Apa yang terlintas di kepalamu ketika mendengar dua kata itu? Bunuh.. Diri.. Dua kata yang sangat akrab denganku sejak beranjak remaja. Dua kata yang paling kubenci. Dan dua kata yang mampu merubah perspektifku tentang hidup.

.

Kebanyakan orang yang optimis dan realistis memandang ucapan ‘bunuh diri’ adalah sebuah penghinaan terhadap hidup. Kenyataan bahwa di dunia ini masih ada orang yang menginginkan untuk bunuh diri benar-benar membuatku nggak habis pikir. Apa yang sebenarnya membuat mereka ingin berhenti hidup? Kenapa? Apa kalian terlalu pesimis untuk melihat hal-hal indah yang terjadi di dalam hidup? Ada apa dengan kalian?

Yaah, itulah yang kupikirkan tentang Kai sebelum aku mengetahui apa yang dia alami. Di saat itulah aku mulai merubah pandanganku terhadap kedua kata itu. Aku mencoba untuk berhenti jadi orang yang optimis dan berusaha memahami kondisi orang yang ingin bunuh diri.

Hal pertama yang kusadari adalah mereka yang ingin bunuh diri bukannya bosan hidup atau ingin sekali mati. Justru sebaliknya, mereka justru ingin sekali hidup. Sayangnya, kondisi merekalah yang memaksa mereka untuk bunuh diri.

Pertama kali mendekati dan mengetahui apa yang ada di pikiran orang yang ingin bunuh diri sangatlah sulit. Mereka lebih banyak memendam dan memilih untuk nggak bercerita. Hal ini yang nggak dimengerti semua orang optimis dan realist sepertiku. Mereka melakukan sebuah tindakan, tapi begitu ditanya alasannya, mereka lebih memilih bungkam. Sehingga di mata kami, mereka jadi terlihat seperti mencari perhatian. Ujung-ujungnya, mereka justru diabaikan dan dianggap main-main. Bagus kalau mereka memang main-main. Kalau ternyata mereka memang benar ingin mati diam-diam?

Hal kedua yang kusadari adalah mereka terdorong untuk bunuh diri karena mendengar suara-suara di kepala mereka. Entah ini cuma terjadi pada sebagian orang atau semua yang suicidal memang begini. Tapi, itulah yang dikatakan Kai pas kutanya kenapa dia pingin banget bunuh diri. Dia bilang, banyak suara yang menyuruhnya untuk bunuh diri dan memaki-makinya. Ujung-ujungnya, dia nggak tahan dan terdorong buat melukai dirinya sendiri.

.

Dua hal di atas adalah yang (kurasa) paling umum ditemui di dalam diri orang-orang yang suicidal. Orang suicidal itu sebenarnya justru nggak ingin aksinya dilihat orang-orang. Makanya kebanyakan orang yang meninggal karena bunuh diri berada di dalam sebuah tempat yang nggak ada orangnya (tempat dimana dia bisa sendirian). Beda sama orang stress yang benar-benar cuma cari perhatian. Mereka kebanyakan menjalankan aksinya di depan orang banyak. Toh, kalau nggak ada yang memperhatikan, mereka juga nggak akan berani bunuh diri, menurutku.

Aku lama-lama kurang setuju juga dengan orang yang mengabaikan atau orang yang menganggap remeh perilaku suicidal seseorang. Yang sering kutemui sih, mereka sering bilang, “Ya udah, bunuh diri aja. Kayak nggak ada yang lebih penting untuk diurus aja“. Kalau hal ini dikatakan pada orang-orang yang cari perhatian sih, yaa, masih halal lah menurutku. Tapi kalau orang kayak Kai ditimpali ucapan begitu, aku yakin nggak berapa lama kemudian aku pasti dapet berita buruk.

Kebanyakan orang masih susah membedakan mana yang melakukan aksinya untuk cari perhatian aja dan mana yang memang berada di bawah tekanan. Well, kayak yang udah kubilang, orang yang menjadi suicidal cuma untuk cari perhatian biasanya melakukan aksi suicidalnya di depan orang banyak. Kalau yang suicidal beneran, justru mereka sembunyi-sembunyi.

Kadang orang salah membedakan antara keduanya. Yang benar-benar suicidal dianggap cari perhatian, dan yang cari perhatian dianggap suicidal. Jadinya, keduanya tak terselamatkan. Yang suicidal meninggal karena bunuh diri, yang cari perhatian meninggal karena overdosis obat dari psikiater #dor!.

Ada juga yang menganggap keduanya cari perhatian, jadi perlakuan mereka terlihat kasar terhadap orang suicidal. Yang efeknya paling besar adalah terhadap yang benar-benar suicidal. Sudah di-judge cari perhatian, diabaikan begitu saja.

.

Kalau ada orang-orang terdekat kalian yang memiliki ciri-ciri kayak gitu, ada baiknya dideketin. Mungkin pas awal ngobrol, dia nggak akan mau ngasih tau tentang masalahnya, atau dia pura-pura dalam keadaan baik, atau semacamnya. Kuncinya sih, bikin orang itu jadi nyaman. Kalau antara aku dan Kai, aku nggak maksa dia cerita. Yang kuutamakan adalah dia yang mengeluarkan apa yang dia pendam dengan menangis. Sebisa mungkin aku bikin dia merasa nyaman saat menangis; tanpa banyak bicara, memeluk atau mengelus punggungnya, membiarkannya menangis sampai selesai, dll.

Kalau dia udah merasa nyaman menangis di dekat kita, lama-lama dia bakal cerita tentang kegundahannya. Kita, sebagai pendengar, jangan mengecewakan dia. Salah satu hal yang bikin mereka kecewa adalah memotong ceritanya dia, menyelipkan curcolan kita di tengah-tengah ceritanya, men-judge dia, menyalahkan dia, dsb. Sekali kita mengecewakan dia, kita nggak akan mendapatkan kesempatan kedua. Bukan cuma kita, tapi juga orang lain yang juga berniat untuk membantunya.

Kalau menurut kalian orang-orang suicidal mencari perhatian, mungkin iya. In fact, mereka MEMBUTUHKAN perhatian. Karena apa yang mereka butuhkan adalah perhatian, maka berikanlah mereka perhatian. Memberikan perhatian kepada orang itu memang butuh pengorbanan besar. Khususnya pengorbanan ego kita. Sebisa mungkin kita menekan ego dan mengutamakan mereka.

Mereka bukannya manja atau gimana. Tapi ada sesuatu yang terjadi pada mereka sebelumnya yang membuat mereka begini. Ada yang mentalnya dihancurkan orang lain/lingkungannya, ada yang mentalnya dihancurkan oleh orang tuanya/keluarganya sendiri. Yang pasti, kurasa mereka nggak mau jadi begitu, kalau mereka bisa memilih.

.

Cara-cara yang kutulis di atas itu adalah cara yang kusimpulkan dari penanganan Kai. Kalau mau lebih akurat lagi, bisa ditanya sama orangnya langsung tentang keinginannya. Mereka inginnya digimanain, mereka inginnya apa, gitu-gitu. Dan tetep, syarat utamanya adalah MENDENGARKAN. (aku kalau nggak tau mau ngapain, biasanya nanya Kai maunya digimanain; entah dicium, dipeluk, ditemani tidur, dll)

Ciao!

2 thoughts on “Bunuh Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s