Baru aja aku ngeliat sebuah foto billboard yang isinya begini:

Ini semacam peringatan dimana ada banyak orang yang disalahkan karena memiliki penyakit mental. Penyakit mental yang dimaksud bukan cuma Schizophrenia, tapi juga ada Anorexia Nervosa, Depressi, Bulmia, dan sebagainya. Dan ini cukup menarik perhatianku karena aku juga dekat dengan orang-orang yang memiliki penyakit mental (walau nggak separah Skizo).

Tapi, yang mau kubahas di sini bukanlah penyakitnya, tetapi kenyataan bahwa memiliki penyakit mental sering membuat seseorang malu atas dirinya sendiri. Akhirnya, banyak orang yang memiliki penyakit mental jadi nggak tertolong. Padahal, mereka yang memiliki penyakit mental memiliki hak yang sama untuk berobat seperti orang-orang yang terjangkit Flu atau Typhus. Penyakit mental juga membutuhkan seorang ‘dokter’, yaitu psikolog (therapist) atau bisa juga psikiater (psychiatrist).

Salah satu contoh adalah teman kuliahku. Dia menderita Depressi dari SMA dan banyak tindak-tanduknya yang menarik perhatianku. Kadang dia suka bengong sendiri, kadang juga dia curhat kalau dia merasa nggak berharga atau semacamnya. Aku bilang padanya untuk pergi ke psikolog supaya bisa ditangani. Sayangnya, dia menolak karena mendapat reaksi negatif dari orang tuanya. Reaksi negatifnya kurang lebih kayak, “Ngapain ke psikolog? Emang kamu gila?“.

Mendengar hal itu, aku jadi prihatin. Kulihat, banyak orang Indonesia yang masih belum sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Penyakit mental masih sering dianggap remeh oleh (kebanyakan) keluarga Indonesia, sehingga banyak orang yang memendam masalah (tentang penyakit mental) mereka untuk dirinya sendiri. Ujung-ujungnya, mereka nggak tertolong. Ada yang nggak tertolong karena lari ke narkotika, ada yang melakukan tindak pidana, ada yang bunuh diri.

Yang paling menderita adalah anaknya. Kenapa? Karena secara finansial mereka belum mampu untuk membiayai pengobatan mereka atau dalam kasus ini, konsultasi ke psikolog. Selain itu, mereka juga seharusnya masih berada di bawah pengawasan orang tua, dalam arti lain, apapun yang terjadi pada mereka adalah tanggung jawab orang tua mereka.

Banyak anak yang sudah sadar dengan keadaan mental mereka. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap penyakit mental sebagai hal yang tabu untuk dibahas karena merasa malu untuk konsultasi ke psikolog. Kalau dari pengamatanku, masih banyak orang tua yang merasa malu karena merasa memiliki anggota keluarga yang pergi ke psikolog sama dengan gila, dan memiliki anggota keluarga yang gila dikategorikan sebagai aib. Nah, pemikiran inilah yang ingin kucegah.

Pemikiran kalau ‘ke psikolog berarti adalah orang gila‘ dan ‘memiliki anggota keluarga yang memiliki penyakit mental sama dengan aib‘ harus dihentikan. Penyakit mental bukan hanya gila (Skizofrenia), dan nggak semua yang ke psikolog harus orang yang terkena Skizo. Pergi ke psikolog atau konsultasi ke psikolog sama seperti pergi ke dokter gigi atau konsultasi ke dokter umum. Kalau diibaratkan dengan mesin, pergi ke psikolog sama seperti perawatan mesin.

Seperti yang sudah kubilang, penyakit mental bukan hanya Skizofrenia. Salah satu penyakit mental yang umum ditemui adalah Depressi. Dan apabila Depressi nggak segera ditangani, penderita bisa berujung bunuh diri.

Sebenarnya, kalau yang kulihat, sistem konsultasi ke psikolog nggak jauh beda dengan curhat. Bedanya, psikolog adalah pekerja profesional. Jadi mereka nggak akan dibayar untuk bilang, “Yaah, sabar aja ya” atau “Kamunya begini-begitu-begini-begitu, sih. Makanya jadi Depressi“. Mereka secara profesional akan menangani pasiennya dengan tindakan-tindakan yang didasari analisa dari ‘curhatan’ kita.

.

Nah, jadi, untuk orang tua yang masih berpikiran kalau membahas masalah psikologi adalah hal yang tabu dan membawa anak ke psikolog adalah aib, bisa dipikir dua kali. Kalau masalah psikologi anak dianggap remeh-temeh atau dikesampingkan, yang kasihan adalah anaknya. Karena menjaga kesehatan psikologi sama seperti menjaga kesehatan fisik. Nggak ada salahnya membawa anak untuk konsultasi ke psikolog. Konsultasi dengan rutin lebih bagus (kayak perawatan gigi ke dokter gigi).

Jangan lupa pula, yang membutuhkan konsultasi ke psikolog bukan hanya anak-anak.. orang dewasa juga butuh. Kalau sudah merasakan ada keganjalan pada diri sendiri atau menyadari ada yang ganjil dari tindak-tanduk rekan/saudara/suami/istri, ada baiknya mereka diajak dan ditemani ke psikolog untuk konsultasi.

Seharusnya Kementrian Kesehatan lebih gencar dalam mengedukasi masyarakat dalam pentingnya menjaga kesehatan mental. Edukasi bisa dengan membuat booklet atau pamflet tentang ciri-ciri sebuah penyakit mental, atau prosedur konsultasi ke psikolog atau ke psikiater, atau memberikan alamat-alamat klinik psikologi. Anything helps.

Jangan remehkan penyakit mental. Dan jangan salahkan penderita penyakit mental karena memiliki penyakit mental bukan keinginan mereka juga.

.

Ciao!

4 thoughts on “Jangan Remehkan Penyakit Mental!

  1. Tahun lalu, saya ‘ketemu’ sama orang yang punya penyakit depresi. Dia bilang depresinya itu dateng tiba-tiba. One day you’re happily living your life, then the next thing you know is you’re lying on your bed, staring emptily at the ceiling. Dia pengen berubah, dia pengen bangkit. Saya berusaha bantu dia sebisa saya, tapi pada akhirnya saya nemu jalan buntu juga. Saya suruh dia ke psikolog (saya gak nyaranin psikiater karena saya gak percaya kalo obat bisa nyembuhin dia). Dia awalnya semangat banget denger ide itu. Tapi setelah dia bilang ke ibunya, ibunya malah komentar macem-macem. Ya, karena secara fisik dia keliatan baik-baik aja. Kurangnya motivasi dia buat ngejalanin hidup malah diterjemahin sbg kemalasan. Dibilang males cari temen lah, males cari kerja lah, males kuliah lah. Makin stress lah dibilang kayak gitu. Puncaknya, dia kena gastritis. Coba tebak karena apa… Karena dia terlalu stress mikirin segala macem! It has come to the point where mental illness brings you physical pain. Kalo udah kayak gini, obat apa yang bisa nyembuhin dia? Untungnya dia masih semangat buat sembuh, secara fisik maupun mental. Sekarang dia rutin pergi ke psikolog dan berangsur-angsur membaik. Saya gak tau kapan dia bakal nemuin kebahagiannya lagi, tapi saya yakin dia pasti bisa, selama dia juga yakin kalo dia bisa.

    Serius, deh. Jangan, JANGAN remehin penyakit mental. Baik itu penyakitmu sendiri maupun orang lain. Kalo kamu belum bisa bikin diri kamu sendiri bahagia, coba bahagiain orang lain. Dijamin kamu bakal ikut bahagia kalo kamu ngeliat orang yang kamu bantu bahagia.

    Like

    1. Hal terakhir yang sering saya lakukan. Dibanding mengobati diri sendiri, saya lebih memilih cari orang yang mau curhat, terus saya kasih solusi/saran. Hal ini yang bikin saya lupa sama depressi saya.. Yaah, walau adik saya ngomel2 karena itu bukan jalan yang benar. Saya tetap dipaksa harus ke psikiater/psikolog buat ngatasin depressi saya.

      Like

  2. Saat ini saya ngerasa kalo saya seperti orang depresi kadang saya merasa bahagia banget tapi bisa tiba tiba saya jadi sedih, apa itu termasuk ciri orang depresi ? Tapi saya gak bisa cerita sama orang baik itu sahabat ataupun keluarga, dan saya selalu merasa sendiri.

    Like

    1. Halo, maaf gue baru bales comment nya.

      Untuk hal seperti itu, ada baiknya kamu coba pergi ke psikolog dulu karena menerka-nerka penyakit bisa berakibat fatal (demikian pula dengan mengabaikannya). Kalo dari apa yang kamu ceritain, bisa jadi kamu juga kena gangguan bipolar. Setau gue, manic depressive dan bipolar memiliki ciri khas yang sama, makanya harus ke psikolog untuk memastikan.

      Untuk ke psikolog, karena kamu nggak bisa cerita sama teman atau keluarga, bisa dicoba ke psikolog sendiri (kalo kamu di atas 17 tahun). Tapi kalo kamu masih di bawah 17 tahun, prosedur selalu menuntut agar kamu didampingi sama orang dewasa.

      Sangat disarankan kamu coba ngobrol sama sahabat perlahan-lahan, atau ngobrol dengan kakak (kalo ada). Atau bisa minta tolong ke guru BK atau guru lain yang bisa dipercaya memegang curhatan kamu.

      Jika memang nggak memungkinkan buat kamu ke psikolog, kamu bisa coba kirim email ke gue di kylenasution@yahoo.com supaya gue juga bisa ngasih saran yang tepat.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s