatakan kalau anak anda sudah nggak suci lagi. Dan sesuai dengan ajaran lingkungan kita, kesucian itu berbanding lurus dengan harga diri. Dengan mengatakan kalimat tersebut, itu sama saja mengatakan kalau anak anda sudah nggak berharga lagi hanya karena dilecehkan. Gantilah kalimat itu dengan “Anak saya sudah disakiti“. Itu jauh lebih baik.

.

Seperti yang sudah kubilang, korban pelecehan seksual sangat sangat sangat sangat sangat sangat sensitif terhadap apapun. Terhadap perlakuan/attitude, terhadap perkataan, dan terhadap isi pikirannya sendiri. Mereka sudah cukup menderita dengan dilecehkan seperti itu. Jadi, tolong jaga sikap dan perkataan anda di depan mereka. Jangan anggap mereka barang, jangan anggap mereka sebagai aib, dan jangan nikahkan anak anda dengan pelecehnya meskipun korban (perempuan) dibuat hamil. Mereka udah cukup menderita dengan mimpi buruk mereka dengan Si Pelaku, jadi jangan paksa mereka untuk menikah dengan mimpi buruk mereka seumur hidup.

Slogan ‘dukunglah korban pelecehan seksual‘ memang bagus. Tapi kalau nggak tau caranya, yang terjadi pada mereka justru kebalikannya.

.

Udah, segitu aja postingan penuh amarahnya.

Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s